"Man of the Year" adalah lagu oleh penyanyi dan penulis lagu Selandia Baru Lorde. Yang dirilis pada 29 Mei 2025 melalui Universal dan Republic Records sebagai single kedua dari album studio keempatnya Virgin (2025). Ditulis dan diproduksi oleh Lorde dan Jim-E Stack, lagu tersebut diumumkan oleh penyanyi tersebut di media sosial pada 20 Mei 2025.[3]
Secara lirik, "Man of the Year" membahas tentang identitas gender dan penemuan jati diri, dan ditulis saat Lorde mengkesplorasi ekspresi gendernya setelah menghadiri pesta GQ pada November 2023.[4][5] Video musik yang menyertainya, yang di mana penyanyi tersebut merekam dadanya yang telanjang dan menari di loteng yang dipenuhi tanah, dicatat oleh kritikus sbeagai simbol tema otonomi tubuh, ekspresi diri dan fluiditas gender.[6][7]
Latar belakang
Lorde mengumumkan perilisan single barunya "Man of the Year" melalui klip teaser yang diunggah di Instagram, yang mengungkap bahwa lagu tersebut akan dirilis pada 29 Mei 2025, dengan video musik.[8] Berfungsi sebagai single kedua dari album mendatangnya Virgin, lagu tersebut mengikuti single utama April "What Was That".[9] Sebelum perilisan lagu tersebut, Lorde berbagi bahwa lagu tersebut mengeksplorasi tema-tema yang terkait dengan perkembangan rasa identitas gendernya, yang mulai ia pahami lebih baik setelah menghetikan penggunakan kontrasepsi oral.[10]
Dalam wawancara dengan acara radio Australia Triple J, Lorde berbagi bahwa ia mulai menulis lagu tersebut dengan Jim-E Stack sehari setelah ia menghadiri pesta GQ 'Men of the Year' pada November 2023.[11] Sebelum menulis "Man of the Year", Lorde sedang duduk di lantai ruang tamunya, "mencoba memvisualisasikan versi dirinya yang sepenuhnya mewakili bagaimana fully [jenis kelaminnya] terasa pada saat itu." Yang ia bayangkan adalah dirinya sendiri dalam celana jins pria, hanya memakai rantai emas dan lakban di dadanya—sebuah gambaran yang menurutnya terasa mentah dan tidak kekal.[12] Sampul untuk single tersebut menggambarkan Lorde memakai jins biru, topless dengan dadanya dilakban dengan lakban perak.[13] Sehari sebelum perilisan lagu tersebut, Lorde menggelar acara pop-up di Auckland, Selandia Baru, yang di mana ia memainkan lagu tersebut untuk penggemar di kamar mandi YMCA.[14]
Penerimaan kritikus
Fran Hoepfner dari Vulture memuji lagu tersebut, dan menyebutnya "bukan sekadar pengulangan artistik" yang "mengambil semua yang membuat tiga album terakhir hebat dan menyalurkannya menjadi satu lagu utuh".[15] Dalam ulasan beragam, Walden Green dari Pitchfork menulis bahwa lagu tersebut "tidak memiliki puncak atau lembah; lagu itu naik dan naik dan naik lalu hilang," dan membandingkannya dengan "Green Light" milik Lorde dan "Solo" milik Frank Ocean yang dinyanyikan oleh Lorde pada Melodrama World Tour.[16]
Video musik
Kritikus mencatat adanya kemiripan antara latar video msuik dan iinstalasi seni The New York Earth Room.[17]
Sebuah video musik untuk lagu tersebut dirilis bersamaan dengan lagu tersebut, yang disutradarai oleh Grant Singer, yang menampilkan Lorde menari mengikuti lagu tersebut dengan lakban di dadanya dan menari di atas pasir di loteng yang kosong.[18] Dalam tulisannya untuk ARTnews, Tessa Solomon menyatakan bahwa "lakban tersebut menjadi sarana pembebasan saat ia melompat, merangkak, dan berjingkrak-jingkrak di atas tumpukan tanah dalam tarian modern yang gila."[17]
Kritikus menafsirkan latar video tersebut sebagai penghormatan kepada instalasi seni The New York Earth Room, sebuah apartemen yang dipenuhi tanah oleh seniman Walter De Maria.[15][17]