Artikel ini membutuhkan perhatian dari ahli di bidang filsafat. Harap tambahkan alasan atau pranala ke halaman pembicaraan untuk menjelaskan masalah pada artikel tersebut. Jika Anda adalah ahli yang dapat membantu, silakan perbaiki kualitas artikel ini.
Pertanyaan yang berkaitan dengan "kenapa semua ini ada?", atau, "mengapa harus ada sesuatu, alih-alih tidak ada?" telah diajukan atau dikomentari oleh beberapa filsuf, seperti Gottfried Wilhelm Leibniz,[1]Ludwig Wittgenstein,[2] dan Martin Heidegger. Martin Heidegger menjuluki pertanyaan ini sebagai "pertanyaan mendasar metafisika".[3][4][5]
Bertrand Russell bertumpu pada posisi "fakta kasar" ketika dia menyatakan, "Saya harus mengatakan bahwa alam semesta memang ada di sana, itu saja."[10][11]
Filsuf Brian Leftow berpendapat bahwa pertanyaan ini tidak dapat memiliki penjelasan kausal (karena setiap penyebab pasti memiliki penyebab) atau penjelasan kontingen (karena faktor-faktor yang memberikan kontingensi harus sudah ada sebelumnya), dan jika ada jawaban untuk pertanyaan ini, jawaban itu pasti sesuatu yang ada dengan sendirinya (yaitu, sesuatu yang ada begitu saja, bukan disebabkan oleh apa pun).[12]
Filsuf William Free berpendapat bahwa hanya dua pilihan yang dapat menjelaskan keberadaan, yaitu bahwa segala sesuatu memang selalu ada, atau muncul secara spontan. Dalam kedua skenario ini, keberadaan adalah fakta yang tidak ada penyebabnya.[13]
Argumen yang mengabaikan kausalitas
David Hume berpendapat bahwa meskipun kita mengharapkan segala sesuatu memiliki sebab karena pengalaman kita tentang perlunya sebab, suatu sebab mungkin tidak diperlukan dalam kasus pembentukan alam semesta, yang berada di luar pengalaman kita.[14]
Kritik
Filsuf Stephen Law menyatakan bahwa pertanyaan itu mungkin tidak perlu dijawab, karena mencoba menjawab pertanyaan yang berada di luar kerangka spasio-temporal, dari dalam kerangka spasio-temporal. Dia membandingkan pertanyaan itu dengan menanyakan "apa yang ada di utara Kutub Utara?"