Meutya dan Fajrie merupakan pasangan suami istri yang sukses dalam karier masing-masing. Meski kehidupan mereka terlihat sempurna, keduanya mendambakan kehadiran buah hati untuk melengkapi rumah tangganya. Namun, keinginan tersebut tidak mudah diwujudkan. Pertanyaan “kapan punya anak?” dari orang-orang di sekitar mereka menjadi doa sekaligus tekanan yang menimbulkan pergulatan batin.
Beragam cara dan program kehamilan mereka jalani. Mulai dari metode alternatif yang diyakini masyarakat hingga upaya medis, termasuk mengikuti program bayi tabung. Dalam prosesnya, Meutya dan Fajrie menghadapi banyak tantangan, kegagalan, dan rasa kehilangan. Salah satu titik terendah dalam perjuangan mereka adalah saat Meutya mengalami keguguran, yang membuatnya hampir menyerah.
Namun, Fajrie tetap setia mendampingi istrinya, memberikan dukungan tanpa henti dalam setiap langkah perjuangan. Setelah melewati tiga kali keguguran dalam setahun dan melalui berbagai rintangan emosional, Meutya akhirnya berhasil mengandung dan melahirkan anak pertama mereka pada usia 44 tahun.