Officially Christianity (primarily Miaphysite Christianity, with a Catholic minority after 1855), Islam (introduced by traders in the 16th century, known locally as nagade gibind, "religion of the traders"), Paganism
Kerajaan Kaffa adalah sebuah kerajaan yang terletak di wilayah yang kini menjadi bagian dari Ethiopia, berdiri dari tahun 1390 hingga 1897 dengan ibu kota pertama di Bonga. Sungai Gojeb menjadi batas utara kerajaan ini, di seberangnya terdapat kerajaan-kerajaan Gibe.[1] Di timur, wilayah suku Konta dan Kullo membentang antara Kaffa dan Sungai Omo. Di selatan terdapat berbagai subkelompok suku Gimira, sementara di barat tinggal masyarakat Majangir. Bahasa asli penduduknya, juga disebut Kaffa, termasuk ke dalam rumpun bahasa Omotik.[2]
Kaffa terbagi menjadi empat subkelompok yang menggunakan bahasa bersama, yaitu Kefficho, yang merupakan bagian dari kelompok bahasa Gonga/Kefoid dalam rumpun Omotik. Di samping penduduk asli, terdapat pula kelompok pendatang seperti para pedagang Muslim Ethiopia dan penganut Gereja Ortodoks Ethiopia. Beberapa kelompok sosial dengan status rendah juga ada, antara lain manjo (pemburu), manne (perajin kulit), dan qemmo (pandai besi). Kelompok manjo bahkan memiliki raja sendiri yang diangkat oleh Raja Kaffa, dan mereka diberi tanggung jawab menjaga kompleks istana serta gerbang kerajaan. Kerajaan Kaffa ditaklukkan pada tahun 1897 dan kemudian dianeksasi ke dalam Kekaisaran Ethiopia.[3]
Wilayah bekas kerajaan ini terletak di bagian selatan dataran tinggi Ethiopia yang subur dan berhutan lebat. Tanahnya sangat produktif dan mampu menghasilkan tiga kali panen dalam setahun.
Sejarah
Kerajaan Kaffa didirikan sekitar tahun 1390 oleh Minjo, yang menurut tradisi lisan menggulingkan dinasti Mato yang telah memerintah selama 32 generasi. Namun, seperti dicatat oleh peneliti Amnon Orent, “tidak ada seorang pun yang mengingat nama satu pun dari raja-raja dinasti itu.” Ibu kota pertama Bonga didirikan atau direbut oleh Bon-noghe. Belakangan kota ini digantikan oleh Anderaccha sebagai pusat pemerintahan, meski Bonga tetap memiliki peran penting.[4]
Pada abad ke-16, Kaisar Abyssinia Sarsa Dengel berhasil meyakinkan kerajaan Kaffa untuk secara resmi menerima agama Kristen sebagai agama negara. Sebagai simbol perubahan ini, Gereja St. George didirikan di Baha, dan bangunannya menyimpan tabot (lempeng sakral) dengan nama Kaisar Sarsa Dengel. Namun, dalam beberapa abad berikutnya pengaruh Abyssinia melemah dan agama Kristen perlahan menghilang dari Kaffa. Meski begitu, Gereja St. George tetap digunakan sebagai tempat ritual laki-laki hingga akhir abad ke-19, saat praktik keagamaan Kristen kembali diperkenalkan.[5]
Mulai masa pemerintahan Raja Gali Ginocho (1675–1710), raja-raja Kaffa memperluas wilayah kekuasaan mereka dengan menaklukkan negara-negara kecil Gimira seperti She, Benesho, dan Majango. Pada masa Raja Tato Shagi Sherocho (1775–1795), wilayah Kaffa meluas hingga mencapai Sungai Omo di tenggara dan hampir mencapai pertemuan Sungai Omo dan Denchya di selatan.[6][7]
Puncak kejayaan Kaffa terjadi pada masa pemerintahan Raja Hoti Gaocho (1798–1821). Menurut tradisi rakyat Kaffa yang dicatat oleh Orent, Raja Hoti Gaocho menaklukkan wilayah yang luas hingga ke Wolleta dan Kambaata. Dikisahkan bahwa pada masa itu pasukan Kaffa menaklukkan semua musuh mereka dan mencapai Wolliso, di mana mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan penaklukan lebih jauh ke provinsi Shewa.