Mezak Arnold Ratag (24 September 1962-22 Februari 2020) adalah seorang astronom Indonesia asal Minahasa, Sulawesi Utara. Ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan Indonesia yang meneliti dan menemukan sejumlah planetary nebulae[1] di pusat galaksi Bima Sakti. Namanya tercatat dalam publikasi internasional bidang astronomi dan ia termasuk sebagai salah satu astronom Indonesia yang diakui di dunia akademik global.
Biografi
Prof. Dr. Mezak Arnold Ratag lahir pada 24 September 1962 dari pasangan Prof. Alexander Ratag dan Grietje Kawengian.[2] Masa kecilnya dihabiskan di Manado, Sulawesi Utara. Sejak muda, ia menunjukkan ketertarikan yang kuat pada sains dan matematika, terutama pada bidang astronomi yang saat itu belum populer di Indonesia.
Pendidikan
Meski lahir di Malang, Ratag menempuh pendidikan dasar dan menengah di Manado, yaitu di SD dan SMP Laboratorium IKIP Manado, lalu melanjutkan ke SMA Negeri 1 Manado. Prestasi akademiknya cemerlang sehingga ia diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada jurusan Astronomi tanpa melalui ujian saringan masuk perguruan tinggi nasional. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada tahun 1985 dengan predikat cum laude.[3]
Setelah itu, Ratag melanjutkan studi doktoral di University of Groningen, Belanda. Pada tahun 1991 ia berhasil meraih gelar Ph.D. dengan disertasi berjudul A Study of Galactic Bulge Planetary Nebulae. Penelitiannya berfokus pada nebula planeter di tonjolan galaksi Bima Sakti, dengan pembimbing utama Stuart Robert Pottasch dan Rens Waters.[4]
Karier dan kontribusi ilmiah
Sepulang dari Belanda, Ratag aktif dalam riset astronomi dan menjadi salah satu ilmuwan Indonesia yang namanya tercatat dalam jurnal internasional. Fokus utama penelitiannya adalah planetary nebulae, yaitu sisa bintang yang mati pada tahap akhir evolusinya. Penelitian tersebut penting karena memberikan gambaran mengenai struktur dan komposisi kimia galaksi, serta sejarah evolusi bintang.[2]
Ia berkontribusi pada penemuan dan karakterisasi sejumlah planetary nebulae baru di galaksi, yang kemudian didokumentasikan dalam basis data astronomi dunia. Penemuan ini menambah wawasan mengenai jumlah dan persebaran nebula planeter di pusat Bima Sakti.[2]
Selain itu, Ratag juga dikenal sebagai pendidik yang aktif menginspirasi generasi muda untuk menekuni ilmu astronomi. Ia terlibat dalam berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional, serta menjadi pembicara dalam seminar-seminar yang membahas perkembangan sains antariksa.[2]
Sebagai rektor, ia terlibat dalam administrasi kampus, kebijakan akademik, dan menangani isu-isu internal seperti validasi data mahasiswa dalam PDDikti, serta komunikasi dengan yayasan pengelola dan pihak eksternal.[5]
Penghargaan dan pengakuan
Mezak Arnold Ratag sering disebut sebagai salah satu astronom brilian asal Indonesia. Karya-karyanya mendapat pengakuan dari komunitas ilmiah internasional, terutama melalui publikasi yang ia hasilkan di Eropa. Ia juga menjadi salah satu ilmuwan Indonesia yang tercatat dalam AstroGen (Astronomy Genealogy Project), sebuah basis data internasional yang mendokumentasikan silsilah akademik astronom dunia.[4]
Wafat
Prof. Dr. Mezak Arnold Ratag meninggal dunia pada tanggal 22 Februari 2020, dalam usia yang belum genap 58 tahun.[3]