Koto Tangah Batu Ampa adalah sebuah nagari yang berada di wilayah Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Pada tahun 2010, penduduknya berjumlah 8.469 jiwa. Koto Tangah Batu Hampa adalah salah satu dari Tujuh (7) nagari di Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia.
Sejarah
Sebelumnya ada 2 nagari pada masa kelarasan pada zaman Belanda yang kemudian bergabung menjadi satu Nagari "Koto Tangah" setelah kemerdekaan, dan sekarang berubah nama dengan "Koto Tangah Batu Hampa".[1] 2 nagari berikut adalah:
Nagari Koto Tangah dan Nagari Tambun Ijuak pada masa belanda
Nagari Tambun Ijuak Tigo Baririk, dengan 3 Jorong yaitu
Jorong Batu Tanyuah
Jorong Tambun Ijuak
Jorong Subarang Parik
Nagari Tanjung Bayur Koto Tangah, dengan 3 jorong dan 2 wilayah adat yaitu
Tanjuang Bungo Satangkai (Jorong Koto Tangah dan Sungai Cubadak)
Dusun: Tanjung Bayur, Koto Tangah, Tanjuang Bungo, dan Sungai Cubadak
Dusun: Guguak Nunang, Guguak Malintang, dan Pasandiang
(Tanjung Bayur, Koto Tangah, Tanjuang Bungo, dan Sungai Cubadak) adalah wilayah ”Tanjuang Bungo Satangkai”, sementara (Guguak Nunang, Guguak Malintang, dan Pasandiang) adalah ”Tigo Alua” atau sekarang dikenal sebagai ”Piladang”.
[2]
Setelah sistem pemerintahan kelarasan dihapuskan tahun 1914, kedua nagari ini kemudian digabung menjadi satu dengan nama Nagari Koto Tangah. Lalu setelah kemerdekaan nagari ini bernama Koto Tangah Batu Hampa. Pada tahun 1979, nagari-nagari di Sumatra Barat beralih menjadi Desa, dan nagari ini dipecah menjadi beberapa desa yaitu Desa Koto Tangah Batu Hampa Barat (meliputi Jorong Koto Tangah dan Sungai Cubadak), Desa Piladang, dan Desa Koto Tangah Batu Hampa Selatan (meliputi Jorong Subarang Parik, Tambun Ijuak, dan Batu Tanyuah). Kemudian setelah ketetapan pemerintah tentang otonomi daerah pada tahun 2001, desa di Sumatra barat dikembalikan menjadi nagari sehingga nama nagari ini dinamai kembali dengan Nagari Koto Tangah Batu Hampa, ditambahi kata "Batu Hampar" dikarenakan berdekatan dan masih memiliki hubungan secara wilayah adat dengan Nagari Batu Hampar.
Pada saat sekarang, masyarakat di Jorong Piladang tengah berupaya melakukan pemekaran nagari yaitu Nagari Piladang, dan kemungkinan akan terealisasi dalam kurun waktu 2-3 tahun. Hal ini dilakukan karena menimbang luas jorong dan populasi dihitung dari jumlah KK yang ada sehingga kurang meratanya bantuan pemerintah yang turun dan dibagi ke setiap jorong di dalam Nagari Koto Tangah Batu Hampa saat ini.
Jorong
Masjid Raya di Piladang Antara Tahun 1958 - 1965 M.
Terdapat 6 jorong di Nagari Koto Tangah Batu Hampa pada masa sekarang, yakni:
Masyarakat Jorong Piladang di nagari Koto Tangah Batu Hampa pada 1960
Ekonomi
Di desa atau nagari ini terdapat sentra produksikerupuk merah di Piladang dan pengolahan ubi kayu. Produksi hasil pertanian utamanya adalah padi sawah. Terdapat 1 pasar induk se-kecamatan Akabiluru yang berada di Jorong Piladang yang bernama "Pokan Jumaik Piladang".
Referensi
↑Saiful., SP (2017). "Sejarah Kecamatan Akabiluru". Carito LUHAK NAN BUNGSU. 1159 (021-11-02017): 2–5.
↑Hikmat, Israr (2009). NAN TASERAK -Seputar Tambo & Perjuangan Rakyat Lima Puluh Kota. Bandung: Budaya Media. hlm.12–17. ISBN978-979-99077-5-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)