Masjid Syuhada Paringin merupakan masjid bersejarah yang terletak di Desa Hujan Mas, Kecamatan Paringin, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan Selatan.[1] Pembangunan masjid ini diperkirakan berlangsung sekitar tahun 1930 atas prakarsa H. Arsyad bin H. Syukur, seorang ulama dan pejuang lokal yang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Martasura. Sebagai masjid tertua kedua di wilayah Kabupaten Balangan setelah Masjid Jannatul Ma'wa di Desa Buntu Karau, bangunan ini memperoleh status sebagai cagar budaya pada tahun 2011 melalui proses penetapan resmi.[2]
Arsitektur
Masjid Syuhada Paringin menampilkan karakteristik arsitektur yang memadukan unsur tradisional Kalimantan Selatan dengan nilai-nilai Islam. Bangunan ini didominasi oleh material kayu ulin berkualitas tinggi, khususnya pada soko guru (tiang utama) yang berbentuk tunggal dan tidak bersambung. Awalnya berjumlah dua tiang sebelum salah satunya hilang akibat bencana alam.[2][3]
Sistem atap menerapkan bentuk tumpang tiga yang khas masjid tradisional daerah ini, mengalami evolusi material dari sirap kayu menjadi genteng multiroof biru. Desain bangunan dilengkapi teras keliling di tiga sisi, sementara struktur dindingnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu tembok bawah setinggi 70cm, jendela kaca di bagian tengah, dan papan kayu di bagian atas. Tujuh pintu masuk dihiasi kaca permanen bertuliskan kalimat syahadat.[2][3]
Mihrab segi lima menjadi penanda arsitektur masjid kuno Kalimantan Selatan, sementara tiang-tiang dalam ruangan dihiasi motif flora dan kaligrafi Arab yang memperkaya nilai estetika. Secara filosofis, bangunan ini mengandung prinsip etnomatematika melalui berbagai bentuk geometris seperti lingkaran pada tajau dan beduk, persegi panjang pada jendela, serta bentuk persegi dan balok pada elemen struktur lainnya. Lokasi masjid di tepi Sungai Balangan mengikuti pola tata ruang tradisional yang memiliki makna simbolis dan praktis.[1][3]
Sejarah
Masjid ini awalnya berdiri di lokasi berbeda, Awalnya, namun karena pernah terjadi pertempuran antara penduduk pribumi melawan Belanda di lokasi tersebut yang menewaskan empat orang pribumi, masyarakat memutuskan untuk memindahkan masjid sekitar 500 meter dari lokasi awal demi menjaga kesucian tempat ibadah. Nama Syuhada sendiri diberikan untuk menghormati para pahlawan yang gugur dalam pertempuran tersebut. Selama perkembangannya, masjid mengalami dua kali renovasi besar yakni pada tahun 1990 dan 2013 yang meliputi penguatan struktur lantai dan teras dengan cor beton untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan beribadah, sambil tetap mempertahankan karakter arsitektur aslinya.[3]
1234KAMILA, TASYA (2023). "EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA DAN FILOSOFI NILAINILAI ISLAM PADA ARSITEKTUR MASJID SYUHADA BALANGAN". Skripsi UIN Antasari.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.