Pada 17 September 2024, sekitar pukul 15:30 EEST, ribuan penyeranta genggam yang digunakan oleh para anggota Hizbullah, suatu partai politik dan milisi Lebanon, meledak secara bersamaan di Lebanon dan Suriah.[8][9][10][11] Badan intelijen Israel telah mencegat pengiriman penyeranta dan memasang bahan peledak di dalamnya, menurut sumber New York Times yang tidak disebutkan namanya.[12] Setidaknya 12 orang tewas dan lebih dari 2.750 orang terluka,[6][13][7] termasuk anggota Hizbullah dan warga sipil.[11][14][15] Seorang anggota Hizbullah mengatakan kepada National News Agency bahwa peristiwa ini adalah "pelanggaran keamanan terbesar organisasi".[16]
Ledakan tersebut terjadi di beberapa daerah di Lebanon seperti daerah pinggiran Dahieh di Beirut, Lebanon bagian selatan, dan di Lembah Bekaa di perbatasan dengan Suriah, yang dianggap basis wilayah Hizbullah.[17][18][19] Selain itu, ledakan juga dilaporkan terjadi di Damaskus, Suriah. Tidak jelas apakah hanya anggota Hizbullah yang membawa penyeranta.[20] Sekitar 150 rumah sakit di seluruh Lebanon menerima korban serangan tersebut.[21][22] Di antara mereka yang tewas adalah dua anggota Hizbullah, dua anak-anak, dan empat petugas kesehatan.[16][23][24]
Pada bulan Februari 2024, sekretaris jenderal Hizbullah, Hassan Nasrallah, memerintahkan anggota kelompoknya untuk menggunakan penyeranta alih-alih telepon seluler, dengan alasan bahwa Israel telah menyusup ke jaringan telepon seluler mereka.[25][26] Hizbullah kemudian membeli merek penyeranta baru, model Gold Apollo AR924, yang baru-baru ini diimpor ke Lebanon dari perusahaan TaiwanGold Apollo.[14][27][28]
Gelombang ledakan kedua terjadi di Lebanon pada tanggal 18 September. Ledakan tersebut menargetkan protofon dan menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai 300 orang.[29] Peralatan elektronik lainnya seperti panel surya juga dilaporkan meledak.[30][31] Sumber Reuters mengatakan bahwa radio genggam dibeli oleh Hizbullah lima bulan lalu, kira-kira pada waktu yang sama dengan pembelian penyeranta.[32]
↑Jamal, Urooba; Marsi, Federica (18 September 2024). "Hezbollah vows retaliation after blaming Israel for pager blasts". Al Jazeera. Lebanon's Minister of Health Firass Abiad has held a media conference in Beirut on the situation in the aftermath of the pager blasts. Abiad said many of those carrying the pagers were civilians. At least 12 people have been killed, including four medical staff, an eight-year-old girl and an 11-year-old boy.
↑"Israel's war on Gaza live: Hezbollah blames Israel for Lebanon pager blasts". Al Jazeera. 18 September 2024. Hezbollah says it will continue its "operations to support Gaza, its people, and its resistance" after simultaneous explosions of pagers used by its members killed 12 people and wounded thousands across Lebanon. Several wounded in neighbouring Syria.