Parade Kuda Kosong atau Helaran Kuda Kosong (bahasa Sunda) adalah budaya dan tradisi turun temurun di Kabupaten Cianjur, berupa seekor kuda hitam tinggi besar yang dihias dengan kain hijau dan rangkaian bunga, dengan diiringi sejumlah pengawal dalam arak-arakan pawai bernuansa kerajaan. Kisahnya berasal dari cerita rakyat berupa tuturan lisan dan naskah babad.
Pertunjukan ini sering disebut sebagai budaya asli Cianjur, dan biasanya diselenggarakan satu tahun sekali, bertepatan dengan hari jadi Kota Cianjur pada tanggal 12 Juli. Walau demikian, pelaksanaannya sering kali disatukan dengan perayaan hari Kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu pada 17 Agustus setiap tahunnya.[1] Parade “kuda kosong” yang sejak dulu digelar pada setiap upacara kenegaraan Cianjur, memiliki maksud untuk mengenang sejarah perjuangan para Bupati Cianjur tempo dulu.[2]
Pada tahun 1998 parade ini sempat dilarang, namun atas negosiasi tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah daerah Cianjur, maka parade Kuda Kosong dapat tampil kembali sejak tahun 2001 dengan pembaharuan.[3] Pada 2018 tradisi ini diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kabupaten Cianjur.[4]
Latar Sejarah dan Tradisi (Perbedaan Narasi)
Kisah Kuda Kosong yang sampai kepada kita dewasa ini merupakan suatu adaptasi dari cerita rakyat yang dikisahkan secara turun-temurun. Dari sumber-sumber yang tersedia mengenai kisah ini dapat dikelompokkan menjadi dua versi, yaitu versi kisah yang berasal dari cerita lisan dan versi naskah babad. Keduanya memiliki narasi yang cukup berbeda.[5] Riwayat tuturan lisan sulit untuk dilacak secara pasti sumbernya. Adapun naskah Babad Cikundul tertua yang berisi keterangan tentang Kuda Kosong berasal dari abad ke-19, dengan angka tahun 1890 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden.[6]
Kisah sejarah Kuda Kosong tidak berdiri sendiri sebagai sebuah fakta yang dapat dilacak kembali sumber primernya (catatan/bukti lain sezaman), melainkan hanya didapat dari sumber-sumber sekunder dan tersier.[7] Jika kisah Kuda Kosong sering disebutkan terjadi sekitar abad ke-17, artinya naskah tertua Babad Cikundul yang ditulis pada abad ke-19 pun telah terpaut jarak lebih dari 200 tahun. Walaupun di dalam narasi kisah Kuda Kosong terdapat unsur yang bernilai sejarah, namun terdapat beberapa bagian yang berbalut mitologi dan metafisika. Oleh karena itu kisah Kuda Kosong tidak dapat dikategorikan sebagai suatu peristiwa sejarah murni, melainkan sebuah bentuk dari historiografi tradisional, sebagai sarana untuk memperkuat legitimasi kekuasaan bupati di masa lalu.[8]
Versi Cerita Lisan
Narasi kisah Kuda Kosong cenderung bertitik berat pada sumber cerita lisan secara turun temurun. Beberapa budayawan Cianjur meyakini bahwa kisah cerita lisan ini sungguh-sungguh terjadi di masa lalu. [9]
Dalam versi cerita lisan tersebut, dikisahkan ketika Cianjur dijabat R.A.A. Wiratanudatar II (Dalem Pamoyanan/Tarikolot), bupati diwajibkan menyerahkan upeti hasil palawija kepada Sunan Mataram di Jawa Tengah.[10] Dalem Pamoyanan R.A.A. Wiratanudatar II yang dianggap sakti mandragunalah yang rutin ditugaskan untuk menyerahkan upeti tadi. Jenis upeti adalah sebutir beras, lada, dan sebutir cabai. Sambil menyerahkan tiga butir hasil palawija itu, Kangjeng Dalem Pamoyanan selalu menyatakan bahwa rakyat Cianjur miskin hasil pertaniannya. Biar miskin, rakyat Cianjur punya keberanian besar dalam perjuangan bangsa, sama seperti pedasnya rasa cabai dan lada.[11]
Konon, karena pandai diplomasi, Kangjeng Sunan Mataram memberikan hadiah seekor kuda kepada Dalem Pamoyanan. Seekor kuda jantan diberikan untuk sarana angkutan pulang dari Mataram ke Cianjur. Penghargaan besar Sunan Mataram terhadap Kangjeng Dalem Pamoyanan membuat kebanggan tersendiri bagi rahayat Cianjur waktu itu.[12]
Jiwa pemberani rakyat Cianjur seperti yang pernah disampaikan Kanjeng Dalem Pamoyanan kepada Sultan Mataram membuahkan kenyataan. Sekitar 50 tahun setelah peristiwa seba itu, ribuan rakyat Cianjur ramai-ramai mengadakan perlawanan perang gerilya terhadap penjajah Belanda. Dengan kepemimpinan Dalem Cianjur Rd. Alith Prawatasari, barisan perjuang di setiap desa gencar melawan musuh, sampai-sampai Pasukan Belanda sempat ngacir ke Batavia (sekarang Jakarta).
Berdasarkan tuturan lisan yang disampaikan oleh beberapa narasumber sesepuh di Cianjur, konon setelah peristiwa pertemuan perwakilan Pamoyanan dengan Sultan Mataram, maka Pamoyanan (Cianjur) dianggap bebas membayar upeti.[13]
Versi Naskah Babad Cikundul
Kuda kosong sebagai sebuah tradisi disebutkan dalam naskah Babad Cikundul atau dalam judul lain Babad Menak Sunda koleksi Perpustakaan Nasional RI yang diteliti oleh Asep Saeful Azhar, Aditia Gunawan, dan Yukeu Yuliani M. (2023),[14] dan judul lain Sejarah Cikundul hasil penelitian Sigit Widyanto dkk. (1999).[15] Setidaknya ditemukan sepuluh naskah Babad Cikundul dalam berbagai variasi judul.[16][17] Naskah tertua berjudul Sajarah Bupati-bupati Cianjur berangka tahun 1890 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden,[6] sedangkan naskah paling muda berjudul Babad Cianjur karya Nyia Mas Syarifah Didoh yang ditulis tahun 1974.[18]
Aspek metafisika Kuda Kosong dalam Babad Cikundul terdapat dalam pada ke-35 dan 36, yang menyebutkan bahwa dalam setiap acara perayaan selalu menggunakan koda kosong. Kuda itu didandani dengan berbagai hiasan dan dipercayai ditunggangi oleh leluhur, yaitu Eyang Surya Kancana.
[35] Kaula nurutkeun tauladan,
ngan ngeunahkeun kana dangding,
kitu asal pusakana,
malah-malah eunggeus galib,
baheula nini aki,
nu asal pancer Cikundul,
ari anu kariyaan,
sumawon mungguh bupati,
kudu baé maké kuda kosong téa.
[35] Saya mengikuti teladan,
menyesuaikan ke dalam dangding,
demikan asal pusakanya,
malah sudah dianggap lumrah,
dahulu nenek kakek,
yang berasal dari keturunan Cikundul,
jika ada acara perayaan,
demikian juga bupati,
harus selalu menggunakan kuda kosong,
[36] Kuda téh dirarahaban,
dipayungan jeung diaping,
leumpang hareupeun jampana,
atawa tukangeun jalmi,
/hlm.6/ saur nini aki,
baris tunggangan karuhun,
éyang Surya Kancana,
Malah saur ibu Uti,
mun teu kitu rajeun sok meunang cilaka.
[36] Kuda itu dihias,
dipayungi dan dipandu,
berjalan di depan tandu,
atau di belakang dokar.
Menurut kisah nenek-kakek,
(kuda itu) akan ditunggangi oleh leluhur,
(yaitu) Eyang Surya Kancana,
malah kata ibu Uti,
jika tidak begitu, akan mendapatkan celaka
Kisah perjalanan utusan dari Pamoyanan Cianjur ke keraton Mataram memang disebutkan dalam naskah Babad Cikundul, namun tidak ada narasi bahwa Sultan Mataram memberikan seekor kuda kepada utusan dari Pamoyanan, melainkan dua benda, yaitu: pisalin sapangadeg (sepasang pakaian [adat Jawa]), dan pendok emas (hiasan keris warangka berbahan emas).
[96] Sénapati maparin pisalin,
sapangadeg jeung hiji pendok mas,
Arya Kidul langkung atoh,
geus kaidinan mundur,
di jalanna nya kitu deui,
lilana tilu bulan nepi ka Cianjur,
barang datang dikukusan,
jeung dibura ku nini paraji,
ngumpulkeun pangajian.
[96] Senapati memberikan pakaian untuk ganti,
sepasang dan pendok keris berbahan emas.
Arya Kidul sangat gembira.
setelah diizinkan pulang,
di jalannya seperti tadi,
tiga bulan lamanya sampai ke Cianjur.
ketika tiba diasapi wewangian,
dan disembur air oleh nenek paraji,
mengumpulkan kesadaran,
Selain itu, alih-alih bebas membayar upeti, justru sejak itulah Cianjur wajib membayar upeti kepada Mataram sebagai tanda tunduk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Mataram. Bahkan ketika berangkat untuk menyerahkan upeti kepada Mataram, sering kali satu rombongan dengan Dipati Ukur, bupati Bandung.[20]
[99] Ti harita kaluar upeti,
ti Cianjur ka ratu Mataram,
tapi hanteu pati gedé,
ngadeuheus unggal taun,
ka Mataram pertanda ngabdi,
sok rajeun sasarengan,
jeung Dipati Ukur,
ari datang ka Mataram,
perbupati ngadeuheus ka jero puri,
hémpak sila di latar.
[99] Sejak saat itu keluar upeti,
dari Cianjur kepada Raja Mataram,
tetapi tidaklah besar,
datang setiap tahun,
kepada Mataram menjadi abdi,
sering kali bersama-sama,
dengan Dipati Ukur,
jika tiba ke Mataram, para bupati,
datang ke dalam keraton,
duduk bersila di latar,
Perlengkapan Parade
Aksesoris kuda
Peralatan yang digunakan sebagai aksesoris kuda adalah aksesoris kepala dan kaki, penutup badan kuda, serta bunga yang wana-warni.[22] Penambahan bunga warna-warni pada badan kuda sebagai pemanis agar terlihat lebih cantik dan menarik.[23][24]
Payung
Dalam pawai helaran Kuda Kosong ada dua payung yang digunakan, payung tersebut bentuknya seperti payung untuk pengantin atau payung yang digunakan di kerajaan. Payung tersebut digunakan sebagai simbol memayungi bupati Cianjur dan satu payung lain digunakan untuk memayungi kuda agar lebih menarik untuk disaksikan.[23]
Penuntun Kuda Kosong
Penuntun kuda memakai baju terusan atau terkenal dengan sebutan gamis, dengan memakai luaran sepanjang baju gamis tersebut dan memakai aksesoris ikat kepala atau turban dan memakai sandal.[23]
Prajurit
Prajurit yang berperan adalah prajurit pembawa upeti, pohon saparantu, dan keris.[22] Perlengkapan yang dibawa yaitu tombak dan umbul-umbul untuk mendukung peran mereka sebagai prajurit.[23]
Tradisi
Untuk mengenang perjuangan Kangjeng Dalem Pamoyanan yang pandai diplomasi itu, setiap diadakan upacara kenegaraan di Cianjur selalu digelar upacara kuda kosong.[25] Maksud seni warisan leluhur itu untuk mengenang perjuangan pendahulu kepada masyarakat Cianjur sekarang, hal ini akhirnya menjadi suatu perayaan tradisi tahunan bagi warga Cianjur.
Pementasan
Parade Kuda Kosong merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan sebagai bagian dari acara kenegaraan, khususnya dalam memperingati hari jadi Kota Cianjur. Prosesi ini biasanya dipadukan dengan Pawai Pembangunan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat di seluruh penjuru kota untuk memamerkan kendaraan hias, produk unggulan daerah, serta beragam kesenian khas seperti calung, pencak silat Maen Po, qasidah, hingga drumband.
Secara teknis, arak-arakan ini menempuh rute yang melintasi berbagai jalan protokol di pusat kota dengan titik keberangkatan utama dari depan Pendopo Kabupaten Cianjur. Dalam urutan barisannya, Kuda Kosong selalu menempati posisi paling depan sebagai ikon utama yang memimpin seluruh rangkaian parade tersebut.[26]
Selain dalam momen-momen perayaan di Cianjur, parade Kuda Kosong kini ditampilkan pula di luar kota, seperti dalam karnaval budaya dalm rangka HUT ke-80 Jawa Barat di Kota Bandung.[27]
Pelarangan Tampil (1998-2011)
Pada tahun 1998, tradisi Parade Kuda Kosong resmi dilarang di Kabupaten Cianjur. Larangan ini bermula ketika Ir. H. Wasidi Swastomo, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Daerah, meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Cianjur untuk melakukan pengkajian terhadap kesenian tersebut. Fokus keberatan terletak pada ritual ngalinggihkeun dan ngalungsurkeun, sebuah prosesi pemanggilan sosok Raden Suryakencana yang dianggap berkaitan dengan alam jin.[3]
Berdasarkan hasil kajian tersebut, Ketua MUI Cianjur, K.H. R. Abdul Halim, mengeluarkan fatwa pada 24 Juli 1998 yang menyatakan bahwa prosesi Kuda Kosong tidak dapat dibenarkan. Hal ini dikarenakan praktik di dalamnya dinilai menjurus pada kemusyrikan dan dapat merusak akidah umat Islam. Keputusan ini kemudian ditindaklanjuti secara tegas oleh Ir. H. Wasidi Swastomo, termasuk saat beliau menjabat sebagai Bupati, dengan menghapus tradisi tersebut demi menjaga keyakinan masyarakat agar terhindar dari praktik syirik. Larangan ini sempat menghambat perkembangan kesenian Kuda Kosong karena tidak lagi diperbolehkan tampil di hadapan publik selama periode tersebut.[3]
Revitalisasi dan Pelestarian
Upaya mempertahankan kesenian Kuda Kosong melibatkan sinergi berkelanjutan antara seniman, masyarakat, dan pemerintah daerah. Proses pelestarian ini mencakup langkah-langkah kebijakan formal, adaptasi ritual, hingga manajemen pementasan yang lebih modern. Pemerintah Kabupaten Cianjur telah mengintegrasikan Kuda Kosong ke dalam kebijakan strategis daerah melalui beberapa langkah utama:[3]
Mediasi Konflik: Pada masa kepemimpinan Bupati H. Tjetjep Muchtar Soleh (2006–2016), pemerintah bertindak sebagai mediator untuk menyelesaikan polemik terkait pelarangan pementasan Kuda Kosong di ruang publik.
Penguatan Ideologi Budaya: Penambahan aspek kebudayaan dari "3 Pilar" menjadi "7 Pilar Kebudayaan Cianjur". Kebijakan ini bertujuan membentengi identitas lokal dari pengaruh budaya luar sekaligus menjadi instrumen pemulihan sosial-budaya masyarakat.
Legitimasi dan Promosi: Pemerintah secara rutin menyertakan Kuda Kosong dalam Pawai Pembangunan tahunan, mengajukan kesenian ini sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB), serta melakukan sosialisasi masif melalui media cetak dan elektronik.[3]
Atas negosiasi panjang yang dilakukan oleh berbagai pihak, pada tahun 2001 Kuda Kosong mulai kembali ditampilkan di hadapan publik Cianjur.[28]
Adaptasi oleh Seniman
Tari Kuda Kosong (1996)
Pada tahun 1996 Tatang Setiadi, maestro seni tradisi Cianjur, mengadaptasi parade Kuda Kosong menjadi sajian tarian. Kuda Kosong dibuatkan replika yang diperankan oleh dua orang, dilengkapi dengan penari pengiring, ponggawa, pemegang payung agung, dan sosok sesepuh juru kunci. Penampilan kemasan tarian ini di berbagai acara menjadi salah satu upaya penting sebagai pengingat dan katalisator revitalisasi parade Kuda Kosong di masa-masa pelarangan.[26][29]
Parade Kuda Kosong (konsep baru)
Para seniman memiliki peran penting dalam menghidupkan kembali tradisi ini pasca-terbitnya fatwa pelarangan. Melalui dialog intensif dengan berbagai tokoh masyarakat, para seniman menyepakati langkah kompromi berupa pengembangan dan modifikasi pementasan. Perubahan signifikan dilakukan dengan menghapus prosesi ritual ngalinggihkeun dan ngalungsurkeun yang sebelumnya dianggap kontroversial, sehingga fokus beralih sepenuhnya pada aspek seni pertunjukan.[3] Kompromi tersebut berdampak terhadap perubahan nilai filosofis Kuda Kosong, dengan memaksa unsur sakral menjadi profan, serta menggunakan versi kisah yang lebih kontemporer.[5][18]
Untuk menjaga relevansi dan daya tarik bagi penonton, setiap pementasan parade Kuda Kosong kini melewati tahap evaluasi berkala. Pengelolaan kesenian ini juga telah diformalkan melalui pembentukan Badan Pengelola Kesenian Kuda Kosong (saat ini diketuai oleh Dadang Ahmad Fajar) yang bertugas mengoordinasikan standarisasi dan pengembangan artistik di masa depan.[3]
Urgensi Pelestarian Budaya Cianjur
Tak sedikit seni budaya Cianjur hilang dan terancam mati. Seperti seni bangkong reang di Kec. Pagelaran, seni tanjidor di Kec. Cilakongkulon, goong renteng di Kec. Agrabinta, seni rudat di Kec. Kadupandak, dan seni reak di Kec. Cibeber. Bahkan, seni Tembang Cianjuran sebagai warisan budaya ciptaan Kangjeng Raden Aria Adipati Kusumaningrat atau Dalem Pancaniti Bupati Cianjur (1834-1861) benar-benar hampir terancam kepunahan.
↑Kebudayaan;, Indonesia Departemen Pendidikan dan (1999). Sejarah Cikundul Kajian Sejarah dan Nilai Budaya(PDF) (dalam bahasa Indonesia). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)