Matsya (Dewanagari: मत्स्य;,IAST:Matsya,मत्स्य) adalah awataraWisnu yang berwujud ikan raksasa menurut kepercayaan Hindu.[2] Dalam bahasa Sanskerta, kata matsya sendiri berarti ikan.[3][4] Menurut mitologi Hindu, Matsya muncul pada masa Satyayuga, pada masa pemerintahan Raja Satyabrata (lebih dikenal sebagai Maharaja Waiwaswata Manu), putra Wiwaswan, dewa matahari. Matsya turun ke dunia untuk memberi tahu Maharaja Manu mengenai bencana air bah yang akan melanda bumi. Ia memerintahkan Maharaja Manu untuk segera membuat bahtera besar.[5]
Kisah dengan tema serupa juga ditemukan dalam kisah NabiNuh menurut agama Abrahamik, yang konon membuat bahtera besar untuk melindungi umatnya dari bencana air bah yang melanda bumi. Kisah dengan tema yang sama juga ditemukan di beberapa negara, seperti kisah dari penduduk asli Amerika dan dari Yunani.
Mitologi
Kisah tentang Matsya dapat disimak dalam Matsyapurana dan juga Purana lainnya. Diceritakan bahwa pada saat Raja Satyabrata (yang lebih dikenal sebagai Waiwaswata Manu) mencuci tangan di sungai, seekor ikan kecil menghampiri tangannya dan sang raja tahu bahwa ikan itu meminta perlindungan. Akhirnya ia memelihara ikan tersebut. Ia menyiapkan kolam kecil sebagai tempat tinggal ikan tersebut. Namun lambat laun ikan tersebut bertambah besar, hampir memenuhi seluruh kolam. Akhirnya ia memindahkan ikan tersebut ke kolam yang lebih besar. Kejadian tersebut terus terjadi berulang-ulang sampai akhirnya dia sadar bahwa ikan yang ia pelihara bukanlah ikan biasa.[6]
Akhirnya melalui upacara, diketahuilah bahwa ikan tersebut merupakan penjelmaan Dewa Wisnu. Dalam versi lain, ikan itu dibawa ke samudra. Ikan itu sendiri menyampaikan kabar bahwa di bumi akan terjadi bencana air bah yang sangat hebat selama tujuh hari. Ikan itu berpesan agar sang raja membuat sebuah bahtera besar untuk menyelamatkan diri dari banjir besar, dan mengisi bahtera tersebut dengan berbagai makhluk hidup yang setiap jenisnya berjumlah sepasang (betina dan jantan), serta membawa obat-obatan, makanan, bibit segala macam tumbuhan, dan mengajak Saptaresi (tujuh nabi).[7][8] Ikan tersebut juga menambahkan bahwa setelah banjir besar tiba, diharapkan agar bahtera tersebut diikat ke tanduk sang ikan dengan naga Basuki sebagai talinya. Setelah menyampaikan seluruh pesan, ikan ajaib tersebut menghilang.[9]
Menurut Matsyapurana, seratus tahun kemudian, kekeringan yang hebat melanda bumi. Banyak makhluk yang mati kelaparan. Kemudian, langit dipenuhi oleh tujuh macam awan yang mencurahkan hujan lebat tak terhentikan. Dengan cepat, air yang dicurahkan menutupi daratan di bumi. Oleh karena Waiwaswata Manu sudah membuat bahtera sesuai dengan petunjuk yang disampaikan awatara Wisnu, maka ia beserta pengikutnya selamat dari bencana.[10][11]
Penggambaran
Manu dan tujuh resi menaiki bahtera (kiri). Matsya menghadapi raksasa yang muncul dari kerang ajaib. Empat kitab Weda di dekat wajah Wisnu, dengan Brahma berada di sisi kanan Matsya.
Matsya digambarkan dalam dua jenis: berwujud ikan sepenuhnya (zoomorfik) atau berwujud manusia ikan dan sebaliknya (antropomorfik). Kitab Agnipurana menguraikan wujud Matsya yang zoomorfik.[12] Kitab Wisnudharmottarapurana menyarankan agar Matsya digambarkan sebagai ikan bertanduk.[13]
Dalam wujud antropomorfik, bagian atas tubuhnya berbentuk manusia berlengan empat, sementara bagian bawahnya berwujud ikan. Bentuk tubuh atasnya menyerupai Wisnu yang memakai busana tradisional dan kirita-mukuta (mahkota mengerucut) sebagaimana yang biasa dikenakan Wisnu. Dua tangannya memegang Cakra Sudarsana (cakram) dan sebuah sangka, atribut yang umum dibawa oleh Wisnu. Sementara dua tangan lainnya membentuk gesturwaradamudra yang melimpahkan anugerah kepada pemujanya, dan abhayamudra, yang menjamin keselamatan bagi para umatnya.[14] Dalam penggambaran yang lain, ia ditampilkan membawa keempat atribut Wisnu, masing-masing bernama Cakra sudarsana, sangka, gada, dan teratai.
Dalam beberapa penggambaran, Matsya tampak dengan empat lengan seperti Wisnu, yang satu memegang cakra, yang lainnya sangka, sedangkan dua lainnya memegang pedang dan kitab yang melambangkan terselamatkannya Weda dari tangan raksasa. Di dadanya ada selempang anggawastra, sementara pinggulnya ditutupi kain mirip dhoti.[15]
Dalam penggambaran yang langka, tubuhnya berbentuk manusia kecuali bagian atas (atau hanya kepala saja) yang masih berbentuk ikan. Versi berwajah ikan ini terdapat di kuil Chennakesava, Somanathapura.[16]
Matsya dapat digambarkan sendirian atau tampak sedang bertarung dengan raksasa. Seorang raksasa bernama Sangkasura yang muncul dari kerang laut kadangkala digambarkan sedang menyerang Matsya dengan pedang. Keduanya digambarkan berada di lautan, sementara Dewa Brahma (atau pustaka, atau empat manusia) yang melambangkan Weda digambarkan di latar belakangnya.[15] Dalam beberapa ilustrasi, Matsya digambarkan sebagai ikan yang menarik bahtera yang ditumpangi Manu dan Saptaresi.
↑Mayrhofer, Manfred (1996). Entry “mátsya-”. In: Etymologisches Wörterbuch des Altindoarischen [Etymological Dictionary of Old Indo-Aryan] Volume II. Heidelberg: Carl Winter Universitätsverlag, 1996. pp. 297-298. (In German)
*Urutan awatara Wisnu kedelapan dan kesembilan tergantung tradisi. Beberapa aliran Hindu memasukkan Buddha, sedangkan yang lain memasukkan Baladewa dan menghilangkan Kresna.