Pada 1 Februari 2008, Lloyd Aéreo Boliviano Penerbangan 301, sebuah penerbangan carter yang dioperasikan oleh Boeing 727-259, kehabisan bahan bakar di dekat Bandara Teniente Jorge Henrich Arauz, saat dalam perjalanan dari El Alto ke Cobija. Para pilot melakukan pendaratan darurat di daerah rawa beberapa kilometer dari bandara. Semua 156 orang di dalam pesawat selamat, hanya dua penumpang mengalami luka ringan.[1]
Pesawat yang terlibat saat masih beroperasi dengan Avianca (1992)
Setelah diproduksi, pesawat ini dikirim ke Avianca pada 4 Desember 1980 (dengan registrasi N204AV), kemudian pada 14 Desember 1993 dikirim ke Capitol Air Express dengan registrasi yang sama. Pada 1 Oktober 1994, pesawat ini dikirim ke Sun Country Airlines (N289SC), hingga akhirnya diserahkan ke LAB pada 28 Desember 2002 dengan registrasi CP-2429.[2]
Pada tahun 2006, pesawat ini menjalani perawatan di Bandar Udara Internasional Jorge Chávez di Lima, Peru. Perawatan ini berlangsung sekitar satu tahun. Setelah perawatan selesai, proses reintegrasi memakan waktu sekitar dua bulan, dan pesawat kembali beroperasi dalam layanan LAB pada 4 Juni 2007.[3]
Kecelakaan
Penerbangan ini telah disewa oleh Transporte Aéreo Militar (TAM) untuk mengangkut penumpang yang terdampar akibat penutupan rute sebagai bagian dari penerbangan solidaritas yang disediakan oleh perusahaan tersebut.[4] Pesawat lepas landas dari Bandar Udara Internasional El Alto di La Paz, Bolivia, menuju Bandar Udara Capitán Aníbal Arab di Cobija, Pando. Namun, para pilot mencoba beberapa kali mendarat di Bandara Cobija tanpa berhasil. Mereka diberitahu bahwa bandara ditutup karena cuaca buruk di Cobija, sehingga mereka memutuskan untuk mengalihkan penerbangan ke Bandar Udara Teniente Jorge Henrich Arauz di Trinidad, Beni.
Dalam perjalanan ke Trinidad, para pilot juga menghadapi kondisi cuaca yang buruk. Namun, pesawat kehabisan bahan bakar akibat keterlambatan yang disebabkan oleh penutupan Bandara Cobija dan kondisi cuaca. Kapten kemudian mencoba melakukan pendaratan darurat di dekat Bandara Trinidad. Pada pukul 10:35 pagi, pesawat mendarat darurat di daerah rawa beberapa kilometer dari bandara. Tidak terjadi kebakaran, dan kerusakan pada pesawat tergolong minimal.[4] Meskipun mengalami benturan, seluruh 151 penumpang dan lima awak di dalam pesawat selamat dari kecelakaan ini; banyak yang menganggapnya sebagai keajaiban karena tidak ada korban jiwa.[5]
Tentara dari Sekolah Sersan Reynaldo Zeballos, yang sedang melakukan latihan di daerah tersebut, menyaksikan kejadian itu dan segera memberikan bantuan kepada para penumpang, mengevakuasi mereka serta menyelamatkan barang bawaan mereka. Tim darurat, pemadam kebakaran, dan ambulans juga dikerahkan untuk membantu para korban. Hanya dua penumpang yang mengalami luka ringan dan dibawa ke rumah sakit.[4] Tidak ada luka serius atau korban jiwa. Meskipun insiden ini tergolong serius, keterampilan para pilot berhasil mencegah tragedi yang lebih besar. Pesawat mengalami kerusakan pada sayap, kaca yang pecah, serta badan pesawat yang rusak, tetapi tidak ada kehilangan nyawa.
Saat ini, pesawat masih berada di lokasi kecelakaan. Selama bertahun-tahun, banyak orang telah mengambil bagian-bagian berharga dari pesawat, termasuk mesinnya dan kursi di kokpit. Karena aksesnya yang sulit, mencapai lokasi bangkai pesawat bergantung pada musim, dan kemungkinan besar kini Boeing 727 tersebut telah menjadi rumah bagi berbagai satwa liar di hutan hujan Amazon Bolivia.[6]
Investigasi
Laporan akhir dari Direktorat Jenderal Aeronautika Sipil (DGAC) menyatakan bahwa penyebab dan dampak kecelakaan ini disebabkan oleh faktor-faktor berikut:
Di Bandara Cobija, kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk pendaratan. Para pilot mencoba mendarat sebanyak tiga kali. Setelah upaya tersebut gagal, mereka memutuskan untuk mengalihkan penerbangan ke Bandara Trinidad sebagai satu-satunya alternatif. Pesawat kehabisan bahan bakar dan melakukan pendaratan darurat di hutan hujan Amazon, sekitar 5 kilometer (3,1 mil) dari landasan pacu.[7]
Sebelum penerbangan, masalah teknis yang tidak diungkapkan sempat menghambat lepas landas, menyebabkan keterlambatan dan mengurangi jumlah bahan bakar yang seharusnya diperlukan untuk mencapai Bandara Trinidad.
Pesawat memiliki bahan bakar untuk 2 jam 45 menit waktu terbang, lebih dari cukup untuk penerbangan dari La Paz ke Cobija. Namun, ditemukan bahwa pilot pesawat tidak mengisi bahan bakar sesuai dengan ketentuan hukum, yang mewajibkan pesawat memiliki bahan bakar cukup untuk penerbangan dari asal ke tujuan, ditambah 45 menit cadangan.
Semua faktor ini menunjukkan bahwa keterlambatan dalam lepas landas, kurangnya cadangan bahan bakar, kegagalan upaya pendaratan, dan pengalihan ke Trinidad menghabiskan sebagian besar waktu terbang pesawat. Akibatnya, pesawat kehabisan bahan bakar beberapa kilometer sebelum mencapai bandara dan harus melakukan pendaratan darurat di hutan hujan Amazon di wilayah Bolivia.[8]
Laporan akhir menyimpulkan bahwa kombinasi masalah teknis, kondisi cuaca, dan kekurangan bahan bakar menjadi penyebab kecelakaan ini. Namun, semua orang di dalam pesawat selamat, dengan hanya dua orang mengalami cedera ringan. Hal ini menunjukkan keterampilan dan keberanian para pilot dalam mengendalikan pesawat, yang berhasil melakukan "pendaratan ajaib" di hutan hujan Amazon di Bolivia tanpa korban jiwa.