Kerajaan Gera adalah sebuah kerajaan di wilayah Gibe, Ethiopia, yang muncul pada akhir abad ke-19. Kerajaan ini berbatasan di utara dengan Kerajaan Gumma, di timur dengan Kerajaan Gomma, dan dipisahkan dari Kerajaan Kaffa di selatan oleh Sungai Gojeb. Dengan ibu kotanya di Chala (kemudian Chira), wilayah Kerajaan Gera kira-kira sama dengan woredaGera modern.
Gambaran
Kerajaan Gera terletak di sebuah lembah dikelilingi perbukitan landai dengan kawasan rawa yang luas di bagian utara. Pada tahun 1880, jumlah penduduknya diperkirakan mencapai antara 15.000 hingga 16.000 jiwa.[1] Sistem pertanian di Gera memiliki perbedaan dengan kerajaan-kerajaan Gibe lainnya, khususnya dalam siklus penanaman dan panen jagung.
Gera dikenal sebagai wilayah yang makmur dan subur, terutama karena hasil madunya. Menurut Mohammed Hassen, Gera “adalah, dan masih merupakan, tanah madu yang kaya”, dengan reputasi penghasil madu terbaik di Ethiopia. Terdapat delapan jenis madu yang dibudidayakan di wilayah ini, dan yang paling terkenal adalah madu Ebichaa (berwarna gelap). Dari madu ini dibuat minuman fermentasi tradisional bernama dadhi, yang menjadi minuman khas kalangan bangsawan dan pejabat tinggi di kawasan Gibe. Hassen mencatat bahwa madu Ebichaa yang memiliki cita rasa unggul dan nilai simbolik tinggi menjadi barang monopoli kerajaan.[2]
Selain dikenal karena kekayaan alamnya, Gera juga memiliki makna religius bagi masyarakat Oromo. Di wilayah ini terdapat Gunung Ijersa, yang dianggap suci karena dipercaya sebagai tempat Tuhan akan bersemayam pada saat Hari Penghakiman Terakhir.[3]
Penguasa Gera memegang gelar kerajaan Donacho, yang menunjukkan kedudukan mereka sebagai pemimpin tertinggi dalam sistem monarki tradisional Gibe.[4]
Sejarah
Menurut Beckingham dan Huntingford, terdapat bukti bahwa monarki Gera telah ada sebelum migrasi besar-besaran Oromo pada abad ke-16.[5] Namun, menurut Mohammed Hassen, Gera merupakan yang terakhir muncul dari kerajaan-kerajaan Gibe, dan didirikan oleh Gunji, "seorang pemimpin perang yang berhasil menjadikan dirinya raja" sekitar tahun 1835, tetapi ia meninggal tak lama kemudian.[6] Dinasti ini berakhir dengan pembunuhan Tulu Ganje oleh Raja Oncho dari Gumma. Sebuah dinasti baru kemudian didirikan oleh Abba Baso, yang tidak populer dikalangan rakyatnya. Ia kemudian digulingkan oleh saudaranya, Abba Rago, dan diasingkan ke Jimma.[7]
Menurut Trimingham, kerajaan ini mencapai masa kejayaannya di bawah pemerintahan Raja Abba Magal, yang telah memeluk Islam, meskipun sejumlah rakyatnya masih memeluk agama Kristen. Tidak jelas raja Gibe mana yang bertanggung jawab atas Islamisasi ini: Trimingham mengaitkan keberhasilan tersebut dengan Abba Jubir dari Gumma; sementara Mohammed Hassen mengaitkan dengan Abba Bagibo dari Limmu-Ennarea, yang menawarkan dukungan kepada Abba Magal dalam perebutan takhta jika ia mengizinkan para pendakwah Muslim masuk ke kerajaannya, dan baru kemudian Abba Jubir yang mendukung.[8] Setelah Raja Abba Magal meninggal, istrinya, Genne Fa, bertindak sebagai wali untuk putra mereka. Keduanya kemudian menjadi tawanan di Jimma ketika Gera ditaklukkan oleh Dejazmach Besha Abua pada tahun 1887.[9]
Referensi
↑C.F. Beckingham and G.W.B. Huntingford, Some Records of Ethiopia, 1593-1646 (London: Hakluyt Society, 1954), p. lxxix
↑Mohammed Hassen, The Oromo of Ethiopia: A History 1570-1860 (Trenton: Red Sea Press, 1994), p. 117
↑G.W.B. Huntingford, The Galla of Ethiopia; the Kingdoms of Kafa and Janjero (London: International African Institute, 1955), p. 82