Manggis adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Leksono, kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini berada di sebelah utara kecamatan Leksono yang berberjarak 8 Km dari ibu kota kecamatan dan 11 Km dari ibu kota Kabupaten Wonosobo ke arah barat. Desa Manggis terkenal sebagai daerah penghasil salak pondoh di wilayah Kabupaten Wonosobo. Desa ini juga mempunyai stadion dan lapangan terbesar se-Wonosobo yaitu Stadion Tanggul Asih.
Desa Manggis berada pada ketinggian 815 hingga 880 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga udaranya sejuk dengan suhu rata-rata 23°C dan curah hujan tahunan mencapai 2500mm. Desa seluas 332.424 m² ini memiliki topografi berbukit-bukit, mengakibatkan jarak antara keempat dusunnya relatif jauh. Setiap dusun terletak di bukit yang berbeda, menciptakan pemandangan alam yang memukau saat bepergian antar dusun. Selain keindahan alamnya, setiap dusun juga memiliki kekhasan budaya tersendiri.
Desa ini dihuni oleh 2.757 jiwa yang terdiri dari 766 kepala keluarga. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani (408 orang), diikuti oleh pekerja home industry (97 orang), tukang kayu/batu (67 orang), buruh tani (50 orang), pedagang (37 orang), PNS (15 orang), pensiunan (5 orang), dan sisanya bekerja serabutan.
Jarak Desa Manggis ke ibu kota kecamatan adalah 8km, sedangkan ke ibu kota kabupaten berjarak 15km ke arah barat dengan kondisi jalan beraspal yang baik. Karena Kabupaten Wonosobo merupakan wilayah pegunungan, perjalanan menuju kecamatan maupun kabupaten menawarkan pemandangan alam yang asri dan menyejukkan.
Desa Manggis memiliki potensi wisata alam yang belum tergarap maksimal, seperti:
Air Terjun Si Barat – Terletak di kawasan hutan pinus.
Bukit Genthing dan Njaten – Bisa dikembangkan sebagai lokasi resor.
Lapangan Desa – Menawarkan pemandangan Kota Wonosobo, cocok untuk gardu pandang.
Dengan kekayaan alam, budaya, dan sejarahnya, Desa Manggis memiliki peluang besar menjadi destinasi agrowisata dan wisata budaya di Wonosobo. Jika dikelola dengan baik, desa ini dapat menjadi contoh pembangunan berkelanjutan yang memadukan tradisi dan modernitas.