Seni Gembyung merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional khas Cirebon yang memiliki akar sejarah kuat pada masa penyebaran Islam di Jawa Barat. Kesenian ini dipercaya lahir sebagai bagian dari proses akulturasi budaya yang dilakukan oleh para Wali Songo, khususnya Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, dalam rangka menyebarkan ajaran Islam melalui media seni. Pada awalnya, Gembyung berkembang dari kesenian terbang—sebuah bentuk kesenian musik religi berbasis tabuhan rebana yang lazim dipentaskan di lingkungan pesantren (Sunarto, 2004).
Sebagaimana halnya kesenian terbang, Gembyung dipergunakan oleh para wali sebagai sarana dakwah, sekaligus hiburan bernuansa islami. Fungsi utama kesenian ini adalah untuk mengiringi berbagai kegiatan keagamaan, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Rajaban (peringatan Isra’ Mi’raj), maupun kegiatan 1 Muharam (1 Syuro) yang biasa digelar di sekitar masjid atau langgar. Dengan demikian, sejak awal kelahirannya, Gembyung telah berfungsi sebagai sarana spiritual, edukasi, dan perekat sosial masyarakat (Haer, 2010).
Instrumen Musik dan Susunan Ansambel
Gembyung termasuk dalam kategori musik ensambel tradisional yang didominasi oleh alat musik perkusi. Instrumen utama yang digunakan antara lain empat buah kempling (dikenal dengan sebutan kempling siji, loro, telu, dan papat), bangker, dan kendang. Pada beberapa pertunjukan, terdapat pula penggunaan waditra tarompet sebagai pelengkap, meskipun tidak selalu hadir di setiap grup Gembyung. Kombinasi tabuhan dari berbagai alat musik tersebut menghasilkan irama yang ritmis, menghentak, sekaligus membangkitkan suasana khusyuk dan semangat religius.
Repertoar Lagu dan Syair Religi
Repertoar lagu dalam kesenian Gembyung umumnya berisi syair-syair islami yang sarat nilai dakwah. Beberapa lagu yang lazim dibawakan antara lain Assalamualaikum, Basmalah, Salawat Nabi, dan Salawat Badar. Syair tersebut berisi doa, pujian kepada Nabi Muhammad SAW, serta ajakan untuk mempertebal keimanan. Ciri khas dari syair Gembyung adalah penggunaan bahasa Arab bercampur dengan bahasa lokal (Cirebonan), yang membuatnya mudah diterima masyarakat berbagai kalangan.
Busana dan Identitas Religius
Salah satu aspek menarik dari kesenian Gembyung adalah tata busana para pemainnya. Mereka mengenakan pakaian yang identik dengan busana ibadah, yakni kopiah (peci), baju kampret atau kemeja putih, dan kain sarung. Pilihan busana ini tidak hanya mencerminkan kesederhanaan, tetapi juga menegaskan identitas kesenian ini sebagai media dakwah Islam.
Perkembangan dan Perubahan Fungsi
Seiring berjalannya waktu, Gembyung tidak lagi terbatas pada lingkungan pesantren saja. Kesenian ini kemudian meluas ke kalangan masyarakat umum dan dipentaskan dalam berbagai perayaan sosial seperti khitanan, perkawinan, bongkar bumi, hingga mapag sri (ritual menyambut panen). Dalam perkembangannya, Gembyung juga mengalami proses akulturasi dengan kesenian lain. Di beberapa wilayah Cirebon, misalnya, lagu-lagu tarling dan jaipongan kerap dibawakan dalam pertunjukan Gembyung, sehingga memunculkan bentuk-bentuk kreasi baru yang lebih variatif.
Meski demikian, tidak semua kelompok Gembyung mengalami perubahan tersebut. Beberapa daerah seperti Argasunya, Cibogo, Kopiluhur, dan Kampung Benda masih mempertahankan Gembyung dalam bentuk aslinya, yakni dengan corak religius yang kental tanpa dipengaruhi musik populer atau kesenian lain (Haer, 2010). Hal ini menunjukkan adanya dua kutub perkembangan: di satu sisi Gembyung sebagai kesenian religius tradisional, di sisi lain sebagai kesenian rakyat yang terbuka terhadap inovasi.
Nilai Budaya dan Warisan Takbenda
Kesenian Gembyung bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga media pewarisan nilai-nilai spiritual, kebersamaan, dan kearifan lokal. Seni ini merupakan bukti nyata bagaimana masyarakat Cirebon mampu memadukan aspek religi dengan seni pertunjukan, sehingga terbentuklah sebuah tradisi yang hingga kini masih bertahan. Keberadaan Gembyung juga termasuk ke dalam warisan budaya takbenda yang perlu dilestarikan, mengingat perannya yang penting dalam sejarah dakwah Islam di Jawa Barat.
Lagu-lagu yang disajikan
Assalamualaikum
Basmalah
Salawat Nabi
Salawat Badar
Busana
Busana yang dipergunakan oleh para pemain kesenian ini adalah busana yang biasa dipakai untuk ibadah salat seperti memakai kopeah (peci), Baju Kampret atau kemeja putih, dan kain sarung.