b. Ketinggian di atas permukaan laut (rata-rata): 7 mdpl
Hidrologi
Irigasi berpengairan setengah tehnis
Klimatologi
a. Suhu : 991 – 30°C
b. Curah Hujan : 2000/3100mm
c. Kelembaban udara :
d. Kecepatan angin :
Luas lahan pertanian
a. Sawah irigasi : 69,00 Ha
b. Sawah tadah hujan : –
Luas lahan pemukiman : 42.00 Ha
Pemerintahan
Nama-nama Kepala Desa Mindaka yang dapat diketahui (1880 – 2020)
No
Periode
Nama Kepala Desa
Keterangan
1
1890 – 1920
Sarno
Kepala Desa 1
2
1920 – 1945
Madlun
Kepala Desa Kedua
3
1945 – 1947
Munasik
Kepala Desa Ketiga
4
1947 – 1949
Usman
Kepala Desa Keempat
5
1949 – 1975
Munaryo
Kepala Desa Kelima
6
1975 – 1989
Mugiono
Kepala Desa Keenam
7
1989 – 1990
Afifudin
Pjs. Kades
8
1990 – 1998
Muaras
Kepala Desa Ketujuh
9
1998 – 1999
Teguh Wihartono
Pjs. Kades
10
1999 – 2007
Subagyo
Kepala Desa Kedelapan
11
2007 – 2013
M. Rustono
Kepala Desa Kesembilan
12
2013 – 2019
Nur Yamah
Kepala Desa Kesepuluh
13
2019
Amad Sutrisno
Pjs. Kepala Desa
14
2019 – sekarang
Agus Sukanto
Kepala Desa Kesebelas
Struktur Organisasi dan Tata kerja (SOTK) Desa Mindaka bisa di lihat di websites mindaka.desa.id
Sejarah Desa Mindaka
Menurut cerita dari para tetua masyarakat desa, bahwa sejarah Desa Mindaka mempunyai 3 ( tiga ) versi yaitu:
Versi Pertama
Sejarah Desa Mindaka telah berlangsung setidaknya sejak zaman lama sebelum masa kemerdekaan, dan sampai dengan sekarang tidak ada yang tahu persis kapan berdirinya Desa Mindaka, apalagi mengalami hanya berdasarkan cerita dari orang tua, bahwa zaman dahulu kala ada seorang Maulana dalam rangka penyeberan Agama Islam bersinggah didaerah ini, di samping penyebaran agama Islam juga ikut membuka hutan belantara .
Daerah ini, lama–kelamaan menjadi desa yang berkembang ramai. Dari hutan belantara menjadi desa dan tanah sawah yang subur. Dalam melakukan pekerjaan masyarakat / penduduk setempat senantiasa gotong royong dan selalu bermusyawarah.
Pada suatu kesempatan dalam bermusyawarah, sang maulana menyampaikan sebuah ucapan / perkataan kepada masyarakat dengan bahasa setempat (bahasa Tegal) yaitu TUMINDAKA (Jawa: Tuminda’o) yang dimaksud kita senantiasa untuk bertindak (bekerja) keras atau dalam pengertian apabila kita melangkah dengan pasti (bekerja keras) tentu akan mencapai tujuan yang kita inginkan. Ucapan tersebut dimaksudkan untuk menyemangati masyarakat dalam melakukan pekerjaan yang saat itu sudah mengalami kejenuhan bekerja . Yang akhirnya kata tersebut sering diucapakan oleh masyarakat: Temindaka, Temindaka... karena sering diucapkan itulah perkataan TEMINDAKA menjadi lebih singkat jadi kata MINDAKA . Yang dikemudian hari akhirnya kata Mindaka menjadi sebutan desa tersebut dan sampai sekarang menjadi nama DESA MINDAKA.
Versi Kedua
Bahwa pada jaman dahulu kala ada seorang ulama sakti bernama SAMSUDIN yang mengembara disekitar wilayah mindaka, suatu pagi mbah Samsudin melaksanakan sholat subuh diwilayah disekitar yang sekarang bernama Desa Kedungbukus. Disaat hendak melaksanakan sholat, maka tongkat beliau ditancapkan ditanah. Pada saat sedang bersujud tiba-tiba dijugug ( digonggong ) oleh anjing, secara reflek mbah Samsudin langsung meloncat tanpa memperdulikan tongkatnya. Karena kesaktiannya, maka lompatan mbah Samsudin mendarat di tempat yang sepi kemudian baru melangkah langsung menemukan sebuah desa yang ada penduduknya.
Setelah bertanya ke penduduk sekitar apa nama desa tersbut tidak ada yang tahu, karenanya mbah Samsudin berpesan pada penduduk tersebut bahwa daerah tempatnya mendarat dari lompatanya “aja diindari” ( jangan dihindari ), soalnya di seberang tempat tesebut ada penduduknya juga, setelah melangkah ( temindak ) kemudian tiba ( teka ) di suatu desa yang ramai, maka mbah Samsudin memberi nama desa tersebut dengan sebutan MINDAKA.
Sehingga mbah Samsudin menetap dan berdakwah di daerah Mindaka tersebut sampai akhir hayatnya. Tempat di mana tongkat beliau tertinggal kemudian tongkatnya tumbuh menjadi sebuah jati yang sekarang masih ada di Desa Kedungbungkus, kemudian daerah tempat beliau mendarat disebut JAINDAR ( sekarang menjadi makam jaindar ).
Demikian sejarah Desa Mindaka yang dapat kami dokumentasikan. Sebagai Kepala Desa terpilih yang bisa kami kenal melalui sejarah para tokoh masyarakat di desa kami yaitu bernama Ischaq ( sekitar 1890 – 1920 ). Karena posisinya yang strategis pada masa sebelum kemerdekaan Desa Mindaka sudah menjadi pusat pemerintahan tingkat kecamatan (Ibu Kota Kecamatan Tarub) karena saat itu Kantor Camat Tarub berada di Pedukuhan Tangkil yang masuk di wilayah Desa Mindaka.