Konflik Banten–Portugis merupakan konflik yang melibatkan Kesultanan Banten dengan Kerajaan Portugis yang bermarkas di Melaka dan Goa. Konflik utama ini terjadi karena persaingan perdagangan rempah-rempah yang ada di Indonesia mulai dari pedagang eropa lain yang ingin membuat markas di Banten, yang mengakibatkan kalah saing dengan negara Eropa lainnya.
Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit oleh Kesultanan Demak, Islam mulai tersebar luas dengan cepat di Pulau Jawa. Sunda yang merupakan Kerajaan Hindu merasa terancam akan serangan Demak untuk menyebarkan IsIam di Kerajaan Sunda, Kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin oleh Surawisesa meminta bantuan kepada Portugis yang berada di Melaka.[2][3][4] Pada tahun 1512, Raja Sunda yakni Surawisesa pergi ke Melaka untuk bekerjasama dengan Portugis.[2][3][4][5] Setelah sekian lama akhirnya, pada tahun 1520, Portugis mengirimkan utusan balasan untuk pergi ke Sunda Kelapa,[6][3][5] disinilah Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal dibuat, beberapa isinya adalah tentang perdagangan rempah-rempah dan pembuatan benteng di Sunda Kelapa,[4][7] semua isi perjanjian itu disetujui oleh Surawisesa. Dengan terikat nya perjanjian antara Sunda dengan Portugis, Surawisesa menganggap bahwa Sunda sudah aman dari ancaman serangan Demak.[2][3][4][5]
Penaklukan Sunda Kelapa
Rentang operasi militer yang dilakukan Kesultanan Demak hingga masa pemerintahan Trenggana yang berkisar antara 1518-1546
Melihat dan disetujuinya pembuatan benteng Portugis yang berada di Sunda Kelapa, Sultan Demak yang ke-3 yakni Sultan Trenggana merasa cemas akan kehadiran Portugis yang berada di Sunda Kelapa.[8] Untuk mengatasi hal tersebut, Sultan Demak memerintah senapati nya yaitu Fatahillah bersama dengan pasukannya untuk menyerbu Sunda Kelapa,[4][5][9] pasukan Fatahillah berangkat ke Sunda Kelapa, tetapi sasaran pertama Fatahillah yakni bukan Sunda Kelapa melainkan Banten, agar kapal Portugis tidak dapat melewati Selat Sunda. Akhirnya, Fatahillah menaklukkan wilayah Banten terlebih dahulu, Fatahillah bersama dengan pasukan Demak–Cirebon yang berjumlah 1.967 orang berhasil menaklukkan Banten,[3][8] Setahun setelah menaklukkan Banten, Fatahillah bersama pasukan gabungan Demak–Cirebon–Banten yang berkekuatan 1.452 orang menyerbu Sunda Kelapa.[10][3] Petugas dan menteri Portugis yang berada di Sunda Kelapa ditemukan tewas bersama keluarganya di Sunda Kelapa. Surawisesa memerintahkan pasukan yang berada di Pakuan untuk membantu Portugis di Sunda Kelapa, tetapi mereka dapat dikalahkan dan dipukul mundur.[10][3] Karena terikat perjanjian dengan Sunda, akhirnya Portugis mengirimkan bantuan dari Melaka[1] tetapi terlambat, Sunda Kelapa sudah dapat dikuasai oleh pasukan Fatahillah,[4][5][9][10] demikian pula dengan Banten yang sudah dikuasai oleh pasukan Maulana Hasanuddin. Pasukan bantuan Portugis yang datang dari Melaka pun datang di Sunda Kelapa, tetapi mereka mendarat telalu dekat dengan pelabuhan yang mengakibatkan pasukan bantuan itu diserang oleh pasukan Fatahillah.[10][1][3] Setelah banyak pertempuran yang dilakukan oleh mereka, akhirnya Sunda Kelapa jatuh ke tangan Demak lalu diberikan kepada ke Banten dan berubah nama menjadi Jayakarta.[2][4][5][7][9][8][1]
Pengepungan Melaka (1575)
Aceh dan Banten sangat khawatir jika Portugis akan menyerang mereka suatu hari, untuk mencegah itu, Aceh yang dipimpin Malahayati mengatur rencana untuk menyerang Portugis yang berada di Melaka untuk mengusirnya. Aceh bersama Banten bersama-sama menyusun pasukan dan kekuatan untuk menyerang Portugis yang berada di Melaka.[11][12]
Setelah saatnya tiba, sekitar tahun 1575, Pasukan Aceh yang dipimpin oleh Malahayati bersama suaminya yang bernama Laksamana Mahmud Syah memimpin penyerangan ini, sedangkan pasukan Banten dipimpin oleh Pangeran Arya.[11][12]
Pertempuran A Famosa
Lukisan pemandangan Portugis di Melaka bersama Benteng A Famosa
Pada tahun 1575, pasukan Aceh–Banten menyerang Melaka dengan sangat hebat, mereka hampir bisa menguasai benteng Portugis yang berada di Melaka, Tristão Vaz da Veiga, kapten Portugis sangat kebingungan mengatasi serangan ini karena jumlah pasukan mereka hanya 120 orang saja.[13] Untuk mengelabui pasukan Aceh–Banten, Tristão Vaz da Veiga memerintahkan pasukannya untuk mengadakan serangan dadakan agar jumlah pasukan mereka terlihat banyak dan tidak dapat dihitung,[13] karena serangan dadakan tersebut, pasukan Aceh–Banten banyak yang tewas, salah satunya yaitu suami dari Malahayati yaitu Laksamana Mahmud Syah,[11][12] sehingga mereka mengundurkan perahu mereka ke Sumatera, dan lagi-lagi serangan Aceh ke Portugis Melaka dapat digagalkan.
Sekitar tahun 1596, Maulana Muhammad, Sultan Banten yang ke-3 yang saat itu berumur 25 tahun tergoda oleh hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi Raja di Palembang,[14][15] terlebih lagi jika Banten saat itu berhasil menguasai Palembang, Banten akan mendapatkan perekonomian yang sangat menguntungkan kepada Banten karena perdagangan di Palembang yang sangat ramai,[14][16][17][18] adapula kabar bahwa warga Palembang pada saat itu belum memeluk IsIam atau disebut kafir oleh penduduk Banten. Mendengar kabar bahwa Palembang masih belum memeluk Islam, Maulana Muhammad bertekad untuk menyerang Palembang.[19] Perintah itu sempat ditolak oleh pembesar Banten,[16] tetapi Maulana Muhammad yang saat itu masih muda dan memiliki tekad yang tinggi, nasihat itu dihiraukan olehnya.
Pertempuran Sungai Musi (1596)
Persiapan untuk menyerang Palembang pun disiapkan dengan matang oleh Maulana Muhammad, yaitu dengan mempersiapkan 200 kapal perang dibawah pimpinannya,[14] sedangkan dari darat Banten meminta Lampung yang sudah setia kepada Banten agar menyerang dari darat.[15][18] Invasi pun diluncurkan, kapal perang Banten dapat memasuki kota Palembang dengan mudah, bahkan pasukan Palembang dapat dipukul mundur hingga sampai ke keraton, tetapi saat bertempur di dekat keraton, penembak Portugis berasal dari keraton menembak tepat di dada Sultan Maulana Muhammad,[16][20] yang mengakibatkan kematian ditempat saat bertempur. Akhirnya pertempuran pun dihentikan dan pasukan Banten dikembalikan ke Banten.[15][16][21]
Kedatangan pedagang Belanda di Banten
Kedatangan Cornelis de Houtman
Poster sekolah Belanda karya Adriaan Groenewegen: Cornelis de Houtman komt aan in Bantam
Pada tanggal 23 Juni 1596, datanglah orang-orang Belanda yang dipimpin oleh Pieter Keyzer dan Cornelis de Houtman,[22][23][24] kedatangan mereka adalah awal saat Belanda menginjakkan kaki di Indonesia, kedatangan mereka tidak lain adalah untuk berdagang,[25] Mangkubumi Jayanagara menyambut mereka dengan sangat baik dan hangat tetapi mereka malah bertindak kasar dan tidak sopan kepada penduduk dan Mangkubumi Banten tersebut.[23][24] Walaupun begitu Mangkubumi Jayanagara masih mengajak orang Belanda itu untuk bekerjasama agar dapat membantu Banten menyerbu Palembang untuk yang ke-2 kalinya,[22][24] namun permintaan Mangkubumi itu ditolak oleh Cornelis de Houtman dengan alasan karena ia hanya ingin berdagang.[23][24] Setelah penolakan itu pasukan Banten tetap pergi ke perbatasan Palembang, tetapi pasukan itu dikembalikan lagi karena invasi tidak dilanjutkan.[22][24]
Namun setelah kembalinya pasukan Banten itu, Cornelis de Houtman masih berada di Banten yang seharusnya mereka sudah pulang, alasannya karena mereka menunggu panen lada yang nantinya akan dibeli murah oleh mereka,[24] hal ini membuat Mangkubumi Jayanagaramarh,[23] terlebih lagi saat itu pada malam hari mereka mencuri 2 kapal Banten yang penuh muatan lada. Karena mereka ketahuan melakukan pencurian, akhirnya Cornelis de Houtman menembaki pelabuhan Banten sambil melarikan diri, tetapi pasukan Banten mengejar mereka dan berhasil menangkap Cornelis de Houtman bersama awak kapal lainnya.[24] Akhirnya pada tanggal 2 Oktober 1596, Cornelis de Houtman dibebaskan dengan tebusan 45,000 gulden.[22][23][25]
Perebutan wilayah perdagangan
Kedatangan Belanda untuk kedua kalinya
Lukisan wajah Jacob van Neck
Setelah pengusiran Cornelis de Houtman oleh Banten yang dibantu oleh pedagang Portugis, akhirnya pedagang Belanda berlayar kembali lagi ke Banten pada tanggal 1 Mei 1598 yang dipimpin oleh Jacob van Neck, van Waerwijk, dan van Heemskerck, yang tiba di Banten pada tanggal 28 November 1598.[22][23][24] Kali ini mereka bersifat sopan dan menghormati penduduk setempat, melihat perilaku mereka yang begitu sopan, akhirnya Mangkubumi Jayanagara dapat menerima mereka dengan sambutan yang hangat. Bahkan mereka diizinkan untuk bertemu dengan Sultan Banten yang masih kecil, sambil membawa piala berkaki emas sebagai tanda persahabatan dengan Sultan Abdul Kadir yang masih kecil.[22][23][24][26]
Setelah berkunjung ke Banten, Jacob van Neck berhasil membawa 3 buah kapal yang penuh muatan lada untuk dibawa ke Belanda. Kunjungan Belanda ke Banten untuk kali ini bisa disebut berhasil,[22][24] karena keberhasilan itu akhirnya banyak pedagang Belanda yang banyak mengunjungi pelabuhan Banten, pelabuhan Banten pun semakin ramai oleh orang-orang Belanda.[23][27]
Portugis meminta Banten mengusir Belanda
Pada suatu hari Gubernur Jenderal Portugis yang berada di Melaka mengirimkan uang 10,000 rial kepada Mangkubumi Jayanagara untuk menghentikan melakukan perdagangan dengan Belanda, apabila Banten tidak mau Portugis terpaksa harus melakukan penghancuran skala penuh terhadap kapal dagang Belanda yang berada di Banten dan Maluku,[22][24] Karena tidak mau rugi akhirnya Mangkubumi Jayanagara menerima uang itu dan menyetujui untuk memutuskan hubungan dagang dengan Belanda.[23]
Namun, disisi lain Mangkubumi Jayanagara lebih berpihak kepada Belanda, akhirnya Mangkubumi Jayanagara memberi tahu kepada seluruh pedagang Belanda bahwa akan datang armada Portugis yang akan menghabisi mereka,[22][23][24] mendengar kabar tersebut pedagang Belanda yang berada di wilayah perairan Banten segera pergi dan pulang ke Belanda.
Pertempuran Pelabuhan Banten (1598)
Sesuai yang dikatakan bahwa Portugis akan membinasakan seluruh kapal Belanda yang ada di Banten, akhirnya armada Portugis yang dipimpin oleh Laurenco de Brito tiba di Banten pada tahun 1598.[22][24] Namun setelah mereka tiba di Banten mereka melihat bahwa Pelabuhan Banten sudah sepi, padahal seharusnya Pelabuhan Banten penuh dengan kapal Belanda. Melihat sepinya Pelabuhan Banten itu membuat Laurenco de Brito sangat marah,[23] dia menuntut untuk mengembalikan uang yang diterima oleh Mangkubumi Jayanagara karena ia telah membela pedagang Belanda itu, tetapi Mangkubumi Jayanagara tidak mau, karena pengusiran kapal Belanda yang berada di pelabuhan Banten bukanlah hak Portugis, melainkan seharusnya hak Banten.[22][23][24] Armada Portugis pun murka, pelabuhan Banten diserang dan dijarah, Bahkan pedagang dari Cina pun dirampas dagangannya. Tentara Banten kemudian menyerang balik hingga tiga kapal Portugis dapat direbut dan awak kapalnya melarikan diri meninggalkan kapal dan barang jarahannya.[22][23][24]
Pada suatu hari, armada Aceh yang dipimpin oleh Laksamana Muda Ibrahim dan istrinya yang bernama Malahayati sedang berpatroli di sekitaran Riau, saat mereka berpatroli, mereka melihat kapal dagang rempah-rempah Banten yang sedang diserang oleh kapal Portugis, mereka dipaksa menyerahkan rempah-rempahnya, pedagang Banten nampaknya melakukan perlawanan, namun kekuatannya tidak seimbang, yang alhasil 2 kapal yang penuh dengan rempah-rempah dirampas oleh Portugis, melihat kejadian tersebut Laksamana Muda Ibrahim bersama Malahayati mengejar armada Portugis tersebut hingga sampai ke Tanjung Parit.[28][29]
Disinilah Laksamana Muda Ibrahim mengatur rencana untuk menyerang 6 kapal. Portugis tersebut, disaat sedang mengatur rencana, tiba-tiba terdapat tembakan meriam dari kapal Portugis yang tepat mengenai kapal Laksamana Muda Ibrahim sehingga ia tewas didalam kapal tersebut.[30] Malahayati selalu istri dari Laksamana muda Ibrahim merasa sangat sedih kehilangan suaminya.[31][29]
Melihat kematian suaminya Malahayati semakin marah kepada Portugis, ia langsung menyerang kapal Portugis tanpa pikir panjang yang mengakibatkan 3 kapal Portugis tenggelam, 2 dirampas, dan 1 dapat meloloskan diri.[32] Berita ini sampai ke negri Banten, Sultan Banten saat itu yaitu Maulana Yusuf mengucapkan selamat kepada Malahayati yang telah memenangkan pertempuran tersebut.[31][29]
Pertempuran Pelabuhan Banten (1601)
Kemenangan Belanda atas armada Portugis di Banten, 1601
Pada tanggal 21 Desember 1601 pelaut Belanda yang dipimpin oleh Wolfert Harmensz sedang berlabuh di Pelabuhan Banten, namun disaat mereka sedang berdagang, Tiba-tiba datang armada Portugis dari Goa-India yang dipimpin oleh André Furtado de Mendonça.
Seperti tahun tahun sebelumnya, Belanda dan Portugis sangat bermusuhan, melihat kapal Belanda yang berada di Banten mereka memanfaatkan ini untuk mengatur kembali otoriter mereka di Banten. Namun Belanda memberikan perlawanan yang sengit, Portugis menderita banyak kekalahan bahkan 3 kapal mereka direbut oleh Belanda sedangkan Belanda tidak ada korban 1 pun, melihat pertempuran yang sengit Portugis pun terusir kembali dari Banten dan gagal mendirikan otoriter nya kembali di Banten.[33]
↑Moree, Perry (2001). Dodo's en Galjoenen. De reis van het schip Gelderland naar Oost-Indië, 1601-1603 (dalam bahasa Belanda). Waburg Pers. ISBN9057301717.
Sumber
Usman Supendi & Via Nur Hasanah, (2024), Penaklukan Sunda Kelapa 1527:Peran Fatahillah melawan Portugis, Universitas Serambi Mekkah.
Michrob Halwany A, Mudjahid Chudari (1989). Catatan masalalu Banten. Pengurus Daerah Tingkat II Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Serang.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
↑Hingga 1579, Runtuhnya Kerajaan Sunda oleh Banten