Pada mulanya lahan tempat masjid itu berdiri adalah rawa yang tak terurus. Kemudian, seorang mualaf keturunan Tionghoa asal Bobotsari, Purbalingga, Hery Susetyo dan lembaga PITI meminta izin kepada warga untuk mendirikan masjid. Pada tahun 2003, dibentuklah panitia untuk merencanakan pembangunan masjid. Hery Susetyo yang merupakan Ketua PITI Purbalingga mengemukakan gagasan agar masjid dirancang dengan bentuk yang terinspirasi dari arsitektur klenteng, sebagai representasi akulturasi budaya.[5]
Pada tahap awal, masjid ini direncanakan bernama Masjid Jami’ An-Naba Tansibi. Namun, nama tersebut kemudian berubah menjadi Masjid Jami' PITI Muhammad Cheng Hoo. Istilah “Jami’” merujuk pada masjid dalam bahasa Arab, sedangkan “PITI” merupakan singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, organisasi yang didirikan di Jakarta pada 14 April 1961 oleh sejumlah tokoh, di antaranya Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong, Kho Goan Tjin, dan Ahmad Tanoesoedibjo. Nama “Muhammad” diambil dari salah satu donatur, sementara “Cheng Hoo” merujuk pada Zheng He, seorang laksamana dan penjelajah pada masa Dinasti Ming yang dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim yang berperan dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Pembangunan resmi dimulai saat momen peletakan batu pertama pada 20 Maret 2005 yang bertepatan dengan 20 Safar 1426 H. Pembangunan masjid sempat terhenti pada tahun 2006 dan mengalami jeda sekitar dua tahun. Pembangunan kemudian dilanjutkan kembali pada tahun 2008 melalui pembentukan ulang panitia serta penggalangan dana dari para donatur. Proses pembangunan kembali berlanjut pada Oktober 2010, Salah satu penyumbang yang terlibat bernama Muhammad Aksan Juned yang berasal dari Pekalongan, nama Muhammad nya turut dijadikan bagian nama dalam masjid ini. Pembangunan Masjid selesai pada Juni 2011 kemudian diresmikan pada 5 Juli 2011.[6]
Arsitektur
Masjid Cheng Hoo Purbalingga memiliki arsitektur menyerupai klenteng sebagai bentuk akulturasi. Bangunan didominasi warna merah terang dan dihiasi berbagai ornamen serta lampion khas Tionghoa. Bagian atap dirancang melengkung menyerupai pagoda dengan tiga tingkatan, yang memadukan elemen budaya Tionghoa dan Jawa.[6]
Bentuk jendela menyerupai motif jaring laba-laba yang sebenarnya merupakan bentuk kaligrafi Arab. Motif laba-laba tersebut dalam budaya Tionghoa kerap dikaitkan dengan simbol keberuntungan. Pada papan nama masjid juga tertera tulisan nama masjid dalam Aksara Han sederhana. Masjid ini memiliki kombinasi warna merah, kuning, dan hijau. Dalam tradisi Tionghoa, merah dimaknai sebagai simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran, hijau dan kuning sebagai simbol kesejukan dan keseimbangan.[6]
Sejumlah elemen bangunan di area masjid dirancang berjumlah delapan, termasuk tiang utama (saka). Angka delapan dalam budaya Tionghoa dipandang sebagai angka yang melambangkan keberuntungan dan dikaitkan dengan delapan arah mata angin, yang dimaknai sebagai harapan datangnya kebaikan dari berbagai penjuru. Atap masjid yang terdiri atas tiga tingkat juga memiliki makna simbolik, yang dikaitkan dengan konsep Islam, Iman, dan Ihsan. Ketiga konsep tersebut dalam ajaran Islam dipahami sebagai landasan pembentukan akhlak dan praktik keagamaan, serta sering dijelaskan sebagai unsur yang saling melengkapi satu sama lain.[6]