Dalam pengeboman tersebut, seorang militan dari Jammu dan Kashmir menewaskan 40 anggota Pasukan Polisi Cadangan Pusat di Pulwama. Kelompok militan yang berpusat di Pakistan, Jaish-e-Mohammed menyatakan bertanggung jawab atas serangan itu, sementara pemerintah Pakistan mengutuk serangan tersebut dan membantah keterlibatan dalam bentuk apa pun.[21]
Sebagai reaksi terhadap serangan bunuh diri tersebut, Angkatan Udara India pada 26 Februari dengan melanggar Garis Kontrol (LOC) di Kashmir—untuk pertama kalinya sejak Perang India-Pakistan 1971—untuk melancarkan yang mereka sebut serangan udara "pendahuluan" yang menargetkan sebuah kamp pelatihan teroris dan menewaskan beberapa militan.[12][22] Penduduk setempat[23] dan militer Pakistan membantah klaim India mengenai serangan itu, dengan mengatakan tidak ada korban tewas dan infrastrukturnya tidak ada yang rusak.[24]
Di tengah situasi yang memuncak, India dan Pakistan terlibat baku tembak di sepanjang Garis Kontrol pada 26 dan 27 Februari. Sepuluh tentara India terluka[5] sementara empat warga sipil Pakistan tewas dalam penembakan itu.[25] Pada hari terakhir, Pakistan melancarkan serangan udara di Kashmir yang dikuasai India yang tidak menimbulkan korban atau kerusakan.[26]
Pada 27 Februari juga, Pakistan menyatakan bahwa mereka telah menahan dua pilot setelah menembak jatuh dua pesawat jet India di wilayah udara Pakistan. India menyatakan bahwa hanya satu pesawat MiG-21 yang hilang dan menuntut pembebasan pilotnya. India juga menyatakan telah menembak jatuh sebuah pesawat F-16 Pakistan, yang dibantah oleh Pakistan. Pakistan kemudian mengklarifikasi bahwa hanya ada satu pilot India, Abhinandan Varthaman, yang ditahan dan dia kemudian dibebaskan pada 1 Maret.[6]
India dan Pakistan telah lama saling berselisih satu sama lain, terlibat dalam beberapa perang, konflik, dan kebuntuan militer. Akar dari ketegangan yang terus-menerus ini sangat kompleks, tetapi sebagian besar berpusat di sekitar negara bagian Jammu dan Kashmir. Setelah pembagian India tahun 1947, negara Pakistan dan India yang baru terbentuk berebut penguasaan atas wilayah kerajaan Jammu dan Kashmir, yang berkembang menjadi Perang India-Pakistan 1947-1948. Sebagian yang dipermasalahkan adalah fakta bahwa pembagian kedua negara tahun 1947 belum menentukan status akhir dari wilayah kerajaan tersebut. Masalah ini ternyata sulit ditangani, memicu perang selanjutnya tahun 1965, serta pada tahun 1971. Kedua negara dipersenjatai dengan senjata nuklir setelah mengembangkannya dalam tahun 1990-an, yang memiliki efek serius pada konflik selanjutnya – seperti Perang Kargil 1999.[27]
Nasib Kashmir tetap belum ditentukan. Kedua negara menyatakan bahwa Kashmir adalah milik mereka, tetapi administrasi pemerintahan sehari-hari terbagi antara kedua negara. Wilayah ini dibagi oleh Garis Kontrol: wilayah di sebelah barat laut dari garis ini dibawah pemerintahan Pakistan, wilayah di sebelah tenggara di bawah pemerintahan India.[28] Sejak tahun 1989, pemberontakan berkobar di Kashmir. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, India telah melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia di Kashmir. PBB juga menuduh Pakistan memberikan dukungan material kepada para militan, yang dibantah Pakistan.[29] Banyak warga Kashmir menuntut kemerdekaan dari India dan Pakistan.
↑DelhiFebruary 27, India Today Web Desk New; February 27, 2019UPDATED:; Ist, 2019 12:45. "Pakistani jets cross LoC, Indian Air Force takes down one F-16". India Today. Diakses tanggal 27 February 2019.Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)