Kue Gelam atau Kue Bunga Gelam merupakan kue tradisional khas Melayu yang berasal dari Kampung Gelam, kelurahan Daik, kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, provinsi Kepulauan Riau. Penyajian Kue Bunga Gelam ini dianggap sakral dan penuh magis bagi masyarakat Daik membuatnya hanya boleh disajikan pada berbagai acara adat istiadat saja seperti upacara khitanan bagi anak laki-laki, bertindik bagi anak perempuan, pernikahan, dan melahirkan. Khazanah pembuatan Kue Bunga Gelam ini hanya dikhususkan untuk keluarga yang masih satu keturunan nenek moyang dari Kampung Gelam saja.[1] Kue Bunga Gelam masuk sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda asli dari Kepulauan Riau secara resmi terdaftar oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan nomor register 372/M/2021.[2]
Nama Gelam
Nama Gelam pada kue ini diduga berasal dari daerah Kampung Gelam tempat kue ini berasal. Namun, terdapat versi lain bahwa nama Gelam berasal dari pohon yaitu pohon Gelam. Pohon Gelam atau kayu putih merupakan sejenis tumbuhan perdu atau semak yang termasuk dalam keluarga Myrtaceae dengan nama latin Melaleuca leucadendra. Pohon Gelam sendiri dikenal luas sebagai bahan pengobatan tradisional, salah satunya sebagai bahan antibakteri alami.[3]
Makna filosofis
Bagi masyarakat Daik khususnya di Kampung Gelam, Kue Bunga Gelam ini memiliki kekuatan magis dan bertuah sehingga dapat melancarkan suatu urusan. Selain itu, Kue Bunga Gelam juga dianggap mampu melindungi dari gangguan kasat mata atau gaib yang jahat sehingga memberikan semangat dan ketenangan bagi masyarakat tersebut. Penyajian Kue Bunga Gelam ini diharapkan agar tujuan dari segala hajat yang diharapkan dari upacara adat tersebut dapat berjalan dengan lancar. Adapun kepercayaan lokal di luar nilai agama ini dinilai sebagai nilai-nilai luhur berupa saling tolong menolong antar sesama bagi mereka.[4] Tidak hanya dianggap sebagai makanan belaka, kue Gelam dianggap sebagai simbol keselamatan, kebahagiaan, tuah, dan penyembuhan. Bahkan, minyak yang keluar dari Kue Bunga Gelam ini dipercaya mampu mempercepat penyembuhan luka dari proses khitanan dan bertindik.[1] Khusus pada upacara adat pernikahan dan melahirkan, Kue Bunga Gelam diletakkan ditengah-tengah hidangan saat melaksanakan acara doa selamat. Kue Bunga Gleam yang telah dibuat dapat dinikmati oleh semua orang.[4]
Proses pembuatan
Pembuatan Kue Bunga Gelam ini dilakukan oleh perempuan dalam keadaan suci dan setelah berwudhu. Pembuatan Kue Bunga Gelam diawali dengan mencampurkan berbagai bahan seperti dua buah kelapa, tepung beras, alba, empat butir butir, bawang putih, garam, jahe, kunyit, serai, dan adas manis atau pedas. Mula-mula buat tepung beras menjadi dadeh. Buat santan dari dua buah kelapa yang telah disiapkan. Setelah santan jadi, haluskan semua bahan kecuali telur menjadi bumbu. Setelah bumbu yang dihaluskan sudah siap, campurkan santan, empat butir telur, dan bumbu halus tadi menjadi sebuah adonan. Setelah adonan tersebut tercampur rata, adonan tersebut digoreng hingga matang. Setelah selesai dibuat, sisa-sisa kue yang tidak habis dan bahan-bahan pembuatan kue tersebut dikumpulkan menjadi satu lalu dihanyutkan ke sungai tanpa sisa sebagai bentuk penghormatan kepada lingkungan dan tradisi turun temurun.[4]