Kompleks Superioritas (bahasa Inggris: Superiority Complex) adalah istilah non-formal dan tidak diakui secara resmi dalam psikologi untuk menggambarkan mengenai kondisi di mana seseorang berpikir atau bertindak bahwa seolah dirinya lebih unggul dari orang lain. Sikap ini umumnya dipandang sebagai mekanisme pertahanan psikologis untuk mengatasi rasa inferior (rendah diri).[1]
Menurut Alfred Adler, sebagai penggagas, mengemukakan dan berpendapat bahwa komplek superioritas berasal dari rasa untuk memenuhi kebutuhan rasa kepercayaan dan harga diri dari kompleks inferioritas. Ia juga percaya bahwa kompleks inferioritas dan kompleks superioritas memiliki hubungan sebagai sebab-akibat.
Ia juga berpendapat bahwa kompleks superioritas tak lebih dari merupakan varian kompleks inferioritas yang lebih vokal.[3]
Interpretasi Lain
Ada P. Kahn berpendapat bahwa kompleks superioritas dan kompleks inferioritas sejatinya bertolak belakang dan tidak dapat ditemukan di individu yang sama, karena orang dengan kompleks superioritas sejatinya menganggap diri mereka superior.[4]
Manifestasi
Walaupun bukan diagnosis resmi yang diakui, menurut interpretasi dari media seperti Healthline, kompleks superioritas kemungkinan memiliki karakteristik umum yang mencakup:
Penilaian tinggi terhadap harga diri
Klaim sombong tanpa didukung oleh kenyataan
Perhatian terhadap penampilan dan kebanggaan/penghargaan
Memiliki opini yang terlalu tinggi tentang diri sendiri
Gambaran diri sebagai sosok superior atau otoritatif
Tidak mau mendengarkan orang lain
Kompensasi berlebihan untuk elemen kehidupan tertentu
Perubahan suasana hati, sering kali diperburuk oleh pertentangan dari orang lain
Perasaan rendah diri atau rasa inferior yang mendasari[5]
Efek
Menurut interpretasi dari beberapa sumber kompleks superioritas dapat berdampak dalam berbagai aspek di kehidupan nyata. Seperti, menurut Dr. Daramus, efeknya antara lain seperti rasa harga diri rendah, permasalahan menjaga hubungan interpersonal, dan permasalahan karier.[6]
Kaitan dengan gangguan kepribadian narsistik
Meskipun bukan bagian dari diagnosis resmi, kompleks superioritas memiliki kaitan dengan gangguan kepribadian narsistik karena sifatnya yang saling tumpang tindih. Menurut Medical News Today, beberapa karakteristik dari kompleks superioritas dapat menjadi tanda gejala gangguan kepribadian narsistik.
Namun, gangguan kepribadian narsistik tidaklah sama dengan kompleks superioritas, ada beberapa kunci perbedaan, dari sumber yang sama, orang dengan kompleks superioritas cenderung kurang peduli tentang apa yang orang lain pikirkan mengenai dirinya.[7]