Lhok Gayo merupakan Desa atau Gampong yang terletak di KecamatanBabah Rot, Aceh Barat DayaKabupatenAceh Barat DayaProvinsiAceh, Desa Lhok Gayo memiliki luas wilayah 1200 Ha lebih. Dengan populasi penduduk mencapai 1500 jiwa atau 500 Kepala Keluarga. Kata Lhok Gayo berasal dari bahasa Aceh yakni Lhok berarti dalam dan Gayo berarti nama suku mayoritas yang mendiami Desa tersebut. Seluruh penduduknya beragama Islam 100% dan memiliki mata pencarian mayoritas di bidang pertanian terutama di sektor perkebunan kelapa sawit.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Gampong Rukoen Damee
Sebelah Utara berbatasan dengan Gampong Alue Dawah
Selatan Barat berbatasan dengan HGU Dua Perkasa Lestari dan Rawa Tripa
Wilayah Dusun
Desa Lhok Gayo terdiri dari tiga Wilayah Dusun, yaitu:
Dusun Keudee
Dusun Meurandeh
Dusun Drien Tulak Bala
Potensi Alam
Desa Lhok Gayo memiliki potensi alam dibidang pertanian dan perkebunan rakyat. Bidang yang paling dominan adalah jenis perkebunan Sawit dan Kakao. Selain itu, masyarakat Lhok Gayo juga sangat meminati tanaman Durian, Pinang dan Kopi.
Seni Budaya
Masyarakat Desa Lhok Gayo meiliki khas seni budaya di bidang Tarian Saman, Rapai, Tarian Bines dan Didong Gayo. Masyarakat Lhok Gayo membentuk sanggar-sanggar seni secara swadaya dengan tujuan untuk melestarikan seni budaya para leluhur mereka.
Sejarah Lhok Gayo
Desa Lhok Gayo mulanya adalah satu pemukiman kecil penduduk perantau yang berasal dari Terangun, Gayo Lues. Pada tahun 1970, satu kelompok kecil pendatang dari dataran tinggi Gayo mengadu nasib dengan menetap di daerah pedalaman Desa Pantee Rakyat, Babahrot. Kelompok tersebut kemudian semakin lama semakin berkembang dengan terus bertambahnya saudara- saudara mereka dari wilayah Terangun untuk menetap di daerah tersebut. Karena jumlah penduduk yang terus meningkat, kemudian Pemerintah Daerah Tingkat II Aceh Selatan pada waktu itu membentuk daerah pemukiman masyarakat Gayo tersebut sebagai daerah Dusun yang kemudian diberi nama Lhok Gayo. Lhok berarti dalam;masuk karena wilayah Lhok Gayo berada di pedalaman (1 Km dari jalan nasional), sedangkan Gayo diambil dari nama suku penduduk yang mayoritas menetap di Lhok Gayo.
Di antara tokoh masyarakat yang berjasa dalam pembangunan 'Lhok Gayo' adalah Waki Saleh, Tgk. H. Abubakar dan beberapa tokoh muda seperti Sulkhaidi Djabo, Muslem dan Khairunnas Djabo.
Hingga pada pada Tahun 2011, populasi penduduk Lhok Gayo terus meningkat dan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya juga semakin tinggi. Pada April 2011, Bupati Aceh Barat Daya meningkatkan status Dusun Lhok Gayo menjadi Gampong Persiapan Lhok Gayo yang kemudian diberi kewenangan untuk mengatur tata kelola pemerintahan setingkat Desa. Lhok Gayo akhirnya resmi menjadi Gampong definitif pada tahun 2017.
Pabrik Kelapa Sawit di Lhok Gayo
Pada tahun 2011, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya memilih Lhok Gayo sebagai lokasi pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Desa Lhok Gayo dipilih karena lokasi yang strategis dan dekat dengan area perkebunan milik masyarakat. Setelah membebaskan lahan dari masyarakat, Pemkab akhirnya membangun Pabrik Kelapa Sawit di atas lahan seluas 26 Hektar. Namun setelah pergantian Kepala Daerah, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) berhenti kelanjutan pembangunannya. Hingga saat ini gedung PKS milik Pemda ini terbengkalai dan tidak terurus.