Ketika mengabdi di parlemen, mengetuai Komite Migrasi, Committee on Migration, Pengungsi dan Populasi. Pada bulan November 2009, dia bertemu Menteri Luar Negeri Russia, Sergey Lavrov.[5]
Dewan Eropa
Çavuşoğlu bergabung dengan Majelis Parlemen Dewan Eropa pada tahun 2003 dan tak lama setelah itu namanya tercatat sebagai ketua delegasi Turki dan wakil presiden majelis. Selama bulan Januari 2010 sebagai majelis, dia dicalonkan dan terpilih pada tanggal 25 Januari 2010 untuk menggantikan Presiden Lluís Maria De Puig dari Spanyol.[6] Pada perubahan susunan bulan Oktober, itulah yang menjadi alasan mengapa dia tidak menerima tanggung jawab ekstra sebagai Perdana Mentri dalam pemerintahan Recep Tayyip Erdoğan.[7][8][9] Pencalonannya untuk posisi itu didukung oleh semua partai utama Turki. Dia menjadi presiden hanya beberapa bulan setelah Turki memegang pimpinan Komite Menteri dari Dewan Eropa (November 2010) dan pada saat yang sama ada seorang presiden Kongres Dewan Eropa dari Turki.[10] Tahun 2012, digantikan oleh Jean-Claude Mignon dari Prancis.
Pemilihan lokal Turki 2014
Çavuşoğlu dikritik oleh Hurriyet karena intervensinya dalam pemilihan kota Antalya yang dilaksanakan pada 30 Maret 2014. Ketika kandidat dari partai oposisi Mustafa Akaydin berhadapan dengan dengan calon dari partai berkuasa, ia mengunjungi gedung pengadilan bersama pendukungnya dan menginterupsi proses penghitungan.[11] Setelah interupsinya, penghitungan suara terhenti. Terkait hal tersebut, ada klaim bahwa banyak suara belum dihitung berasal dari pinggiran suara, di mana pihak lawan memiliki lebih banyak suara pendukung.[12]
Pada tanggal 11 Maret 2017, Çavuşoğlu dilarang mendarat di Rotterdam, Belanda menyusul pertanyaannya tentang cara Belanda memperlakukan emigran dari Turki.[13][14] Çavuşoğlu telah menyusun untuk mengorganisasikan sebuah pertemuan akbar untuk berorasi dalam referendum konstitusional Turki 2017, di mana imigran yang berada di Belanda dapat memilih.[14] Namun sayangnya, peristiwa itu dianggap tidak aman oleh pihak berwenang di Belanda, dan Çavuşoğlu terpaksa kembali, meskipun dia seorang Perdana Menteri.[14] Sementara itu, Presiden Recep Tayyip Erdoğan menyebut Belanda sebagai "sisa-sisa Nazi" dan "fasis,"[14] di mana Perdana Menteri Belanda Mark Rutte menyebut "sebuah pernyataan gila."[13] Çavuşoğlu segera membela apa yang diucapkan oleh Erdoğan[15] dengan mengatakan bahwa Belanda adalah "kapitalis fasis".[16]