Maleo kerah coklat atau maleo kaki merah (Talegalla jobiensis) merupakan spesies burung dalam famili Megapodiidae yang tersebar di bagian utara Pulau Papua. Spesies ini menghuni berbagai tipe habitat hutan tropis. Habitat alaminya meliputi hutan dataran rendah lembap hingga hutan pegunungan lembap subtropis atau tropis.[1] Burung ini termasuk kelompok megapoda yang dikenal memiliki strategi reproduksi yang khas.
Sebagai anggota Megapodiidae, Talegalla jobiensis tidak mengerami telurnya secara langsung menggunakan panas tubuh induk. Sebaliknya, spesies ini memanfaatkan sumber panas alami dari lingkungan untuk proses inkubasi telur. Sumber panas tersebut dapat berasal dari radiasi matahari maupun panas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan organik.[2] Strategi ini merupakan ciri khas utama famili Megapodiidae.
Perilaku reproduksi tersebut juga ditemukan pada kerabat dekatnya, seperti burung gosong kaki merah (Megapodius reinwardt). Pada kelompok ini, keberhasilan penetasan telur sangat bergantung pada kondisi habitat sarang. Faktor ekotipologi lokasi sarang menjadi penentu penting dalam keberhasilan reproduksi.[3] Oleh karena itu, ketersediaan habitat yang sesuai sangat berpengaruh terhadap kelangsungan populasi.
Berbeda dengan beberapa megapoda lain yang memanfaatkan pantai berpasir atau sumber panas bumi, Talegalla jobiensis cenderung membangun gundukan sarang di dalam hutan. Gundukan tersebut tersusun dari tumpukan dedaunan, tanah, dan bahan organik lainnya. Proses dekomposisi mikrobial pada gundukan menghasilkan panas yang digunakan untuk menginkubasi telur. Mekanisme ini umum dijumpai pada beberapa anggota Megapodiidae.[4]
Telur burung megapoda umumnya berukuran relatif besar dibandingkan ukuran tubuh induknya. Telur tersebut memiliki cangkang yang cukup tipis tetapi tetap kuat untuk memungkinkan pertukaran gas selama inkubasi. Kondisi fisik sarang seperti suhu, kelembapan, dan aerasi sangat memengaruhi perkembangan embrio. Faktor-faktor tersebut menentukan tingkat keberhasilan penetasan.[5]
Setelah menetas, anakan megapoda bersifat super-precocial, yaitu mampu bergerak dan mandiri dalam waktu singkat. Anak burung biasanya segera menuju vegetasi terdekat untuk mencari perlindungan. Struktur vegetasi di sekitar lokasi sarang menjadi faktor penting bagi kelangsungan hidup anakan. Vegetasi yang kompleks membantu mengurangi risiko predasi dan gangguan lingkungan.[6]