Embung Kuripan berada di wilayah Desa Kuripan, Kecamatan Empat Petulai Dangku, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Keberadaan embung ini berkaitan dengan kondisi geografis desa yang berada di sekitar aliran Sungai Lematang. Permukiman masyarakat Desa Kuripan secara geografis terletak di kawasan yang berdekatan dengan sungai tersebut, sehingga kehidupan sosial dan ekonomi penduduknya tidak terlepas dari keberadaan sumber daya perairan. Sungai Lematang berperan penting sebagai penopang aktivitas masyarakat, baik untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, maupun sebagai bagian dari sistem pengairan tradisional.
Geografi
Desa Kuripan memiliki luas wilayah sekitar 48,46 kilometer persegi. Secara administratif, desa ini berada dalam wilayah Kecamatan Banding Agung. Letaknya relatif dekat dengan pusat pemerintahan kecamatan, dengan jarak sekitar 3 kilometer dari ibu kota kecamatan, sehingga akses menuju fasilitas pemerintahan dan pelayanan publik tingkat kecamatan dapat ditempuh dalam waktu yang relatif singkat. Sementara itu, jarak Desa Kuripan ke ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan mencapai sekitar 56 kilometer. Jarak tersebut mencerminkan posisi Desa Kuripan yang berada cukup jauh dari pusat pemerintahan kabupaten, sehingga mobilitas menuju ibu kota kabupaten memerlukan waktu tempuh yang lebih lama dan sangat dipengaruhi oleh kondisi jaringan transportasi darat yang tersedia.Secara umum, wilayah Desa Kuripan didominasi oleh bentang alam dataran dan kawasan yang dipengaruhi oleh sistem sungai, yang turut menentukan pola permukiman dan pemanfaatan lahan oleh masyarakat setempat.[1]
Demografi
Berdasarkan data tahun 2023, jumlah penduduk Desa Kuripan tercatat sebanyak 1.218 jiwa. Dari jumlah tersebut, 603 jiwa merupakan penduduk laki-laki dan 615 jiwa merupakan penduduk perempuan. Komposisi penduduk ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk perempuan sedikit lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki, dengan perbandingan jenis kelamin yang relatif seimbang. Data kependudukan tersebut memberikan gambaran mengenai struktur demografis Desa Kuripan pada tahun tersebut.[1]
Sejarah
Wilayah Desa Kuripan sejak lama berkembang sebagai permukiman masyarakat yang memanfaatkan Sungai Lematang sebagai jalur aktivitas utama. Kedekatan desa dengan sungai menjadikan perairan sebagai sarana penting dalam menunjang kehidupan sehari-hari, termasuk untuk transportasi dan kegiatan berkebun. Salah satu unsur budaya perairan yang dikenal di Desa Kuripan adalah penggunaan perahu bidar. Perahu bidar merupakan perahu tradisional yang berasal dari Kota Palembang, dengan bentuk panjang dan ramping yang dirancang untuk melaju cepat di perairan. Jenis perahu ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Sriwijaya dan masih dilestarikan hingga saat ini.
Masuknya perahu bidar ke Desa Kuripan terjadi sekitar tahun 1980. Sebelumnya, masyarakat setempat telah menggunakan berbagai jenis perahu untuk mendukung aktivitas harian. Seiring waktu, perahu bidar mulai dimanfaatkan secara khusus sebagai bagian dari kegiatan budaya dan perayaan, terutama untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi tradisional, perahu bidar di Desa Kuripan memiliki nilai sosial dan budaya. Keberadaannya tidak hanya merepresentasikan warisan budaya perairan Sumatera Selatan, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan kebersamaan masyarakat dalam berbagai perayaan dan acara tertentu. [2]