Kerajaan Gumma adalah salah satu kerajaan di wilayah Gibe, Ethiopia, yang muncul pada abad ke-18. Batas timurnya dibentuk oleh aliran Sungai Didessa yang berkelok, yang memisahkannya dari Kerajaan Limmu-Ennarea di timur laut serta kerajaan Gomma dan Gera di selatan. Di sebelah utara wilayahnya terdapat kelompok Oromo Macha, sedangkan di baratnya bermukim kelompok Sidamo. Wilayah kerajaan ini kira-kira mencakup daerah yang kini menjadi woreda Gechi, Borecha, dan Didessa.
Kerajaan ini terletak di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata sekitar 6.500 kaki dan pada tahun 1880 diperkirakan memiliki populasi sekitar 50.000 jiwa.[1] Penduduk Gumma dikenal sebagai masyarakat pejuang yang tangguh. Beckingham dan Huntingford menilai Gumma, bersama dengan Gomma, sebagai kerajaan Gibe yang paling sedikit berkembang secara ekonomi. Namun, Mohammed Hassen mencatat bahwa selain wilayah perbatasan utara dan barat—yang penduduknya terpaksa menjalani kehidupan pastoral akibat serangan berulang dari tetangga mereka, Arjo di utara dan Nonno di barat—sebagian besar wilayah Gumma digarap secara intensif. Tanahnya ditanami berbagai hasil pertanian serupa dengan kerajaan Gibe lainnya, seperti sorgum, gandum, jelai, dan kapas, dengan pengecualian kopi yang tidak ditanam di wilayah ini.[2]
Sejarah
Menurut catatan dinasti yang memerintah di Gomma, garis keturunan mereka berasal dari seorang syekh yang datang dari Mogadishu.[3] Mereka menelusuri asal-usul leluhur mereka kepada seorang tokoh bernama Adam yang diperkirakan tiba di wilayah tersebut sekitar tahun 1770. Adam disebut-sebut berperan dalam penggulingan raja terakhir dari dinasti sebelumnya, Sarborada. Sejarawan Mohammed Hassen menafsirkan tradisi mengenai Adam ini sebagai upaya untuk memberikan legitimasi Islam terhadap pendiri awal dinasti tersebut.[4]
Raja Jawe kemudian memeluk Islam melalui pengaruh para pedagang dari Shewa dan Begemder, dan selanjutnya menetapkan agama tersebut sebagai keyakinan resmi bagi rakyatnya.[5]
Pada tahun 1882, Raja Abba Jubir dari Gumma berhasil mengajak para penguasa Ennarea, Gomma, dan Jimma membentuk sebuah konfederasi yang dikenal sebagai “Liga Muslim” untuk menghadapi ancaman dari sebagian kelompok Oromo Macha, yang kemudian membentuk aliansi tandingan bernama “Liga Empat Oromo.” Meskipun demikian, Liga Muslim awalnya tidak berhasil menghadapi ancaman tersebut karena kurangnya dukungan antaranggota. Setelah Abba Digir, kakak Abba Jubir, ditangkap oleh pihak lawan, bantuan datang dari Ennarea, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan sehingga Abba Jubir terpaksa menegosiasikan gencatan senjata demi pembebasan saudaranya. Tidak lama setelah itu, Abba Jubir melancarkan perang melawan Jimma dan menjarah ibu kotanya, meskipun Gomma dan Limmu-Ennarea turun tangan membantu Jimma.[6]
Walaupun Liga Muslim tidak berhasil mencapai tujuannya, Gumma tetap berperan sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan Islam serta menjadi tempat berlindung bagi tokoh-tokoh yang diasingkan dari kerajaan-kerajaan Gibe lainnya.[7] Kerajaan ini ditaklukkan oleh Kaisar Menelik II pada tahun 1885, tetapi wilayah tersebut masih menunjukkan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial. Firisa, putra raja terakhir Gumma, melarikan diri ke Sudan setelah penaklukan dan kembali pada tahun 1899 untuk memimpin gerakan bersenjata melawan kekuasaan baru. Ia kemudian tertangkap pada tahun 1902 dan dieksekusi di Jimma tidak lama setelah penangkapannya.[8]
Referensi
↑C.F. Beckingham and G.W.B. Huntingford, Some Records of Ethiopia, 1593-1646 (London: Hakluyt Society, 1954), p. lxxix
↑Mohammed Hassen, The Oromo of Ethiopia: A History 1570-1860 (Trenton: Red Sea Press, 1994), pp. 115f
↑J. Spencer Trimingham, Islam in Ethiopia (Oxford: Geoffrey Cumberlege for the University Press, 1952), p. 202
↑This war is the subject of a number of traditional songs Enrico Cerulli collected in his "The folk-literature of the Galla of Southern Abyssinia", Harvard African Studies, 3 (1922), pp. 24-45.
↑Beckingham and Huntingford, Some Records, pp. lxxxvii
↑Hassan The Oromo, p. 160; Cerulli published traditional songs about Firisa's revolt, "The folk-literature", pp. 45-56. However, Trimingham (Islam, p. 202) states the year Firisa was captured and executed is 1901.