Istana Kadriah[1][2] atau Keraton Kadriah[3] adalah istana Kesultanan Pontianak yang dibangun pada dari tahun 1771 sampai 1778 masehi. Sayyid Syarif Abdurrahman Al-qadrie adalah sultan pertama yang mendiami istana tersebut. Istana ini berada di dekat pusat Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Sebagai cikal-bakal lahirnya Kota Pontianak, Istana Qadriah menjadi salah satu objek wisata sejarah. Dalam perkembanganya, Istana ini terus mengalami proses renovasi dan rekrontuksi hingga menjadi bentuk yang sekarang ini.[4]
Sejarah
Keberadan Istana Kadriah tidak lepas dari sosok Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie (1738-1808M), yang masa mudanya telah mengunjungi berbagai daerah di Nusantara dan melakukan kontak dagang dari para Saudagar di berbagai Negara.[5]
Ketika Habib Husein Alkadrie, yang pernah menjadi Hakim agama kerajaan Matan dan ulama terkemuka di Kerajaan Mempawah, wafat pada tahun 1770M, Syarif Abdurrahman beserta keluarganya memutuskan untuk mencari daerah pemukiman baru. sampai pada tanggal 23 oktober 1771M (24 Rajab 1181H), mereka tiba di daerah dekat pertemuan tiga sungai, yaitu sungai Landak, Sungai Kapuas kecil dan Sungai Kapuas. mereka memutuskan untuk menetap didaerah tersebut[6]
Bagian dalam Istana Kadriah Pontianak
Secara historis Istana Kadriah mulai dibangun pada tahun 1771M dan baru selesai pada tahun 1778M. Tak lama setelah Istana selesai dibangun Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadri di nobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak. Dalam perkembanganya, istana ini terus mengalami proses renovasi dan rekonstruksi hingga menjadi bentuk yang sekarang ini.[6]
Bentuk bangunan
Struktur bangunan Istana Kadriah terbuat dari kayu pilihan. Pada bagian depan, tengah, dan kiri depan Istana kita dapat melihat 13 meriam kuno buatan Portugis dan Prancis. Sebuah ruangan berupa mimbar yang menjorok kedepan yang dulunya digunakan Sultan sebagai tempat peristirahatan atau untuk sekadar untuk menikmati keindahan pemandangan sungai kapuas dan sungai landak. di ruangan ini juga kita dapat melihat Genta, sebuah alat yang dulunya dipakai untuk penanda adanya marabahaya. Pada aula utama keraton ini juga terdapat cermin antik dari Prancis yang oleh masyarakat setempat disebut "Kaca Seribu".[7] Di dalam Istana seperti halnya istana-istana melayu lainya yang didominasi oleh warna Kuning. Istana Kadriah juga masih memiliki koleksi benda- benda bersejarah yang cukup lengkap seperti beragam perhiasan yang digunakan secara turun temurun, benda-benda kuno seperti benda pusaka dan artefak, barang pecah belah, foto keluarga Sultan dan arca- arca.[8] Beberapa ruangan pribadi milik keluarga kesultanan juga dibuka untuk umum, walaupun terdapat beberapa larangan ketika pengunjung luar memasukinya.[9]
Masjid Jami Pontianak
Istana Kadriah terletak dalam satu kompleks dengan Masjid Jami Pontianak, yang juga dikenal sebagai Masjid Sultan Syarif Abdurrahman. Kedua bangunan ini merupakan bagian inti dari pusat Kesultanan Pontianak dan didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie pada akhir abad ke-18. Keberadaan istana dan masjid dalam satu kawasan mencerminkan tata ruang tradisional kesultanan Islam Melayu, di mana pusat pemerintahan dan pusat keagamaan terletak berdampingan.
Istana Kadriah berfungsi sebagai kediaman sultan sekaligus pusat administrasi dan pemerintahan Kesultanan Pontianak, sementara Masjid Jami' Pontianak berperan sebagai masjid kesultanan yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan kehidupan keagamaan. Masjid ini digunakan oleh sultan, keluarga istana, serta masyarakat untuk pelaksanaan salat Jumat dan perayaan hari-hari besar Islam.
Hubungan fungsional antara kedua bangunan tersebut mencerminkan peran sultan sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin religius. Dalam konteks Kesultanan Pontianak, legitimasi kekuasaan sultan bertumpu pada integrasi antara otoritas pemerintahan yang dijalankan dari istana dan otoritas keagamaan yang diwujudkan melalui masjid. Oleh karena itu, Istana Kadriah dan Masjid Jami’ Pontianak dipandang sebagai dua elemen utama yang tidak terpisahkan dalam sejarah pendirian dan perkembangan Kota Pontianak.
Akses
Letaknya yang berada di pusat kota memudahkan wisatawan untuk mengunjunginya. Akses ke Istana ini dapat dilalui dengan jalur darat ataupun jalur sungai. Jika menggunakan jalur darat pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat sedangkan jika menggunakan jalur sungai anda dapat menggunakan perahu atau speedboat dari pelabuhanSenghie.[9]