Majasto (bahasa Jawa:Majastacode: jv is deprecated ) adalah desa di kecamatanTawangsari, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Letak Desa Majasto berdekatan dengan Desa Ponowaren. Fasilitas umum yang ada di Desa Majasto adalah PUSKESMAS pembantu, Balai Desa, SD, PAUD, dan TK. Mayoritas penduduk di Desa Majasto bekerja sebagai butuh tani dan buruh pabrik.
Padi merupakan hasil bumi utama di Desa Majasto dengan lima kali panen dalam kurun waktu dua tahun. Sistem irigasi yang digunakan adalah mengandalkan air yang berasal dari Waduk Gajah Mungkur yang kemudian dialirkan ke sawah-sawah dengan menggunakan diesel. Nantinya, petani harus menyisihkan beberapa baris padinya sebagai upah pengelola (pemilik) diesel yang digunakan untuk menyedot aliran air di sungai.
Desa Majasto memiliki tempat pemancingan yang terletak tidak jauh dari Balai Desa Majasto. Selain pemancingan, Desa majasto juga menjadi tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi wisatawan pada hari-hari tertentu. Desa Majasto juga menjadi tujuan wisata oleh wisatawan dari luar Desa Majasto karena fashionnya.
Terdapat beberapa toko pakaian yang sering ramai dikunjungi oleh pembeli.
Desa Majasto tidak hanya peduli dengan kulinernya (aneka produk UMKM, seperti kembang goyang, keripik basreng dan bawang goreng), tapi juga peduli dengan pemberdayaan masyarakatnya, seperti dengan adanya pojok baca, bimbingan belajar, latihan tari bersama, serta daur ulang sampah.
Sejarah
Majasto merupakan desa Pardikan sejak Keraton Pajang, ini merupakan desa merdeka yang terbebas dari pajak. Dalam Java Oorlog (Perang Jawa) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1925-1930, Majasto masuk dalam daftar tempat yang dijadikan Pangeran sebagai tempat berguru sekaligus penyokong utama pemberontakan. Dalam Sisi Lain Diponegoro yang ditulis Peter Carey, disebutkan bahwa "menjelang pecahnya perang Jawa, pangeran Danurejo IV (Patih Kasultanan Yogyakarta) menyatakan bahwa Diponegoro berencana pergi ke daerah perbukitan Majasto dekat Tembayat (Bayat). Maksudnya untuk mengibarkan panji-panji pemberontakan dalam bulan Sura (15 Agustus-12 September 1825) dan bahwa ia juga telah mengirim seorang pejabat untuk memanggil semua penduduk dari Tembayat."
Keterlibatan Majasto ini disebabkan oleh Ibunda Pangeran (R.A Mangkarawati) yang dilahirkan di Majasto, serta sejarah tempat tersebut yang melahirkan ulama bersama bukit Tembayat (Bayat). Panggilan Pangeran tersebut dijawab dengan datangnya Kiai Madja sebagai tangan kanan Pangeran. Kiai Madja merupakan salah satu ulama dari Majasto yang kala itu membantu Pemberontakan Pangeran Diponegoro.[1]
Sampai saat ini, Bukit Majasto masih dianggap tempat wingit oleh masyarakat sekitar Tawangsari. Terdapat makam Ki Ageng Sutawijaya serta masjid diatas bukit yang diperkirakan dibangun pada tahun 1470 Masehi. Menurut sejarah tutur masyarakat sekitar, Ki Ageng Sutawijaya merupakan keturunan Brawijaya (Dyah Ranawijaya?) yang memeluk agama Islam atas bimbingan Sunan Kalijaga.[2]