Kehidupan
Shahzada Muhammad Azam Mirza terlahir sebagai anak laki-laki pertama Aurangzeb dari permaisurinya, Dilras Banu Begum. Ibunya berdarah Dinasti Safawi, putri Shahnawaz Khan yang sangat disegani di istana Mughal. Azam memiliki empat saudara kandung, tiga kakak perempuan: Zeb-un-Nissa, Zinat-un-Nissa, Zubdat-un-Nissa, dan seorang adik laki-laki: Muhammad Akbar.
Azam tumbuh sebagai pangeran yang bijaksana dan unggul melebihi saudara-saudaranya yang lain. Aurangzeb memosisikannya sebagai teman daripada anak.
Azam menikah untuk pertama kalinya pada usia 15 tahun dengan Rajkumari Ramani Gabharu, putri Swargadeo Jayadhwaj Singh, Raja Ahom. Namanya kemudian diubah menjadi Rahmat Banu Begum.
Pada tahun yang sama, ia diangkat menjadi Subahdar (Gubernur) Berar Subah, Malwa, dan Bengal selepas kematian Azam Khan Koka.
Pernikahan keduanya dengan Shahzadi Jahanzeb Banu Begum, sepupunya dari pihak ayah. Selepas kematian kedua orang tua Jahanzeb, Dara Shikoh dan Nadira, Aurangzeb menyerahkan pengasuhan Jahanzeb pada Jahanara. Pernikahan mereka dilangsungkan tanggal 3 Januari 1669 di kediaman bibinya itu. Azam sangat menyayangi Jahanzeb. Ia memegang posisi tertinggi di antara istri-istrinya yang lain. Putra sulung Azam, Bidar Bakht, lahir pada Agustus 1670. Jahanzeb adalah menantu kesayangan Aurangzeb dan Bidar Bakht juga cucu kesayangan kakeknya. Dalam selang beberapa tahun, ia melahirkan putra-putrinya yang lain: Jawan Bakht, Sikandar Shan, dan kemungkinan Najib-un-Nissa.
Azam bertunangan dengan Iran Dukht Rahmat Banu yang dikenal sebagai Pari Bibi, putri Shaista Khan. Namun pernikahan mereka tidak terlaksana karena kematian mendadak Pari Bibi di Dhaka tahun 1678.
Pada tahun 1681, Azam menikah dengan seorang putri Dinasti Adil Shah, Shahzadi Shahar Banu Begum. Ia putri Ali Adil Shah II, Sultan Bijapur dan Khursida Khanum.
Tahun 1685, Azam diperintahkan Aurangzeb menyerang Bijapur yang ternyata mendukung pemberontakan Sambhaji dan Maratha. Saat itu, Bijapur dipimpin Sikandar Adil Shah, adik Shahar. Kegagalan Azam menaklukkan Benteng Bijapur terpaksa membuat Aurangzeb turun tangan sendiri. Bijapur dapat ditaklukkan Mughal pada 4 September 1686. Akhir tahun itu, putra sulung Azam, Bidar Bakht, menikah dengan Puti Begum (kemudian dikenal sebagai Shams-un-Nissa) dari keluarga Ben-i-Mukhtar yang terhormat.
Jahanzeb meninggal dunia pada tahun 1705, meninggalkan kesedihan mendalam bagi Azam. Selanjutnya, otoritas tertinggi di antara istri-istri Azam dipegang Shahar yang dikenal dengan gelar Padshah Bibi.