Plot
Tidak memiliki uang untuk memperbaiki van-nya, Eddie Barrish tidak bisa menjemput putrinya, Sarah, dari sekolah. Dalam keputusasaan, ia mencuri dompet seorang mekanik dan membeli tiket lotre, mencoba beberapa kali menelpon untuk meminjam uang, dan mencari mobil yang tidak dikunci untuk dirampok. Saat meminta maaf kepada Sarah melalui telepon, ia menemukan sebuah SUV mewah Dolus yang tidak terkunci. Ia masuk ke dalam mobil dan mencari barang berharga untuk dicuri, tetapi saat mencoba keluar, mobil tersebut mengunci dirinya sendiri, menjebaknya di dalam. Di bagasi, ia menemukan kunci roda yang kemudian ia gunakan untuk mencoba memecahkan kaca, membongkar dinding mobil dengan harapan untuk bisa keluar. Sementara itu layar di bagian dashboard mobil mulai berdering menampilkan panggilan telepon yang diabaikan oleh Eddie. Semua usaha telah dia lakukan, tetapi tidak ada satupun yang berhasil, bahkan tangannya terluka akibat dalam upayanya untuk keluar. Setelah beberapa lama, akhirnya dia menjawab panggilan masuk dari William, pemilik mobil, dan terkejut oleh taser listrik yang terpasang di kursi. Mengeluarkan pistolnya, Eddie menembak kaca anti peluru, membuat peluru memantul mengenai kakinya. Mobil tersebut juga terlalu gelap dan kedap suara sehingga orang yang lewat tidak menyadari meskipun Eddie berteriak sekalipun.
Melihat Eddie melalui kamera tersembunyi, William menjelaskan siapa dirinya dan bahwa dia membangun dan mendesain Dolus sebagai jebakan kompleks setelah pernah terjadi enam kali pencurian sebelumnya. Eddie yang terluka parah kemudian pingsan. Saat malam, Eddie terbangun dan menemukan lukanya telah diobati, tetapi dia masih terkunci di dalam.
Keesokan harinya, Eddie yang terus berkata kasar menolak mendengarkan saat William bercerita tentang putrinya, sehingga menyebabkan William menyiksanya dengan kejutan listrik, menyalakan AC yang sangat dingin, dan memutar musik dengan suara melengking yang sangat keras. Saat malam tiba, Eddie meminta maaf atas kata-katanya yang kasar, dan William mulai melunak dan mematikan AC-nya.
Keesokan harinya, Eddie yang mulai kelaparan dan dehidrasi terus berusaha untuk mencari cara untuk keluar dengan mencoba membongkar dinding-dinding mobil. William kemudian bercerita bahwa dia terkena kanker stadium akhir, dan bercerita mengapa dia sampai membangun mobil tersebut. Dia ingin menegakkan keadilan dengan caranya sendiri. Setelah berdebat panjang lebar, William pun menutup panggilan dan menyiksa Eddie dengan suara musik yang keras dan panas yang menyengat.
Kelaparan dan dehidrasi, Eddie sempat akan meminum air kencingnya sendiri, tetapi batal dia lakukan. Pada saat itu William menelponnya dan menawarkan kalau Eddie mau menyerahkan informasi pribadi dan nomor social security numbernya, dia akan mematikan pemanas dan memberinya air minum. Eddie pun akhirnya memberikan datanya, dan William mematikan pemanas dan memberi tahu Eddie lokasi botol air yang disembunyikan di dalam mobil. Setelah minum, Eddie menggosok tiket lotre yang dibelinya, dan menemukan bahwa dia telah memenangkan uang yang dia butuhkan. Dia meminta maaf dengan tulus, sehingga membuat William memberinya kue yang tersembunyi di laci mobil. Eddie menyadari bahwa dia bisa mengakses sirkuit dari sistem listrik mobil yang ada di bagian bawah menggunakan kakinya sehingga tidak terlihat oleh kamera.
Keesokan harinya, Eddie yang sudah tidak tahan mulai minum urinnya sendiri. Malam itu, dia mengira berhasil menyalakan mobil dengan menekan tombol power window secara berulang-ulang, tetapi William mengungkapkan bahwa dia bisa mengendalikan Dolus secara remote, dan kemudian membawa Eddie berkendara melewati jalanan kota. Setelah diajak kebut-kebutan, mobil membawa Eddie melewati sebuah gang, di mana ada 2 orang pria yang lagi memukuli seseorang. William menjalankan mobilnya menabrak salah satu pria tersebut dan melindasnya, kemudian mengejar pria yang satunya sampai terpojok. William pada akhirnya menabrak pria tersebut hingga tewas. William kemudian kembali menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi dan mengerem mendadak sehingga membuat kepala Eddie menghantam dashboard dan pingsan.
Keesokan harinya, Eddie bangun dan mengetahui bahwa William menggunakan informasinya untuk melacak di mana Sarah tinggal. Tanpa daya, ia menyaksikan William mencoba menabrak Sarah saat ia pulang sekolah. Mengancam akan menembak dirinya sendiri dan mengakhiri permainan William, Eddie menarik pelatuk, tetapi ternyata pistolnya telah dikosongkan saat William mengobatinya di hari pertama. Mobil kemudian berhasil menghindari Sarah di detik-detik terakhir, sehingga Sarah selamat. Eddie yang sudah muak dengan semua yang terjadi mengamuk dan mulai menghancurkan semua kamera mobil, dan mulai melihat foto putrinya di handphonenya dan kemudian meninggalkan pesan-pesan perpisahan kepadanya.
William membawa mobil ke sebuah tempat di mana William muncul. Dia memaksa Eddie untuk mengikat tangannya sendiri, dan mulai mengisi peluru pada pistol. William memberikan rokok ganja untuk diisap dan beberapa permen pada Eddie. William kemudian mengemudikan mobil keluar kota berencana untuk membunuhnya dan membuang jasadnya. Ia pun mengungkapkan bahwa putrinya dibunuh selama perampokan, yang membuat dia sudah tidak percaya lagi dengan sistem yang ada dan memutuskan untuk menegakkan keadilan dengan caranya sendiri. Saat berkendara di sebuah tikungan, Eddie berhasil mematikan daya mobil saat kakinya berhasil menekan sistem listrik yang ada di bagian bawah. Saat SUV menabrak sebuah batu dan meluncur ke jurang, pistol sempat ditembakkan oleh William tetapi pelurunya malah memantul mengenai dirinya sendiri. Setelah itu keduanya sempat tidak sadarkan diri. Setelah sadar, Eddie bangun dan memukuli William. Sarah kemudian menelpon Eddie, di mana Eddie berjanji akan menemuinya. Eddie memohon William untuk membuka kunci mobil yang kini mulai terbakar, tetapi William meninggal sebelum bisa menuruti permintaannya. Eddie menemukan sebuah palu serta menyadari bahwa kaca belakang mobil itu retak akibat terjatuh ke jurang. Eddie dengan sekuat tenaga menghancurkan kaca mobil dan berhasil keluar dengan selamat. Dia kembali ke kota dan segera ke bengkel mobil setelah mencairkan loterenya. Mengetahui van tidak bisa diperbaiki tepat waktu, dia membeli sepeda dan mengendarainya untuk menemui putrinya di sekolah.