Sejarah Desa Krakal tidak disebutkan secara khusus melainkan secara umum meliputi wilayah di sekitar mata air Pemandian Air Panas. Wilayah Desa Krakal dan sekitarnya kono telah dihuni manusia kurang lebih 900 tahun yang lalu. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan zaman dahulu yang berupa sebuah makam/hastana. Makam tersebut dikenal masyarakat dengan nama Hastana Budha. Makam tersebut terletak di wilayah RT 01 RW 04 Desa Desa Kalirancang/ desa tetangga. Makam tersebut merupakan makam keluarga Ki Margodan. Pada Gapura Hastana Budha, terdapat tulisan “dibangung Tahun 1115 M.” Hal tersebut merupakan bukti bahwa Desa Krakal telah dihuni oleh manusia sejak ber-abad – abad yang lalu. Namun sayangnya, peninggalan sejarah tersebut kini mulai rusak. Hal tersebut dikarenakan kurangnya perhatian dari pemerintah dan masyarakat setempat dalam melestarikan cagar budaya. Waktu Kian berlalu, konon sekitar tahun 1850, ada keluarga yang dikenal masyarakat sebagai cikal bakalnya Desa Krakal, yaitu Mbah Salep atau yang lebih dikenal lagi dengan nama Ki Trukah.[2]
Desa Krakal berada di Lembah Kedungbener yang berarah Utara - Selatan di kaki Pegunungan Serayu Selatan sehingga didominasi perbukitan bergelombang dan lembah. Ketinggian rata rata desa ini pada 50 meter di atas permukaan air laut (m/dpl). Titik tertingginya berada di Bukit Cantel (269 m) di barat Dusun Pedurenan serta Bukit Jrambeng (200 m) ditimur Dusun Larangan.[butuh rujukan]
Sungai besar yang melintas di desa ini adalah Sungai Kedungbener di sebelah Timur dan Sungai Kalijaya di sebelah Barat.[butuh rujukan]
Pemandian Air Hangat Krakal merupakan wisata utama di Kabupaten Kebumen. Lokasinya tepat diperbatasan antara Desa Kalirancang dan Desa Krakal tepatnya di daerah bernama Kalisinan. Jika Pada musim liburan banyak wisatawan dari berbagai daerah datang ke Pemandian Air Hangat Krakal. Pemandian Air Hangat Krakal bisa digunakan untuk terapi pengobatan. Bagi yang mempunyai penyakit kulit kronis silahkan dibuktikan mandi dan berendam di pemandian ini. Menurut literatur, mata air panas pemandian ini bukan mata air dari gunung berapi, tetapi dihasilkan oleh patahan blok turun di sebelah timur lokasi tersebut. Mata air itu diduga karena konduksi panas dari sumber magma yang berada lebih 1 kilometer di bawah tanah dan kemudian muncul zone patahan tersebut. Itu sebabnya air panas tersebut mengandung sulfur rendah yang menandakan bukan karena pengaruh vulkanisme. Debit airnya rata-rata 10 liter/menit. Suhu rata-rata sekitar 40 derajat Celcius, rasa airnya asin dan pahit karena mengandung gas CO2, H2S dan NH3.[butuh rujukan]
1. Tahu Krakal
Rahu Krakal adalah salah satu potensi Desa Krakal yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Kecamatan Alian bahkan Kabupaten Kebumen. Tahu Krakal diproduksi di pabrik kecil milik masyarakat. Prosesnya masih sangat alami dengan bahan bahan pilihan sehingga rasa yang dihasilkan tidak mengecewakan. Tahu Krakal umumnya sejenis Tahu Sumedang tetapi lebih berongga/kopong dan memiliki rasa gurih sedikit lebih asin serta tidak terlalu kering seperti tahu kopong pada umumnya. Tahu Krakal enak dimakan langsung atau dimasak berbagai olahan masakan nusatara. Namun umumnya masyarakat mengolah Tahu Krakal menjadi Sambal Tahu yang enak dimakan bersama Nasi Oyek.[butuh rujukan]
2. Jenitri
Desa Krakal juga termasuk salah satu desa di Kabupaten Kebumen yang dikenal dengan hasil Jenitri (Elaeocarpus ganitrus) nya. Meski tak semua jenitri merupakan hasil bumi Desa Krakal tetapi banyak pengepul Jenitri di desa ini, terutama di Dusun Krajan. Terdapat puluhan pengepul jenitri di Dusun Krajan yang melayani pembelian jenitri oleh para pedagang dari sejumlah negara seperti dari Tiongkok, Nepal, India sampai Jepang. Sebelum dijual ke pengepul, petani yang secara umum berasal dari Kecamatan Alian dan Kecamatan Karangsambung itu mengolah genitri hingga hilang kulitnya lalu dipilah-pilah berdasarkan bentuk, ukuran dan jenisnya. Jenis termahal adalah Bodong.[butuh rujukan]