Sejarah Desa Melung berawal dari cerita atau legenda rakyat mengenai keberadaan Syech R. Abdurrahman atau Kyai Melung sebagai pendiri dan sesepuh Desa Melung yang tidak tercatat dalam dokumen sejarah. Kisah tersebut diwariskan secara turun-temurun dari para orang tua kepada anak-anak dan generasi berikutnya, serta tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kadipaten Pasir Luhur yang dikenal sebagai tempat persinggahan dan perlintasan R. Kamandaka beserta para prajurit Kadipaten Pasir Luhur.[1]
Dalam versi lain yang memperjelas tradisi lisan tersebut, Syech Raden Abdurrahman juga disebut sebagai Kyai Melung dan dipercaya sebagai pendiri serta sesepuh desa. Menurut cerita yang berkembang, pada suatu waktu para prajurit Kadipaten Pasir Luhur yang sedang melintas mendengar ayam jago Liring Galing milik Raden Kamandaka berkokok dari kejauhan dengan suara yang sangat keras atau berbunyi "melung-melung". Daerah yang menjadi sumber suara ayam tersebut kemudian ditandai dan dikenal sebagai wilayah "Melung".
Secara administratif, wilayah Melung pada masa lampau termasuk ke dalam Kecamatan Kebumen dan baru sekitar tahun 1955 dimasukkan ke wilayah Kecamatan Kedungbanteng. Selain legenda mengenai asal-usul desa, terdapat pula versi sejarah yang menghubungkan awal kepemimpinan Desa Melung dengan garis keturunan R. Singo Guna. R. Singo Guna disebut sebagai keturunan dari R. Honggo Wongso, putra dari R. Klapa Aking atau R. Kolopaking. R. Honggo Wongso kemudian menurunkan R. Niti Menggolo, yang selanjutnya menurunkan R. Kalioso atau Syech Abdul Djalal, dan dari garis tersebut lahirlah R. Singo Guna yang hidup di Desa Melung.[1]
Terdapat juga versi yang menyebutkan bahwa dari sisi tata pemerintahan, kepemimpinan Desa Melung memang diawali oleh keturunan (canggah) dari Raden Klapa Aking atau Raden Kolopaking yang bernama Raden Singo Guna. Setelah itu masuk pula keturunan dari kakak R. Singo Guna, yaitu R. Suro Handoko dan R. Suro Menggolo. Putra R. Suro Handoko yang bernama R. Sagi atau R. Wirya Dikrama kemudian memimpin Desa Melung.
Pada masa penjajahan Belanda, Desa Melung dikenal sebagai kawasan kebun kopi yang luas dan terkenal hingga ke negara Belanda melalui kopi kampungnya.[1] Menurut tradisi sejarah yang diwariskan kepada generasi berikutnya, selain sebagai penghasil kopi, Desa Melung juga dikenal sebagai daerah penghasil alpokat. Karena wilayah tersebut memiliki potensi sumber daya air yang melimpah, pada tahun 1928 didirikan PLTA Ketenger yang menurut keterangan masyarakat sesungguhnya berada di Desa Melung.[1]
Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, kepemimpinan desa yang tercatat sejak tahun 1905 hingga 1940 dipimpin oleh Suradirana yang pada masa itu menjabat sebagai kepala desa atau lurah. Setelah masa kemerdekaan, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Mulyadirana dan kemudian oleh Wiryo Sukatmo. Pembangunan yang dihasilkan pada masa tersebut tidak tercatat karena sumber daya manusia yang tersedia masih sangat terbatas.[1]
Geografis
Secara geografis, Desa Melung berada di sabuk sebelah barat Gunung Slamet dan merupakan desa pinggir hutan dengan kondisi topografi berbukit-bukit.
Kemiringan tanah rata-rata berada pada kisaran 20–30 persen dengan ketinggian antara 400–600 meter di atas permukaan laut.
Desa ini memiliki iklim yang sejuk dengan suhu rata-rata 21–30°C serta curah hujan yang cukup tinggi, yaitu sekitar 3.000–3.500mm per tahun.
Gerumbul Depok ada 4 RT: RT 01, RT 02, RT 03 dan RT 04
Gerumbul Kaliputra ada 5 RT: RT 01, RT 02, RT 03, RT 04 dan RT 05
Gerumbul Melung ada 5 RT: RT 01, RT 02, RT 03. RT 04 dan RT 05
Gerumbul Selarendeng ada 3 RT: RT 01, RT 02 dan RT 03.
Gambaran Umum Demografis
Desa Melung pada awal tahun 2019 memiliki 742 Kepala Keluarga ( KK ) Rumah, dan 735 KK Nikah, dengan jumlah penduduk 2.369 jiwa yang terdiri dari 1.223 Laki-Laki dan 1.146 Perempuan. Dengan rata-rata setiap keluarga terdiri atas 3 sampai 4 anggota keluarga.
1. Perkembangan Penduduk
a.Jumlah penduduk awal tahun 2019: 2.369 Jiwa
* Laki - laki : 1.223 Jiwa
* Perempuan : 1.146 Jiwa
b.Pertumbuhan penduduk sepanjang tahun 2019
1. Lahir : 30 Jiwa
Laki-laki : 21 Jiwa
Perempuan : 9 Jiwa
2. Mati : 17 Jiwa
Laki-laki : 9 Jiwa
Perempuan : 8 Jiwa
3. Datang : 39 Jiwa
Laki-laki : 23 Jiwa
Perempuan : 16 Jiwa
4. Pindah : 25 Jiwa
Laki-laki : 15 Jiwa
Perempuan : 10 Jiwa
c.Jumlah penduduk akhir tahun 2019 : 2.396 Jiwa
* Laki - laki : 1.243 Jiwa
* Perempuan : 1.153 Jiwa
2. Jumlah Penduduk Menurut Umur
Usia 0-1 tahun : 23 Jiwa
Usia 2-4 tahun : 85 Jiwa
Usia 5-9 tahun : 199 Jiwa
Usia 10-14 tahun : 216 Jiwa
Usia 15-19 tahun : 206 Jiwa
Usia 20-24 tahun : 212 Jiwa
Usia 25-29 tahun : 186 Jiwa
Usia 30-34 tahun : 205 Jiwa
Usia 35-39 tahun : 212 Jiwa
Usia 40-44 tahun : 185 Jiwa
Usia 45-49 tahun : 151 Jiwa
Usia 50-54 tahun : 120 Jiwa
Usia 55-59 tahun : 107 Jiwa
Usia 60-64 tahun : 107 Jiwa
Usia 65-69 tahun : 74 Jiwa
Usia 70-74 tahun : 52 Jiwa
Usia > 75 tahun : 47 Jiwa
3. Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan
Tidak / Belum Sekolah : 239 Jiwa
Belum Tamat SD : 280 Jiwa
Tidak Tamat SD : 299 Jiwa
Tamat SD : 990 Jiwa
Tamat SLTP : 378 Jiwa
Tamat SLTA : 188 Jiwa
Diploma I : 0 Jiwa
Diploma II : 0 Jiwa
Diploma III : 0 Jiwa
Diploma IV / Starta 1 : 16 Jiwa
4. Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Belum / Tidak Bekerja : 573 Jiwa
Mengurus Rumah Tangga : 387 Jiwa
Pelajar / Mahasiswa : 478 Jiwa
Pensiunan : 4 Jiwa
PNS : 7 Jiwa
TNI : 1 Jiwa
Perdagangan : 44 Jiwa
Petani / Pekebunan : 245 Jiwa
Peternak : 20 Jiwa
Transportasi : 3 Jiwa
Karyawan Swasta : 53 Jiwa
Karyawan Honorer : 4 Jiwa
Karyawan BUMN : 0 Jiwa
Buruh Harian Lepas : 280 Jiwa
Buruh Tani / Perkebunan : 167 Jiwa
Buruh Peternakan : 0 Jiwa
Pembantu Rumah Tangga : 2 Jiwa
Tukang Batu : 11 Jiwa
Tukang Kayu : 0 Jiwa
Paraji : 1 Jiwa
Guru : 11 Jiwa
Pedagang : 0 Jiwa
Perangkat Desa : 10 Jiwa
Kepala Desa : 1 Jiwa
Wiraswasta : 91 Jiwa
Konstruksi : 1 Jiwa
Bidan : 1 Jiwa
Jumlah Penerima Bantuan dari Pemerintah
Penerima Program Keluarga Harapan ( PKH ) sebanyak 231 Kepala Keluarga
Penerima Program Bantuan Pangan Non Tunai ( BPNT ) sebanyak 353 Kepala Keluarga
Penerima Program KKS Program Sembako Darurat Covid-19 sebanyak 144 Kepala Keluarga
Penerima Program BST Kementerian Sosial sebanyak 54 Kepala Keluarga
Transportasi
Sarana transportasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembangunan wilayah guna peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sarana dan prasarana transportasi Desa Melung sudah cukup baik sebagai prasarana perhubungan jalan ditambah sekarang ini sudah ada sarana transportasi angkutan pedesaan untuk mengangkut hasil bumi dari desa ke kota.
Pendidikan
Untuk sarana dan prasarana bidang pendidikan di Desa Melung sudah memiliki 1 (satu) unit Sekolah Dasar, lalu sudah berdirinya Pendidikan Anak Dini Usia (PADU) tahun 2002 yang berubah program menjadi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan model Kelompok Bermain SATRIA JAYA sekarang menjadi PAU TERPADU KB.SATRIA JAYA DAN TK PERTIWI, sedangkan SMP sudah ada yaitu SMP Negeri 3 Kedungbanteng.
Budaya
Desa Melung memiliki budaya sebagaimana desa-desa yang ada di Kabupaten Banyumas seperti seni kuda lumping, seni hadroh atau rebana.Budaya dan adat istiadat masyarakat Desa Melung masih terpelihara dengan baik, di mana sifat gotong royong masih cukup tinggi terutama dalam membangun rumah di mana budaya sambatan masih sangat terpelihara dengan baik. Hal tersebut sebagai modal dasar untuk kegiatan pembangunan dan menanamkan rasa kegotongroyongan.
Pariwisata
Desa Melung kini juga dikenal sebagai salah satu Desa Wisata tingkat nasional, dengan membuka wisata alam bernama Pagubugan Melung. Wisata Pagubugan menawarkan fasilitas kolam renang dengan air segar asli dari gunung Slamet. Uniknya kolam renang tersebut berada di antara persawahan hijau. Tahun 2024, Desa Melung jadi salah satu pemenang Lomba Desa Wisata Nusantara yang mendapatkan penghargaan dari Kementerian Desa serta 300 besar Anugerah Desa Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Sebelumnya, wilayah Desa Melung merupakan kawasan pengembangan produksi sayur organiknya di mana berdekatan dengan Curug Gede dan lokawisata Baturraden, wisata teknik PLTA Ketenger yang berada di Desa Melung sangat memungkinkan untuk dijadikan kawasan agrowisata sebagai salah satu penunjang pendapatan asli daerah Kabupaten Banyumas. Di daerah Desa Melung juga terdapat lokasi wisata berupa tempat ziarah Rumah Singgah Maria Melung.
Perayaan
Desa Melung memiliki perayaan Ruwat Bumi, Ruwat Mata Air, nyadran.
Makanan Khas
Berbagai makanan yang biasanya dibuat masyarakat di Desa Melung antara lain mendoan, cantir, combro, peyek, oblang, intil, getuk, krawu, cimplung, semur jengkol,pindang klewek, jangan bobo