Mausolos (bahasa Yunani Kuno:Μαύσωλοςcode: grc is deprecated atau Μαύσσωλλοςcode: grc is deprecated ; diserap dari bahasa Karia:[𐊪𐊠]𐊲𐊸𐊫𐊦code: xcr is deprecated , translit.Mauśoλ, har.'banyak diberkati')[1][2] adalah seorang satrapKaria (377–353 SM) berupa di Kekaisaran Akhemeniyah. Dia menikmati status raja setempat dan pemimpin wangsa berdasarkan jabatan kuat yang diciptakan oleh ayahnya bernama Hekatomnos (bahasa Karia:𐊴𐊭𐊪𐊳𐊫code: xcr is deprecated K̂tmño), yang menggantikan satrap bersuku Persia bernama Tissafernes yang terbunuh di kesatrapan Karia dan mendirikan wangsa keturunan Hekatomnides. Dia terkenal karena kuil besar sekaligus tempat pemakamannya yang namanya kemudian menjadi kata untuk merujuk ke pemakaman yang besar untuk satu orang, disebut "mausoleum".[3]
Kehidupan
Koin Mausolos sebagai satrap Karia yang menjadi bagian dari Kekaisaran Akhemeniyah. Kepala Apollo berhadapan, Zeus Labrandos berdiri, dan tulisan memuat MAYΣΣΩΛΛOcode: grc is deprecated ("MAUSSOLLO"). Dicetak sekitar tahun 376–353 SM.[4]
Mausolos merupakan putra sulung dari Hekatomnos, seorang penduduk Karia asli yang menjadi satrap di tempat tersebut ketika Tissafernes wafat, sekitar tahun 395 SM. Mausolos ikut serta dalam Pemberontakan Satrap, baik di pihak Artahsasta II yang berdaulat terbatas dan juga sempat melawannya (hanya sebentar). Pada tahun 366 SM, Mausolos bersama Autofradates dari Lidia, atas permintaan Artahsasta, memimpin pengepungan Adramition melawan Ariobarzanes, salah satu anggota Pemberontakan Satrap, hingga Agesilaos, seorang raja Sparta merundingkan mundurnya para pengepung.[5]
Mausolos menaklukkan sebagian besar Likia pada sekitar tahun 360 SM, mengakhiri garis wangsa yang memerintah di sana. Dia juga menyerang Ionia dan pulau-pulau Yunani di Laut Aegea; serta bekerja sama dengan penduduk Rodos dalam Perang Sosial melawan Kota Athena. Dia memindahkan ibu kotanya dari Milasa, tempat kediaman kuno raja-raja Karia, ke Halikarnasos. Mausolos memeluk budaya Helenistik. Sebuah prasasti yang ditemukan d Milas, merinci hukuman terhadap beberapa komplotan yang telah mencoba membunuh Mausolos saat pesta di sebuah kuil di Labraunda pada tahun 353 SM.[6]
Hingga kini, Mausolos terkenal karena kuil sekaligus pemakaman besarnya, yang didirikan dan diberi nama untuknya atas perintah jandanya, yaitu Artemisia. Antipatros dari Sidon mendaftarkan pemakaman besarnya sebagai Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Dua arsitek bernama Satyros and Pytheos, dan pematung Skopas dari Paros, Leokhares, Bryaksis, dan Timotheos, menyelesaikan pekerjaan setelah wafatnya Artemisia, konon beberapa dari mereka bekerja murni untuk kemasyhuran. Situs dan beberapa sisa peninggalan masih dapat dilihat di kota Bodrum, Turki. Berasal dari namanya, istilah "mausoleum" telah digunakan secara umum untuk setiap makam besar yang umumnya hanya untuk satu orang.[7]
↑Sears, Matthew A. (2014). "Alexander and Ada Reconsidered". Classical Philology. 109 (3): 213. doi:10.1086/676285. ISSN0009-837X. Hecatomnus had several children, all of whom would rule at some point following his death. After his eldest son Mausolus, his other children were Artemisia, Idrieus, Ada, and Pixodarus. The children of Hecatomnus practiced monogamous sibling marriage, with Mausolus marrying Artemisia and Idrieus marrying Ada.
Artikel inimenyertakan teks dari suatu terbitan yang sekarang berada pada ranah publik:Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Mausolus". Encyclopædia Britannica. Vol.17 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm.917.;
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Mausolus.
Livius, Mausolus oleh Jona Lendering (dalambahasaInggris Amerika)