Merigi merupakan istilah Melayu bagi kelompok pecahan petulai Tubei yang keluar dari wilayah Lebong dan mendirikan desa-desa baru di tempat yang baru pula.[2] Istilah asli dalam bahasa Rejang adalah migai atau migêi,[3] yang didapat dari perkataan Ki Geto selaku pimpinan kelompok yang hijrah meninggalkan Lebong. Ia berkata kepada adiknya, Ki Karang Nio, "uyo itê sa'ok, keme ami igai belek", yang berarti "sekarang kita berpisah, kami tidak akan kembali".[4] Sejak saat itu, kelompok Migai tersebut tidak pernah kembali ke tanah asalnya di Lebong.[5]
↑Siddik, Abdullah (1980). Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka. hlm.51, 105.
↑Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah (1989). Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Bengkulu. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. hlm.89.