Ia menghabiskan hampir seluruh tahun 1980-an dan awal 1990-an menjalankan tokoperdagangan umum di ibu kotaTanzaniaDar es Salaam namun di akhir 1996 Kabila memanfaatkan kekacauan di Rwanda dan Burundi, dan pengaruhnya yang merembet di daerah tetangganya, Kivu Selatan, untuk membangun pasukan yang cukup besar untuk menjatuhkan Mobutu. Ia menyebutnya Aliansi Angkatan Demokrasi untuk Pembebasan Kongo-Zaire (ADFL), pasukan yang tersusun dari anggota etnis Tutsi dari Rwanda, Kivu dan Uganda dan juga sisa-sisa pasukan anti-Mobutu. Pasukan ini bergerak pada kecepatan luar biasa dan hampir tidak menemui hambatan apapun. Yang sering terjadi, pasukan Zaire melarikan diri sementara dukungan Mobutu berguguran di sekelilingnya.
Kabila menjadi Presiden Zaire di bulan Mei1997, mengubah nama negara menjadi Republik Demokratik Kongo. Namun apa yang seperti era kemakmuran baru untuk negara itu segera hancur karena Kabila mengambil langkah aneh dengan meninggalkan mitra-mitra ADFL-nya dan menyokong musuh Hutu mereka. Ini memancing perang saudara yang membawa-bawa pasukan Zimbabwe, Angola dan Namibia dan akhirnya menyebabkan kematiannya sendiri pada Januari2001.