Wilayah kerajaan ini sebagian besar berada di lembah bergelombang, dengan populasi yang diperkirakan sekitar 15.000–16.000 jiwa pada tahun 1880. Luas wilayahnya kurang lebih setara dengan daerah administratif modern Gomma. Menurut Beckingham dan Huntingford, Gomma bersama dengan Gumma termasuk kerajaan Gibe yang paling rendah tingkat perkembangan ekonominya.[1] Namun, sejarawan Mohammed Hassen menyebut bahwa masyarakat Gomma dikenal rajin bertani dan memiliki tingkat peradaban yang tinggi.[2]
Di wilayah kerajaan ini juga terdapat dua bukit suci bagi masyarakat Oromo, yaitu Sinka dan Bemba (yang juga dikenal sebagai Kella Egdu Biya, atau “Gerbang Penjaga Negeri”). Bukit-bukit tersebut dihuni oleh para nabi yang, menurut kepercayaan setempat, hidup berdampingan dengan ular-ular besar. Keturunan ular-ular ini dipercaya memiliki kekuatan penyembuhan, sehingga masyarakat Oromo mempersembahkan bir dan darah kambing kepada mereka untuk mengobati penyakit.[3]
Sejarah
Menurut catatan Mohammed Hassen, sumber tertulis mengenai sejarah awal Kerajaan Gomma sangat terbatas dan sering kali tidak konsisten.[4] Beckingham dan Huntingford menelusuri pendirian kerajaan ini kepada seorang tokoh sufi yang dianggap memiliki kekuatan spiritual, bernama Nur Husain atau Wariko, yang diyakini berasal dari Mogadishu. Meskipun keduanya mengemukakan kemungkinan bahwa tokoh ini kerap disamakan dengan Syekh Husein—seorang ulama ternama yang makamnya berada di dekat Sungai Shebelle—mereka mengutip laporan Antonio Cecchi yang menyatakan bahwa makam Wariko terletak di tepi Sungai Didessa dan menjadi situs penghormatan masyarakat setempat.[5]
Hassen menafsirkan tradisi mengenai Nur Husain sebagai cerminan fakta bahwa Gomma merupakan negara pertama di wilayah Gibe yang penduduknya secara keseluruhan memeluk agama Islam.[4] Hal ini sejalan dengan pernyataan Trimingham, yang menegaskan bahwa Gomma merupakan kerajaan Gibe pertama yang masuk Islam, dengan mengutip laporan Mayor G.W. Harris pada tahun 1841 yang menyebut bahwa “di Goma, agama Islam dianut secara universal”.[6]
Hassen menyebut Abba Boke sebagai raja pertama Gomma, sementara Beckingham dan Huntingford berpendapat bahwa gelar tersebut seharusnya diberikan kepada putranya, Abba Manno. Abba Boke berhasil menguasai wilayah Gomma antara Yacci dan Dogaye, dengan pengecualian daerah Qattu. Wilayah tersebut kemudian dianeksasi oleh Abba Manno pada masa pemerintahannya sekitar tahun 1820–1840. Abba Manno dikenal sebagai penguasa yang berperan penting dalam memperkuat pengaruh Islam melalui dukungan terhadap para ulama dan pengembangan tarekat Qadiriyah.[7]
Kerajaan Gomma akhirnya ditaklukkan pada tahun 1886 oleh Beshua Abue atas nama Kaisar Menelik II, sehingga menandai berakhirnya kedaulatan kerajaan tersebut dan integrasinya ke dalam Kekaisaran Ethiopia.
Referensi
↑C.F. Beckingham and G.W.B. Huntingford, Some Records of Ethiopia, 1593-1646 (London: Hakluyt Society, 1954), p. lxxx
↑Mohammed Hassen, The Oromo of Ethiopia: A History 1570-1860 (Trenton: Red Sea Press, 1994), pp. 116
↑G.W.B. Huntingford, The Galla of Ethiopia; the Kingdoms of Kafa and Janjero (London: International African Institute, 1955), p. 82