Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus.
Koesalah Soebagyo Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 27 Januari 1935 dan wafat di Depok 16 Maret 2016, adalah anak keenam pasangan Mastoer dan Oemi Saidah. Dia adalah adik dari sastrawan terkenal yaitu, Pramoedya Ananta Toer (anak sulung). Sejak umur 15 tahun, dia sudah mulai belajar menulis dan menerjemahkan, terutama dari Pramoedya Ananta Toer. Yang juga mulai menjadi redaktur majalah pelajar Taman Siswa Suluh Siswa. Pada waktu itu cerpen, sajak, dan terjemahannya dipublikasikan di majalah-majalah yang popular seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Garuda, Pemuda, Pewarta PPK, Brawidjaja, Duta Suasana, Pentja, dll
Setamat SMP di Blora dia meneruskan pendidikan di Taman Dewasa dan Taman Madya, Kemayoran, Jakarta dan Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1954, tidak selesai). Menjadi penerjemah pada Kedutaan Besar Cekoslowakia (1957-1959), dan wartawan kebudayaan INPS (Indonesia National Press and Publicity Service, 1959-1961). Mendirikan OPI (Organisasi Penerjemah Indonesia, 1959-1961).
Pada tahun 1960-1965 dia mendapat beasiswa untuk belajar di Fakultas Sejarah dan Filologi Universitas Persahabatan Rakyat-Rakyat, Moskow. Sambil belajar, memimpin majalah dinding Indoneziya (1960-1965), dan dua tahun terakhir merangkap menjadi penerjemah di Kantor Berita Novosti. Lulus tahun 1965 sebagai mahasiswa cum laude dengan hak meneruskan pendidikan di tingkat aspirantura (post graduate). Mendapat tanda penghargaan dari Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Soviet, Manai Sophiaan.
Pada 1965-1967 dia menjadi dosen bahasa Rusia di Akademi Bahasa Asing (ABA) Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK). Pada 1968-1978 menjadi tahanan politik Orde Baru.
Tahun 1999 bersama Pramoedya Ananta Toer, Soelami, Hasan Raid, Ribka Tjiptaning, dll mendirikan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965-1966 (YPKP 1965-1966). Dalam kaitan ini dia menjadi redaktur majalah Soeara Kita (organ YPKP 1965-1966, dari 1999), Fakta 65 (organ YPKP HAM, dari 2007). Juga menjadi redaktur majalah Info Druzhba (organ alumni pendidikan Rusia, dari 2007).
Mengajar bahasa Indonesia secara privat untuk orang asing, dan bahasa Inggris untuk orang Indonesia. Mengikuti kursus bahasa Jerman (1981-1989).
Bersama Pramoedya Ananta Toer dan Ediati Kamil dia menyusun buku Kronik Revolusi Indonesia. Dia juga menulis dua buku tentang almarhum Pramoedya Ananta Toer: Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006), dan Bersama Mas Pram (2009) juga buku-buku lain seperti Adik Tentara (1996), Adhine Tentara (1996), Kampus Kabelnaya (2003), Tanah Merah yang Merah Sebuah Catatan Sejarah (2010), Parikan Pantun Jawa Puisi Abadi (2011), Kronik Irian Barat Abad-Abad Pertama Masehi Sampai 1965 (2011), Anekdot Moskow (Pataba Press, 2016), Ibuku di Surga (Pataba Press, 2017), Rona-Rona (Pataba Press, 2017), Kamus Pramoedya Ananta Toer (2018), Kronik Abad Demokrasi Terpimpin (Pataba Press, Kendi, Jaker, 2019), Muso yang Kontroversial (Pataba Press, 2021), Mastoer Bapak Kami (Pataba Press, 2022), Anak Digul Bernama Darman (Pataba Press, 2022), Orang Salemba (Pataba Press, 2022), Kronik Abad Penjajahan Jepang (Pataba Press & Kendi, 2022), Kronik Abad Demokrasi Liberal (Pataba Press & Kendi, 2022), dll.
Buku yang dia sunting antara lain, Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel (2002) dan Mata Gelap (Pataba Press, 2021) keduanya karya Mas Marco Kartodikromo.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.