Liposarcoma adalah kanker ganas yang berkembang di jaringanlemak tubuh. Tumor ini termasuk dalam kelompok sarkoma jaringan lunak dan lebih sering terjadi pada orang dewasa. Liposarcoma memiliki lima subtipe, yaitu well-differentiated, dedifferentiated, myxoid, pleomorphic, dan round cell, yang masing-masing memiliki perbedaan dalam kecepatan pertumbuhan dan tingkat keparahan. Subtipe well-differentiated cenderung tumbuh perlahan dan jarang menyebar, sedangkan pleomorphic liposarcoma lebih agresif dan cepat menyebar ke organ lain.[1][2]
Gejala, penyebab dan faktor risiko
Pada awalnya, liposarcoma mungkin tidak menimbulkan gejala yang jelas. Namun, seiring pertumbuhan tumor, pasien dapat merasakan benjolan atau massa di bawah kulit, biasanya pada area tubuh yang terkena seperti lengan, tungkai, atau perut. Benjolan ini umumnya tidak nyeri, tetapi jika tumor berkembang dan menekan saraf atau organ terdekat, dapat menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Tumor yang tumbuh di perut bisa menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan rasa penuh.
Penyebab pasti liposarcoma belum diketahui secara jelas, namun beberapa faktor risiko yang dapat memengaruhi perkembangan kanker ini termasuk paparan bahan kimia beracun, seperti herbisida atau vinyl chloride, serta riwayat keluarga dengan kelainan genetik tertentu. Mutasi genetik pada kromosom 12 sering kali ditemukan pada kasus liposarcoma, khususnya pada subtipe well-differentiated dan dedifferentiated. Liposarcoma juga lebih sering terjadi pada orang dewasa berusia 50 tahun ke atas.[1][2][3]
Diagnosis, pengobatan, dan pencegahan
Proses diagnosis liposarcoma melibatkan beberapa tahapan pemeriksaan. Dokter pertama-tama akan melakukan pemeriksaan fisik untuk meraba adanya benjolan atau massa abnormal. Tes pencitraan seperti X-ray, MRI, atau CT scan kemudian dilakukan untuk mengetahui lokasi dan ukuran tumor. Biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan tumor, diperlukan untuk menganalisis jenis tumor dan menentukan apakah itu liposarcoma. Analisis histologis lebih lanjut akan mengidentifikasi subtipe dari liposarcoma, yang penting dalam menentukan pengobatan yang tepat.
Liposarcoma digolongkan ke dalam beberapa stadium berdasarkan ukuran tumor, penyebaran lokal, dan ada tidaknya metastasis (penyebaran ke organ lain). Pada stadium awal (stadium I), tumor biasanya masih berukuran kecil dan belum menyebar, sehingga prognosis umumnya lebih baik. Pada stadium lanjut (stadium III dan IV), tumor mungkin telah menyebar ke organ atau jaringan lain, yang mempersulit proses pengobatan dan menurunkan harapan hidup pasien.
Pengobatan liposarcoma umumnya melibatkan kombinasi beberapa metode, tergantung pada ukuran dan lokasi tumor, serta stadium penyakit. Pembedahan adalah langkah utama dalam pengobatan liposarcoma, dengan tujuan untuk mengangkat tumor secara total. Jika tumor berukuran besar atau berada di lokasi yang sulit diakses, terapi radiasi dapat dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan ukuran tumor. Setelah operasi, terapi radiasi juga sering diberikan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa dan mencegah ke kambuhan. Pada kasus tertentu, kemoterapi mungkin digunakan, terutama jika tumor tidak dapat diangkat seluruhnya atau telah menyebar ke bagian tubuh lain. Namun, efektivitas kemoterapi bervariasi tergantung subtipe liposarcoma, dengan subtipe seperti myxoid lebih responsif terhadap pengobatan ini dibandingkan subtipe lain.
Prognosis atau harapan hidup pasien dengan liposarcoma sangat bergantung pada berbagai faktor, seperti ukuran tumor, lokasi, subtipe, serta ada tidaknya penyebaran ke organ lain. Tumor yang terdeteksi pada tahap awal dan dapat diangkat melalui operasi umumnya memiliki prognosis yang lebih baik. Sebaliknya, tumor yang telah menyebar atau tidak bisa dioperasi memiliki prognosis yang lebih buruk. Subtipe pleomorphic dan dedifferentiated biasanya lebih agresif, sehingga prognosis untuk pasien dengan subtipe ini cenderung lebih rendah dibandingkan subtipe well-differentiated.
Karena penyebab pasti liposarcoma belum diketahui, tidak ada langkah pencegahan yang spesifik. Namun, menghindari paparan bahan kimia beracun seperti herbisida dan vinyl chloride serta menjaga gaya hidup sehat mungkin dapat membantu menurunkan risiko terkena kanker ini. Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan genetik yang terkait dengan liposarcoma, konsultasi genetika mungkin dapat membantu dalam mendeteksi risiko lebih dini.
Liposarcoma adalah salah satu jenis sarkoma jaringan lunak yang paling umum, meskipun secara keseluruhan termasuk kanker yang langka. Sarkoma jaringan lunak sendiri hanya menyumbang sekitar 1% dari semua kasus kanker, dan liposarcoma mencakup sekitar 20% dari semua kasus sarkoma jaringan lunak. Penyakit ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita, dan prevalensinya cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, dengan puncak kejadian pada usia 50 hingga 65 tahun.[1][2][3]