Mereng adalah desa di kecamatanWarungpring, Pemalang, Jawa Tengah, Indonesia. secara administratif Desa Mereng terbagi dalam 4 dusun, yaitu Dusun Bengkeng, Dusun Pagembrongan, Dusun Krajan dan Dusun Kubang. Secara administratif kepala kewilayahan atau kepala dusun, terbagi menjadi Dusun Bengkeng I, Dusun Bengkeng II, Dusun Pagembrongan I, Dusun Pagembrongan II, Dusun Krajan I, Dusun Krajan II, dan Dusun Kubang. Dusun Bengkeng mencakup RW.001, RW.002, dan RW.003, serta meliputi RT.001 sampai dengan RT.014. Sedangkan Dusun Pagembrongan mencakup RW.004 dan RW.005, serta meliputi RT.015 sampai dengan RT.025. Dusun Krajan mencakup RW.006 dan RW.007, yang meliputi RT.026 sampai dengan RT.030. Adapun Dusun Kubang mencakup RW.008 dan RW.009 yang meliputi RT.031 sampai dengan RT.036. Khusus RT.032 di Dusun Kubang dibagi menjadi RT.032A dan RT.032B. Jadi, total RW yang ada di Desa Mereng sejumlah 9 RW yang dipimpin oleh ketua RW dan total RT sebanyak 37 RT yang dipimpin oleh ketua RT.
Penamaan
Penamaan/nomenklatur Desa Mereng berdasarkan adat istiadat secara turun temurun sudah ada sejak zaman era penjajahan Belanda sampai sekarang nama Mereng tetap dilestarikan. Setiap dusun di Desa Mereng menyimpan legenda atau cerita rakyat masing-masing yang menjadi ingatan kolektif masyarakat. Di Dusun Kubang, misalnya, terdapat cerita tentang lubang sumber mata air yang konon pernah menggenangi kawasan persawahan hingga seperti lautan. Dari lubang itu keluar ikan petek yang identik dengan habitat laut. Cerita ini bahkan berlanjut dengan mitos larangan menggelar wayang kulit di Desa Mereng karena dikhawatirkan memicu banjir bandang dari lubang tersebut—suatu larangan yang tidak berlaku di desa tetangga seperti Desa Kreyo. Ada pula versi yang menghubungkan lubang mata air dengan tapak kaki Bima dalam kisah pewayangan, serta keterkaitannya dengan Gunung Gajah di Randudongkal.
Kepercayaan masyarakat juga mengaitkan Desa Mereng dengan keberadaan Jago Liringgalih—seekor ayam jantan gaib yang diyakini memberi pertanda kemenangan bagi tim sepak bola desa mereng. Ayam ini dipercaya bersemayam di Candi Keramat Dusun Pagembrongan, sebuah situs berupa gundukan tanah berhutan lebat dengan sebuah makam tanpa identitas. Candi Keramat menjadi pusat ritual dan doa bagi warga yang punya hajat besar, termasuk mereka yang hendak mencalonkan diri sebagai kepala desa. Hingga kini, cerita tentang Candi Keramat lebih banyak hidup sebagai tradisi lisan tanpa bukti tertulis maupun arkeologis yang jelas.
Upaya menemukan jejak tertulis mengenai sejarah Desa Mereng masih terbatas. Satu-satunya petunjuk yang ditemukan oleh Yosi Muhaemin, Peneliti dari Prabu Research Institute, adalah arsip koran De Locomotief terbitan 1930 yang menyebutkan nama Lurah Mereng saat itu, Tisna Widjaja. Sumber lain berupa buku C Tanah Desa Mereng tahun 1960-an mencatat bahwa Dusun Bengkeng dahulu disebut Dukuh Djaga Mulja, sedangkan Dusun Krajan disebut Dukuh Mereng. Namun, informasi ini pun minim penjelasan mengenai latar belakang perubahan nama dan perjalanan sejarah desa. Pada periode tersebut desa dipimpin oleh Lurah Abu Chaer, yang menurut cerita masyarakat bahwa lurah tersebut selalu berkendara kuda.
Upaya penelusuran sejarah selanjutnya menggunakan teori toponimi dengan menelusuri asal-usul nama di masing-masing dusun dan mitos yang ada di tengah masyarakat untuk merangkai sejarah. Sebagaimana beberapa nama lokasi seperti kata 'Mereng', 'Pagembrongan', 'Bengkeng', 'Cikelem', 'Kubang', setelah dilakukan penelusuran linguistik, semua kata itu berasal dari bahasa Sunda. Kata 'mereng' berarti miring, dan jika diamati secara topografi, Desa Mereng ini memang miring ke arah utara. Kemudian kata 'Pagembrongan' berasal dari kata 'gembrong' yang artinya adalah berkumpul, suka keramaian, atau bergerombol, dan apabila diamati Dusun Pagembrongan memang secara ekistics, antar permukiman di dusun tersebut tampak terpisah oleh persawahan dan perkebunan. Kata 'bengkeng' berarti mudah tersinggung, mudah marah, dan berani, yang secara antropologi sosial di dusun tersebut memang dihuni manusia berkarakter pemberani, sedikit mudah tersinggung dan cenderung berani membangkang terhadap hal-hal yang tidak sesuai. Demikian pula kata 'kubang' yang artinya adalah genangan air, hal tersebut berkaitan dengan cerita rakyat yang menyatakan bahwa permukiman tersebut dahulu pernah akan menjadi lautan karena ada sumber mata air yang terus menerus mengeluarkan air bahkan mengeluarkan ikan petek khas lautan. Kemudian, kata 'cikelem' ini secara morfologi bahasa berasal dari kata 'cai' dan 'kelem', yaitu air yang menggenang atau tenggelam, dan secara topografi di lokasi tersebut memang cenderung berada di tempat rendah sehingga aliran air ketika sudah sampai di lokasi tersebut akan tergenang. Situs lain yang menjadi bahan kajian adalah Candi Keramat. Dari beberapa bahan tersebut, maka ada upaya merangkai satu cerita legenda yang dibalut sejarah dengan latar belakang tahun 1357 Masehi, di mana pada tahun tersebut wilayah yang kelak diberi nama Desa Mereng belum memiliki nama dan berupa hutan dengan konstruksi tanah yang miring (Alas Miring). Hutan tersebut juga bukan bagian dari kerajaan manapun, dan hanya dihuni beberapa kelompok saja. Dalam sebuah Catatan Kidung Pasundan Bubat (ditulis tahun akhir abad ke 14 Masehi), serta Kitab Negarakertagama yang ditulis Empu Prapanca pada tahun 1365 M, diceritakan ada dua kerajaan besar yang berkonflik. Kerajaan yang pertama yaitu Majapahit yang berpusat di Provinsi Jawa Timur dan Kerajaan Galuh yang berpusat di wilayah yang Provinsi Jawa Barat. Kerajaan Majapahit saat itu dipimpin Prabu Hayam Wuruk dengan Patihnya Gajah Mada, sedangkan Kerajaan Galuh dipimpin seorang Prabu bernama Prabu Lingga. Dalam perjalanan menuju Majapahit, Prabu Lingga dan anaknya (Dyah Pitaloka) beserta rombongan singgah di alas miring. Cerita lebih lengkap telah difilmkan dalam Legenda Candi Keramat Desa Mereng melalui kanal youtube Yosi M Giri.
Geografi
Astronomi
Desa Mereng secara astronomi terletak 1090 16” 17” Bujur Timur dan 70 04” 07.3”.
Sedangkan luas wilayah Desa Mereng adalah 545.980 km2 atau 545,9 ha.[1] Terdiri dari tanah sawah seluas 305,84 ha dan tanah darat seluas 240.14 Ha.
Topografi
Kondisi topografi wilayah Desa Mereng terdiri dari daerah dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 738 meter di atas permukaan air laut. Wilayah Desa Mereng merupakan daerah yang berbukit-bukit baik yang memiliki kemiringan landai dan curam. Jenis tanah di Wilayah Desa Mereng terdiri dari tanah regosol batu-batuan pasir dan intermedier dan tanah latosal yang terdiri dari batu bekuan pasir. Pemanfaatan tanah sebagian besar untuk pertanian, tanaman pangan, buah-buahan dan sayur-sayuran yakni seluas 305.84 ha atau 5,37% dari luas wilayah Desa Mereng. Sedangkan sisanya seluas 176.84 ha (94,63%) digunakan untuk bangunan perumahan/gedung serta pekarangan, tempat usaha, lembaga pendidikan dan sosial kemasyarakatan.
Demografi
Jumlah penduduk Desa Mereng pada akhir Tahun 2016 sejumlah 12.967 jiwa terdiri dari 6.695 jiwa laki-laki dan 6.272 jiwa perempuan, Jumlah kepala keluarga 4.213 KK dan jumlah anggota keluarga 8.547 jiwa. Sedangkan kepadatannya mencapai 1.422 jiwa/km2. Laju pertumbuhan penduduk Desa Mereng pada Tahun 2017 sebesar 1,8%.