Desa Malewa, yang terletak di Kecamatan Tojo Barat, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, memiliki sejarah yang dalam yang bermula dari pemukiman masyarakat Pakambia. Masyarakat ini menerima tanah sebagai tanda penghargaan dari Mokole Pile Witi, seorang raja Tojo, sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh masyarakat Pakambia.
Kampung Gandalari
Kampung pertama yang didirikan oleh masyarakat Pakambia di wilayah Malewa adalah Gandalari. Nama ini berasal dari tradisi budaya lokal yang terkait dengan pesta panen atau upacara padungku. Dalam ritual moende yang merupakan bagian dari perayaan tersebut, masyarakat Pakambia pada umumnya memainkan gendang sebagai simbol kebersamaan dan perayaan hasil panen. Namun, karena sulitnya mendapatkan gendang kulit asli dari Poso, mereka mengganti dengan menggunakan sebuah pohon berlubang. Pohon tersebut kemudian dinamakan "Ganda Lari," yang menjadi cikal bakal penamaan kampung Gandalari.
Sakit penyakit
Sebelum kedatangan etnis lain, setelah terjadi wabah penyakit yang mengakibatkan penurunan jumlah penduduk, masyarakat Pakambia mengambil langkah strategis untuk mempertahankan keberlangsungan dan identitas etnis mereka. Komunitas tersebut dibagi menjadi empat kelompok. Tiga kelompok memilih bermigrasi ke wilayah Tanamawau, Anca, dan Buyuntaripa. Strategi pemindahan ini dirancang untuk mendistribusikan risiko dan meningkatkan ketahanan populasi terhadap ancaman penyakit serta menjaga nilai-nilai budaya yang telah lama berkembang. Kelompok keempat tetap bertahan di Gandalari, mempertahankan warisan dan tradisi yang telah menjadi identitas awal pemukiman.
Perkembangan Selanjutnya dan Integrasi Etnis Lain
Seiring berjalannya waktu, Desa Malewa mulai mengalami perubahan dengan kedatangan dua kelompok etnis lain, yaitu penduduk dari Bada dan To Rampi. Orang-orang Bada datang ke wilayah Malewa dengan tujuan mencari pekerjaan. Mereka kemudian memutuskan untuk menetap di desa tersebut, membangun relasi yang harmonis dengan penduduk Pakambia yang telah lebih dahulu menghuni daerah itu. Selanjutnya, para To Rampi, atau orang Rampi, turut bergabung. Kedatangan mereka dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk mencari garam, yang pada masa itu menjadi komoditas penting untuk kebutuhan domestik.
Dampak Pendudukan Jepang dan Perkembangan Desa
Pada masa pendudukan Jepang, sekitar tahun 1943 hingga 1945, wilayah yang kini dikenal sebagai Kampung Tua Malewa menjadi salah satu lokasi strategis yang dikelola oleh pemerintah pendudukan. Jepang mendirikan sebuah sekolah dasar yang hingga kini dikenal sebagai SDN Malewa. Selain itu, warga diminta untuk berpindah ke dataran yang kini menjadi lokasi Desa Malewa modern, dengan alasan mempermudah pengaturan dan administrasi oleh pihak Jepang.
Dampak Konflik Poso Tahun 2000
Pada awal tahun 2000, ketika konflik Poso meluas, Desa Malewa turut terdampak. Sebagai desa dengan mayoritas penduduk Kristen yang berada di wilayah mayoritas Muslim, masyarakat Malewa menghadapi situasi sulit selama kerusuhan. Penduduk desa terpaksa mengungsi ke hutan dan bertahan selama sembilan hari dalam kondisi darurat. Bantuan akhirnya tiba melalui Sinode, yang mengungsikan sebagian warga ke Tentena dan sebagian lainnya ke Ratoombu.
Data dari Kementerian Agama tahun 2020, sekitar 91,22% (151.327 jiwa) memeluk agama Islam.[1] Kemudian 8,21% (13.605 jiwa) memeluk agama Kristen, dimana Protestan 7,05% (11.688 jiwa)[2] dan Katolik 1,16% (1.917 jiwa).[3]. Kemudian Hindu 0,42% (696 jiwa)[4] dan sebagian kecil beragama Buddha 0,15% (257 jiwa).[5]