Mastif Tibet adalah ras anjing besar yang berasal dari Tibet. Bulu gandanya memiliki panjang sedang hingga panjang, tergantung pada iklim tempat tinggalnya, dan dapat berwarna hitam pekat, kombinasi hitam-cokelat, berbagai nuansa merah mulai dari emas pucat hingga merah tua, serta abu-abu kebiruan yang menyerupai hitam encer. Beberapa individu juga memiliki tanda putih di sekitar leher, dada, dan kaki. Menurut American Kennel Club, jantan Mastif Tibet biasanya memiliki berat antara 40–70 kg, sedangkan betina berkisar antara 30–55 kg.[2]
Nama
Sebutan “mastif” diberikan oleh orang Eropa yang pertama kali datang ke Tibet, karena di Barat istilah ini digunakan untuk hampir semua ras anjing besar. Pengunjung Barat awal kerap salah menamai beberapa ras, misalnya menyebut Terier Tibet padahal bukan terier, atau Spaniel Tibet padahal bukan spaniel. Nama yang lebih tepat untuk ras ini mungkin “anjing gunung tibet” atau, untuk mencakup berbagai ras lokal di seluruh wilayahnya, “anjing gunung himalaya”.[3]
Deskripsi
Anjing ini umumnya memiliki daya tahan yang cukup untuk bertahan di Tibet, Ladakh, dan wilayah dataran tinggi Himalaya lainnya. Perilaku naluriah, termasuk perilaku kawanan, membantu ras ini tetap hidup di lingkungan yang keras. Mastif Tibet termasuk salah satu dari sedikit ras anjing primitif yang hanya mengalami satu siklus estrus setiap tahun, berbeda dengan kebanyakan anjing yang biasanya dua kali setahun, bahkan saat berada di ketinggian lebih rendah atau iklim lebih sedang dibanding habitat aslinya. Pola ini mirip dengan canidae liar seperti serigala dan hewan liar lainnya. Karena estrus terjadi pada akhir musim gugur, sebagian besar anak anjing Mastif Tibet lahir antara Desember dan Januari.[4]
Bulu Mastif Tibet tidak memiliki bau khas anjing besar yang sering ditemui pada banyak ras besar lainnya. Bulu mereka, terlepas dari panjang atau warnanya, seharusnya tidak mengeluarkan kotoran atau bau. Meskipun anjing ini mengalami rontok sepanjang tahun, biasanya terdapat satu periode pergantian bulu utama di akhir musim dingin atau awal musim semi, dan terkadang pergantian bulu tambahan yang lebih kecil di akhir musim panas atau awal musim gugur. Sterilisasi anjing dapat secara signifikan memengaruhi bulu, termasuk tekstur, kepadatan, dan pola rontoknya.[5]