Pelawak atau komedian adalah orang yang menghibur penonton, terutama dalam membuat mereka tertawa dengan cara melawak, yaitu suatu usaha untuk membuat orang lain tertawa atau sekadar membuat orang lain gembira. Caranya bermacam-macam, tergantung si pelawak dan biasanya disesuaikan dengan kondisi orang yang akan dibuat tertawa. Cara yang paling umum adalah dengan mengucapkan lelucon, dengan subjek lelucon orang lain, atau diri sendiri. Cara lainnya adalah dengan tingkah laku yang dibuat-buat hingga dapat terlihat lucu dan pentas ditertawakan di hadapan orang lain.[1] Kegiatan yang mereka lakukan menjadi sosok penting dalam dunia industri hiburan, dari generasi kita selalu punya sosok pelawak yang menemani perjalanan hidup kita.[2]
Di Indonesia bentuk lawak yang paling terkenal adalah grup lawak, yang merupakan gabungan beberapa pelawak dan mementaskan suatu cerita. Masing-masing memerankan satu karakter dan kelucuan yang terjadi berasal dari interaksi antar karakter-karakter ini. Beberapa contoh grup lawak seperti ini adalah Srimulat, Warkop DKI, dan Patrio.[3] Karya - karya mereka tidak hanya membuat kita tertawa, tapi juga memberikan perspektif baru tentang kehidupan dengan pesan moral yang disampaikan dalam lawakan[4]
Di Amerika Serikat yang lebih terkenal adalah lawakan tunggal atau standup comedy, seorang pelawak berdiri di depan penonton dan mengucapkan monolog mengenai sesuatu. Jenis lawakan seperti ini lebih bergantung pada cara penyampaian dan isi cerita. Contoh-contoh pelawak tunggal adalah Chris Rock, Eddie Murphy, Robin Williams, Jim Carrey, Jerry Seinfeld, Jeff Foxworthy, dan Eddie Izzard. Selain itu juga terdapat beberapa kelompok lawak dari Inggris dan Amerika seperti Monty Python dan Marx Brothers.[5] Acara komedi biasanya juga disajikan lewat Acara Komedi Panel dimana dalam acara ini menyatukan komedian cerdas dalam satu studio. Formatnya mereka akan memberikan candaan ramah pada para komedian hingga menyerang karakter mereka secara terang terangan.[6]
Esensi
Stand-up comedian Steve Holmes on stage at the "Up The Creek" comedy club in Greenwich, London, UK
Untuk menghibur orang-orang dengan membuatnya tertawa ada macam-macam caranya, tergantung si pelawak namun sering kali penyajian lawakan yang ditampilkan tidak semua orang mampu menangkapnya menjadi sesuatu yang mampu ditertawakan bersama. Sering kali ada lawakan yang lucu tapi mulai menyakiti pribadi seseorang, masalah seperti ini dikarenakan esensi melawak bukan lagi menghibur atau menebar tawa tapi menjadi sesuatu yang menimbulkan murka yang seharusnya bisa menjadi sesuatu yang humor malah menjadi horor. Pelawak yang mengerti esensi dari melawak itu pasti paham dengan kondisi psikologi seseorang ketika ingin melawak, kecerdasan sosial menjadi penentu bagi setiap pelawak ketika ingin melawak.[7] Selain itu, dalam lawakan juga tidak bisa memberikan candaan secara sembarangan. Meskipun konteksnya adalah memberikan hiburan bagi para penonton, pelawak juga harus bisa mempertanggung jawabkan setiap candaan yang dikeluarkannya.[8]