Liturgi ini mencerminkan karya dari para Bapa Kapadokia dalam upaya memberantas bidah dan mendefinisikan Teologi Tritunggal terhadap Gereja Kristen. Dahulu, liturgi ini kemungkinan digunakan oleh para jemaat aliran Antiokhia (Santo Yohanes sendiri yang merupakan seorang diaken dan pendeta di Antiokhia), dan karenanya liturgi ini kemungkinan besar berkembang dari ritus Suriah Barat. Pada saat menjadi Patriark di Konstantinopel, Santo Yohanes menyempurnakan bentuk dari liturgi ini. Oleh karena liturgi ini digunakan sebagai liturgi ilahi dari Gereja Hagia Sophia, liturgi ini seiring berjalannya waktu berkembang menjadi liturgi ilahi yang umum dilaksanakan di seluruh gereja di wilayah Kekaisaran Romawi Timur. Liturgi ini dengan liturgi Santo Basilius kemudian menjadi norma di Gereja Ortodoks Timur hingga masa akhir pemerintahan Kaisar Yustinianus I.[1] Hingga sekarang, liturgi ini terus menjadi norma liturgi dalam gereja-gereja beritus Bizantium.