Ibu kota London dibom oleh Luftwaffe selama 57 malam berturut-turut.[2] Lebih dari satu juta rumah dan bangunan di London hancur atau rusak, dan lebih dari 40.000 jiwa warga sipil tewas, hampir setengah dari penduduk yang menetap di pusat kota London pada saat itu.[3]
Pelabuhan dan pusat-pusat industri di luar London juga diserang; Liverpool, yang merupakan pelabuhan laut utama Atlantik adalah kota terparah yang dibom di luar London, dengan total korban jiwa hampir 4.000 jiwa.[4][5] Kota-kota pelabuhan lain seperti Bristol, Cardiff, Hull, Plymouth, Southampton dan Swansea juga menjadi sasaran Jerman. Kota-kota industri seperti Birmingham, Belfast, Coventry, Glasgow, dan Manchester juga tak luput dari serangan. Birmingham dan Coventry adalah dua kota yang sangat ditargetkan karena menjadi lokasi dari pabrik pesawat tempurSupermarine Spitfire, tank dan amunisi. Pusat kota Coventry nyaris hancur seluruhnya setelah diserang.[6]
Pengeboman itu tidak mencapai tujuan utamanya, yaitu untuk membuat Britania Raya menyerah atau secara signifikan merusak perekonomian dan militer mereka.[7] Sebaliknya, pengeboman selama delapan bulan tersebut sama sekali tidak menghambat perekonomian dan industri Britania Raya dan negara itu tetap melanjutkan peperangan.[8]The Blitz turut memicu Operasi Singa Laut, yaitu rencana invasi Jerman terhadap Britania Raya. Pada bulan Mei 1941, ancaman invasi Jerman atas Britania ini tidak terjadi, dan perhatian Hitler selanjutnya terfokus pada Operasi Barbarossa di Eropa Timur.
Dibandingkan dengan aksi pengeboman yang dilancarkan oleh Sekutu dalam melawan Jerman, korban akibat peristiwa The Blitz ini relatif rendah. Sebagai contoh, Pemboman Hamburg di Jerman mengakibatkan tewasnya warga sipil kurang lebih 42.000 jiwa.[9]
Beberapa alasan telah dikemukakan terkait dengan kegagalan serangan udara Jerman atas Britania. Pertama, Komando Tinggi Luftwaffe (Oberkommando der Luftwaffe, atau OKL) gagal dalam mengembangkan strategi jangka panjang yang koheren untuk menghancurkan industri perang Britania Raya. Kedua, Luftwaffe tidak memfasilitasi pelaksanaan serangan udara stratejik jangka panjang. Selain itu, pasukannya tidak dipersenjatai secara mendalam, dan juga kekuatan dari industri peperangan Britania yang tidak gampang terpuruk.[10]
Collier, Richard. Eagle Day: The Battle of Britain, 6 August – 15 September 1940. J.M Dent and Sons Ltd. 1980. ISBN 0-460-04370-6
Cooper, Matthew. The German Air Force 1933–1945: An Anatomy of Failure. New York: Jane's. 1981. ISBN 0-531-03733-9
Corum, James. The Luftwaffe: Creating the Operational Air War, 1918–1940. Kansas University Press. 1997. ISBN 978-0-7006-0836-2
de Zeng, Henry L., Doug G. Stankey and Eddie J. Creek. Bomber Units of the Luftwaffe 1933–1945: A Reference Source, Volume 1. Hersham, Surrey, UK: Ian Allen Publishing, 2007. ISBN 978-1-85780-279-5.
de Zeng, Henry L., Doug G. Stankey and Eddie J. Creek. Bomber Units of the Luftwaffe 1933–1945: A Reference Source, Volume 2. Hersham, Surrey, UK: Ian Allen Publishing, 2007. ISBN 978-1-903223-87-1.
Faber, Harold. Luftwaffe: An analysis by former Luftwaffe Generals. Sidwick and Jackson, London, 1977. ISBN 0-283-98516-X
Field, Geoffrey. 'Nights Underground in Darkest London: The Blitz, 1940–1941', in International Labour and Working-Class History. Issue No. 62, Class and Catastrophe: September 11 and Other Working-Class Disasters. (Autumn, 2002), pp.11–49.
Gaskin, M.J. Blitz: The Story of the 29th December 1940. Faber and Faber, London. 2006. ISBN 0-571-21795-8
Goss, Chris. The Luftwaffe Bombers' Battle of Britain. Crecy Publishing. 2000, ISBN 0-947554-82-3
Hall, Cargill. Case Studies In Strategic Bombardment. Air Force History and Museums Program, 1998. ISBN 0-16-049781-7.
Hill, Maureen. The Blitz. Marks and Spencer, London, 2002. ISBN 1-84273-750-3
Holland, James. The Battle of Britain: Five Months that Changed History. Bantam Press, London, 2007. ISBN 978-0-593-05913-5