Secara astronomis, Kecamatan Lohia terletak di bagian Selatan pulau Muna. Secara geografis, Lohia terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan di antara 4.510 – 4.570 Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur di antara 122.390 - 122.400 Bujur Timur.[[2]]
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tongkuno.
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kontunaga.
Luas daratan Kecamatan Lohia yaitu sekitar 49,81km 2 yang terletak di bagian Selatan Pulau Muna. Kecamatan Lohia terdiri atas 11 desa yaitu Liangkobori, Maabholu, Kondongia, Waara, Mantobua, Korihi,Lakarinta, Lohia dan Loghyia.
Kecamatan Lohia, mempunyai iklim tropis seperti sebagian besar daerah di Indonesia, dengan suhu rara-rata sekitar 26–30°C. Demikian juga dengan musim, Kecamatan Lohia mengalami dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
Pada umumnya musim hujan terjadi pada bulan Desember sampai dengan Juni. Sedangkan musim kemarau terjadi antara Juli sampai November. Secara rata-rata, banyaknya hari hujan tiap bulan pada tahun 2016 adalah 15 hari dengan rata-rata curah hujan 171,98mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember sebesar 280,00mm dengan jumlah hari hujan sebesar 20 hari hujan.
Pemerintahan
Kecamatan Lohia merupakan kecamatan yang berada dibawah administrasi pemerintahan Kabupaten Muna. Untuk menjalanakan fungsi pemerintahan, administrasi Pemerintahan di Kecamatan Lohia di bagi menjadi beberapa wilayah administrasi desa. Di mana tiap desa ini masing-masing dipimpin oleh kepala desa. Selain itu pula, di level bawah, administrasi di tiap desa dibagi menjadi Dusun/Lingkungan.
Desa
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah dan berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (UU No.32 tahun 2004). Kepala Desa dipilih secara langsung oleh masyarakat di desa tersebut.Setelah terjadi pemekaran desa pada tahun 2015, jumlah desa di Kecamatan Lohia menjadi 11 desa.;
Penduduk Kecamatan Lohia berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2016 sebanyak 14.543 jiwa yang terdiri atas 6.811 jiwa penduduk laki-laki dan 7.732 jiwa penduduk perempuan dengan jumlah rumah tangga sebesar 3.156 rumah tangga. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2016 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 88.
Kepadatan penduduk di Kecamatan Lohia tahun 2016 mencapai 292 jiwa/km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga 5 orang. Kepadatan Penduduk di 9 desa cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di desa Maabholu dengan kepadatan sebesar 480 jiwa/km2 dan terendah di desa Lakarinta sebesar 159 jiwa/km2.
Wabintingi dengan luas wilayah 6,25km2 jumlah penduduk sebesar 1.167 jiwa dengan kepadatan 187 jiwa/km2
Mantobua dengan luas wilayah 5,11km2 jumlah penduduk sebesar 2.255 jiwa dengan kepadatan 442 jiwa/km2
Lohia dengan luas wilayah 8,23km2 jumlah penduduk sebesar 1.819 jiwa dengan kepadatan 222 jiwa/km2
Korihi dengan luas wilayah 5,34km2 jumlah penduduk sebesar 1.611 jiwa dengan kepadatan 302 jiwa/km2
Waara dengan luas wilayah 3,59km2 jumlah penduduk sebesar 1.228 jiwa dengan kepadatan 342 jiwa/km2
Lakarinta dengan luas wilayah 5,11km2 jumlah penduduk sebesar 822 jiwa dengan kepadatan 159 jiwa/km2
Liangkabori dengan luas wilayah 4,20km2 jumlah penduduk sebesar 1.647 jiwa dengan kepadatan 393 jiwa/km2
Kondongia dengan luas wilayah 8,23km2 jumlah penduduk sebesar 2.195 jiwa dengan kepadatan 267 jiwa/km2
Mabholu dengan luas wilayah 3,75km2 jumlah penduduk sebesar 1.800 jiwa dengan kepadatan 480 jiwa/km2
Tabel 1 Penduduk desa menurut jenis kelamin, 2016
Desa
Penduduk
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
Liangkabori
801
846
1647
Maabolu
869
931
1800
Kondongia
1.069
1.126
2.195
Waara
581
647
1.228
Mantobua
1.050
1.205
2.255
Korihi
720
891
1.611
Lakarinta
394
428
822
Lohia
817
1.002
1.819
Wabintingi
506
661
1.167
La Wela
Data masih bergabung dengan desa induk
Kondongia Barat
Jumlah
6.811
7.732
14.543
Sosial
Pendidikan
Pelaksanaan pembangunan pendidikan di Kecamatan Lohia selama ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Indikator yang dapat mengukur tingkat perkembangan pembangunan pendidikan di Kecamatan Lohia seperti banyaknya sekolah, guru dan murid.
Tabel 2 Banyaknya Sekolah,Guru dan Murid Tingkat TK,SD,SMP dan SMA
Desa
TK
SD
SMP
SMA
Sekolah
Guru
Murid
Sekolah
Guru
Murid
Sekolah
Guru
Murid
Sekolah
Guru
Murid
Tetap
Honor
Tetap
Honor
Tetap
Honor
Tetap
Honor
Liangkabori
1
-
3
22
2
13
12
249
-
-
-
-
-
-
-
-
Maabolu
2
2
4
48
1
9
5
234
1
15
4
285
1
5
7
62
Kondongia
-
6
-
57
1
20
-
289
-
-
-
-
-
-
-
-
Waara
1
3
2
37
1
9
5
226
1
33
-
449
1
33
16
478
Mantobua
1
2
1
56
2
17
8
348
1
15
-
162
2
19
11
412
Korihi
1
2
4
53
1
7
3
128
-
-
-
-
-
-
-
-
Lakarinta
1
1
3
34
2
8
14
260
-
-
-
-
-
-
-
-
Lohia
1
-
3
32
3
19
10
197
-
-
-
-
-
-
-
-
Wabintingi
1
6
-
45
2
7
5
113
1
24
-
320
-
-
-
-
La Wela
-
-
-
-
1
6
5
97
-
-
-
-
-
-
-
-
Kondongia Barat
1
2
4
45
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Jumlah
10
24
24
429
16
115
67
2.141
4
87
4
1.216
4
57
34
952
Kesehatan
Untuk mencapai sasaran pembangunan di bidang kesehatan maupun di bidang program keluarga berencana, pemerintah Kabupaten Muna telah menggiatkan pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan dan keluarga berencana sampai ke pelosok pedesaan.
Jumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan lohia pada tahun 2016 disajikan pada Tabel 3. yaitu yang terdiri dari puskesmas 2 unit dan posyandu 7 unit.
Tabel 3 Banyaknya Sarana Kesehatan tiap desa
Desa
Puskesmas
Pustu
Balai
Pengobatan
Liangkabori
-
-
1
Maabolu
-
-
1
Kondongia
-
-
1
Waara
1
3
-
Mantobua
-
-
1
Korihi
-
-
1
Lakarinta
-
-
1
Lohia
1
-
-
Wabintingi
-
-
1
La Wela
-
-
-
Kondongia Barat
-
-
-
Jumlah
2
3
7
Agama
Kegiatan pembangunan di bidang agama seperti pembangunan sarana peribadatan di Kecamatan Lohia,pada tahun 2016 jumlah tempat peribadatan di Kecamatan Lohia terdiri dari mesjid 12 unit, langgar/surau/mushola.
Pertanian
Perkebunan
Komoditas utama perkebunan Kecamatan Lohia berupa kelapa, kopi, jambu mete dan coklat. Data produktivitas perkebunan tahun 2016 belum tersedia. Pada tahun 2014 produksi tanaman perkebunan terbesar adalah kelapa yang mencapai 1.200 ton.
Perikanan
Produksi perikanan di Kecamatan Lohia adalah perikanan tangkap. Pada tahun 2016 produksi perikanan tangkap mencapai 7.680 ton.
Energi dan Industri
Listrik
Di Kecamatan Lohia, kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik sebagian besar diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Raha, yang sebelumnya merupakan ranting dari PLN Cabang Bau-Bau, sedangkan bagi masyarakat yang tidak terjangkau dengan jaringan listrik dari PLN biasanya menggunakan lampu minyak tanah dan tenaga listrik non PLN sebagai alat penerangan. Jumlah pelanggan listrik di Kecamatan Lohia tahun 2016 sebanyak 3.158 pelanggan dan non PLN sebanyak 60.
Industri
Pembangunan di bidang industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja, meratakan kesempatan berusaha, meningkatkan ekspor, menunjang pembangunan daerah, serta memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia.
Tabel 4 Banyaknya industri di tiap desa
Desa/Kelurahan
Industri
Rumah Tangga
Makanan
Minuman
Kayu,Barang dari
kayu dan gabus
Jumlah
(unit)
Naker
(orang)
Jumlah
(unit)
Naker
(orang)
Jumlah
(unit)
Naker
(orang)
Jumlah
(unit)
Naker
(orang)
Liangkabori
183
275
12
17
8
12
-
-
Maabolu
193
279
4
6
3
3
-
-
Kondongia
24
44
11
18
2
3
5
10
Waara
31
51
16
23
9
14
-
-
Mantobua
52
66
20
28
7
10
1
2
Korihi
152
178
7
11
8
12
-
-
Lakarinta
45
62
10
14
-
-
3
4
Lohia
45
69
15
21
8
10
2
4
Wabintingi
48
75
8
12
6
8
2
4
La Wela
23
40
3
4
-
-
-
-
Kondongia Barat
31
55
14
20
3
6
4
7
Jumlah
827
1.194
120
174
54
78
17
31
Perdagangan
Sektor perdagangan merupakan salah satu sektor yang mampu menggerakkan perekonomian suatu wilayah. Adapun komoditas perdagangan antar desa yang ada di Kecamatan Lohia antara lain hasil pertanian tanaman pangan, berupa kacang tanah dikupas, jagung, dan tomat. Hasil perkebunan, meliputi kelapa, kopi, kapuk, jambu mete, kemiri, coklat, merica dan aren.
Untuk membantu masyarakat miskin, pemerintah menyalurkan beras miskin (raskin) kepada masyarakat. Selama tahun 2015, penyaluran beras miskin di Kecamatan Lohia meningkat sebesar 7,69 persen yaitu dari 142,35 ton tahun 2014 naik menjadi 153,30 ton tahun 2015
Transportasi
Sarana angkutan dan komunikasi merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan masyarakat yang dapat mendukung terciptanya kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Jalan merupakan prasarana angkutan darat yang sangat penting dalam memperlancar kegiatan perekonomian antar wilayah. Kondisi jalan yang baik akan memudahkan mobilitas penduduk dalam melakukan kegiatan perekonomian dan kegiatan sosial lainnya.
Angkutan Darat
Angkutan darat terdiri dari kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor. Jumlah kendaraan bermotor di Kecamatan Lohia dari tahun ke tahun senantiasa mengalami peningkatan. Peningkatan ini dikarenakan masyarakat semakin membutuhkan kendaraan untuk membantu memperlancar kegiatan sehari-hari mereka. Pada tahun 2016 jumlah kendaraan di Kecamatan Lohia truk sebanyak 26 unit, pick up 41, mikrolet 48 dan sepeda motor 1603 unit.
Keuangan
Kelancaran kegiatan pemerintah dan pembangunan sangat tergantung tersedianya biaya, baik untuk administrasi maupun kegiatan lainnya. Dana pembangunan desa berasal dari bagian Penerimaan Subsidi Desa dan Anggaran Dana Desa. Pada tahun anggaran 2016, jumlah penerimaan Subsidi Desa untuk kecamatan Lohia berjumlah Rp 135.000.000. sementara itu untuk Anggaran Dana Desa berjumlah Rp 1,503.200 miliar.
Pariwisata
Objek wisata unggulan Kabupaten Muna terbanyak terdapat di Kecamatan Lohia. Kecamatan Lohia berpotensi sebagai objek wisata, seperti halnya Pantai Napabale di Desa Lohia, Pantai Meleura, Danau Motonuno, Puncak Motonuno, Danau Ubur-ubur terletak di Desa Lakarinta. Objek wisata Puncak Wakila berada di Desa Kondongia, maupun Gua Liangkabori, Gua Metanduno, Gua Layang-layang berada Di Desa Liangkabori, untuk Kerajinan nentu di Desa Korihi, maupun Kerajinan bambu di Desa Kondongia.[[3]]