Pada usia 13 tahun, Alim Khan diantar oleh bapaknya, Amir Abdulahad Khan ke Santo Petersburg selama tiga tahun untuk mempelajari teknik-teknik kerajaan dan ketentaraan moden. Pada tahun 1896,setelah diangkat sebagai Putera Mahkota Bukhara oleh Kekaisaran Rusia, dia pulang ke tempat asalnya.
Alim Khan membantu bapaknya mengurusi pemerintahan Bukhara selama dua tahun dan kemudian dilantik sebagai Gubernur daerah Nasef. Memerintah di sana selama 12 tahun. Kemudian dia dipindahkan ke wilayah utara Karminah dan memerintah kawasan tersebut selama dua tahun sehingga meninggalnya bapak pada tahun 1910.
Pemerintahan Alim Khan pada mula-mulanya, baginda mengumumkan bahwa baginda tidak akan mengharapkan atau menerima sembarang hadiah, dan mengharamkan pegawai-pegawainya mendapatkan rasuah daripada orang awam atau mengenakan cukai secara sendirian. Walaupun demikian, sikap Alim Kham terhadap rasuah, cukai, dan gaji pegawai kerajaan mula berubah pada masa selanjutnya.
Pertikaian-pertikaian antara kaum tradisionalis dan kaum reformis berakhir dengan kemenangan kaum tradisionis serta pembuangan tokoh-tokoh kaum reformis ke Moscow dan Kazan. Alim Khan yang pada mula-mulanya lebih suka modernisasi dan kaum reformis kemudian menyadari bahwa gerakan mereka pada akhirnya tidak mempunyai tempat, baik untuknya maupun untuk keturunan-keturunannya, menjadi raja. Sebagaimana dengan leluhur-leluhurnya, Alim Khan adalah seorang raja tradisional. Baginda berpikir tentang gagasan reformasi hanya sebagai alat untuk mengawal golongan imam, serta juga untuk mengukuhkan pemerintahan Manghit .
Aini Sadriddin, salah satu penulis bahasa Tajik yang penting, memberikan gambaran yang hidup tentang kehidupan di bawah pemerintahan Amir dalam karyanya, Pertanda Bukhara ("Jallodon-i Bukhara"). Ia pernah disebut kerana menuturkan bahasa Tajik.