Muhammad Ali Al-Tahir (Arab: محمد علي الطاهرcode: ar is deprecated ; 1896–1974) adalah seorang jurnalis dan editor surat kabar Palestina.[1]
Kehidupan awal dan karier
Al-Tahir lahir di Nablus dari ayahnya yang bernama Aref Al-Tahir dan ibu Badieh Kurdieh. Ia merupakan satu dari tujuh bersaudara. Keluarganya termasuk klan Jaradat, yang tersebar di seluruh Palestina bagian utara. Pada masa kecilnya, ia bersekolah di kuttab (sekolah Al-Qur'an) setempat. Namun, ketika ia pindah ke Jaffa, ia sering tidak masuk kelas dan tidak lulus sekolah.[2]
Pada Maret 1912, Al-Tahir pindah ke Mesir, pertama kalinya ia tiba di Bursaid kemudian menetap di Kairo. Pada 1914, Al-Tahir menulis sebuah artikel yang diterbitkan oleh surat kabar yang berbasis di Beirut, Fata Al Arab. Dalam artikelnya, ia memperingatkan tentang sebuah gerakan Zionis yang berniat untuk membangun negara Yahudi di Palestina. Ia juga meramalkan bahwa negara Yahudi tersebut akan disebut dengan Israel. Pada 1915, atas permintaan Inggris yang memegang kendali atas negara tersebut, Al-Tahir ditangkap oleh otoritas Mesir, karena keterlibatannya dalam aktivitas anti-imperialisme. Ia dibebaskan dua tahun kemudian. Al-Tahir tetap melakukan kegiatannya menulis yang menguraikan tentang keluhan-keluhan masyarakat Levant atas pembagian wilayah Kesultanan Utsmaniyah antara Inggris dan Prancis setelah Perang Dunia I dan keluhan atas Deklarasi Balfour yang menyerukan pembentukan negara Yahudi di Palestina. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Al-Tahir membuka kedai di daerah al-Hussein yang dekat dengan Masjid Al-Azhar di Kairo. Ia menjual minyak zaitun yang didatangkan dari Nablus. Secara bertahap, kedai tersebut menjadi tempat pertemuan bagi para nasionalis, baik yang datang dari sekitar Mesir maupun wilayah lain dari dunia Arab.[3]
Pada Oktober 1924,[4] Al-Tahir mendirikan surat kabar Al-Shura di Kairo, sekaligus menjadi pemimpin redaksinya. Pada 1926, Al-Shura dilarang beredar di Mesir yang memicu protes dari kalangan masyarakat Palestina kepada Mesir. Surat kabar tersebut mempromosikan nasionalisme Arab dan perjuangan anti-imperialisme di seluruh Arab dan dunia Islam serta Afrika Sub-Sahara. Surat kabar tersebut memiliki koresponden di negara-negara Arab, Indonesia, Malaysia dan Zanzibar.[4] Setelah diizinkan kembali beredar, surat kabar tersebut dicabut izin edarnya atas perintah Perdana Menteri Ismail Sidqi Pasha pada 1931.[5] Selama tinggal di Mesir, Al-Tahir adalah pendukung kuat sebuah partai nasionalis di Mesir, Partai Wafd.[6] Ia melakukan perjalanan ke seluruh dunia Islam dan non-Arab untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan bagi perjuangan anti-kolonial Arab. Al-Tahir dijuluki sebagai "duta besar Mesir untuk dunia" oleh pemimpin Partai Wafd, Makram Ebeid. Al-Tahir juga menjalin hubungan dekat dengan Shakib Arslan dari Lebanon dan partai nasionalis Palestina, al-Istiqlal.[7]
Pada 1936, Al-Tahir menulis buku tentang pemberontakan Arab di Palestina. Buku ini kemudian disita oleh pihak berwajib ketika masih dalam proses pencetakan. Ia lalu menerbitkan surat kabar Al-Shahab pada 1937, tetapi segera ditutup oleh pihak berwenang. Dua tahun kemudian, Al-Tahir menerbitkan surat kabar Al-Alam Al-Masri melalui lisensi penerbitan yang dialihkan kepadanya atas nama Abd al-Qader al-Toumi. Surat kabar yang diterbitkannya tersebut, memiliki tema umum yang sama dengan surat kabar yang pertama kali didirikannya, Al-Shura.[8]
Kehidupan pribadi
Al-Tahir bertemu istrinya, Zakiyah Bisri pada 1938 di Hammana, Lebanon, kemudian melangsungkan pernikahan pada 23 Februari 1939. Istrinya pindah ke Mesir, tetapi dideportasi kembali ke Lebanon pada 1941, ketika pemerintah Mesir tidak berhasil menemukan Al-Tahir setelah ia melarikan diri dari penjara.[9]
Pengasingan diri
Al-Tahir murka ketika ia kehilangan tanah airnya, saat pecah Perang Arab-Israel tahun 1948 dan wilayah Palestina dibagi-bagi oleh Israel, Mesir dan Yordania. Ia menyalahkan kekalahan Arab karena ketidakmampuan kolektif Arab, pengkhianatan beberapa pejabat Arab dan ketidakadilan, khususnya karena peringatannya yang terus-menerus terhadap ambisi Zionis di negara tersebut sejak 1917.[10] Pada Juli 1949, Al-Tahir ditangkap dan dipenjara di Kamp Interniran Huckstep atas perintah Perdana Menteri Ibrahim Abdel Hadi, karena telah menerbitkan kritik atas kinerja berbagai pemimpin Arab dan Palestina selama berlangsungnya perang. Ia dibebaskan sebulan kemudian oleh perdana menteri yang baru, Hussein Sirri Amer.[11]
Pada 1952, setelah terjadinya peristiwa Revolusi Mesir yang menggulingkan monarki kekuasaan dinasti Muhammad Ali, hubungan Al-Tahir dengan para perwira dan pemimpin pascarevolusi tidaklah baik. Surat kabar Ashoura, dicabut izin penerbitannya oleh Presiden Muhammad Naguib. Hubungannya kian memburuk ketika Gamal Abdul Nasir naik ke tampuk kekuasaan, ia banyak menindas teman-temannya dari Partai Wafd. Pada April 1955, Al-Tahir pergi ke Suriah atas undangan Kepala Staf Angkatan Darat.[12]
Al-Tahir hidup dalam pengasingan di Damaskus hingga tahun 1957. Dalam kurun waktu tersebut, ia diterima dengan baik oleh kaum nasionalis Suriah dan menjalin hubungan yang erat dengan para politikus seperti presiden Syukri al-Quwatli, Hasyim al-Atasi dan Nazim al-Kudsi. Namun, karena pengaruh biro intelijen militer Suriah di bawah pemerintahan Abdel Hamid al-Sarraj yang sangat mendukung Gamal Abdul Nasir, hal ini menimbulkan tekanan bagi Al-Tahir untuk menghentikan publikasi tulisan-tulisannya yang menentang kepemimpinan Mesir. Al-Tahir meninggalkan Suriah menuju Lebanon dan seperti kepergiannya dari Mesir, ia tidak pernah kembali ke Suriah.[13]
Eltaher, Mohamed Ali (2007), Biography of Mohamed Ali Eltaher (dalam bahasa Inggris), The Estate of Mohamed Ali Eltaher || Source materials referenced through Eltaher's books, newspapers, and correspondence deposited with the United States Library of Congress, African and Middle Eastern Division