Kerajaan EnnareaBendera Ennarea menurut tradisi lisanWilayah kekuasaan Ennarea sekitar abad ke-15
Ennarea, juga dikenal sebagai E(n)narya atau In(n)arya (dalam bahasa Gonga: Hinnario),[1] adalah sebuah kerajaan di wilayah Gibe yang kini termasuk dalam Ethiopia bagian barat. Kerajaan ini memisahkan diri dari Kerajaan Damot pada abad ke-14 dan menjadi kerajaan terkuat di wilayah tersebut hingga kemundurannya pada abad ke-17. Terletak di bagian barat daya Kekaisaran Ethiopia, Ennarea selama sebagian besar sejarahnya menjadi kerajaan bawahan yang memberikan upeti berupa emas dan budak kepada kaisar. Puncak hubungan ini terjadi pada akhir tahun 1580-an, ketika golongan elit Ennarea memeluk agama Kristen. Sejak akhir abad ke-16, kerajaan ini menghadapi tekanan yang semakin besar dari suku Oromo, yang akhirnya menaklukkan kembali Ennarea sekitar tahun 1610.
Pengetahuan mengenai Ennarea terutama berasal dari tradisi lisan dan beberapa sumber tertulis asing, karena kerajaan ini tidak memiliki tradisi literasi asli.[1]
Sejarah
Sejarah awal
Menurut tradisi lisan, klan kerajaan Ennarea, Hinnare Bushasho, berasal dari Ethiopia utara sebelum menetap di wilayah Gibe. Pada abad ke-9, Raja AksumDigna-Jan disebut telah memimpin ekspedisi ke Innarya dengan diiringi oleh "150 imam yang membawa 60 tabot suci".[2]
Pada abad ke-13, Ennarea tercatat sebagai provinsi yang dikuasai oleh Motalami dari Damot,[3] sebuah kerajaan di selatan Sungai Nil Biru. Sebuah dokumen dari awal abad ke-19 yang membahas sejarah awal Damot dan Ennarea menunjukkan bahwa kedua kerajaan tersebut pernah berada dalam suatu kesatuan politik.[4]
Ekonomi
Ennarea merupakan sebuah kerajaan yang dikenal sebagai pusat perdagangan budak dan emas, dengan sumber daya alam serta manusia yang dieksploitasi secara intensif demi kepentingan para penguasa asing.[5] Kegiatan ekspornya berfokus terutama pada budak dan emas, yang sejak abad ke-14 telah disebutkan dalam berbagai catatan sebagai emas berkualitas tinggi. Pemerintah Kekaisaran Ethiopia diketahui berupaya membatasi akses para pelancong Eropa ke wilayah ini guna mempertahankan monopoli atas perdagangan emas tersebut.[6]
Dalam bidang pertanian, masyarakat Ennarea—seperti kelompok etnis Gonga lainnya—mengandalkan tanaman ensete atau pisang semu sebagai komoditas utama. Tanaman ini memiliki berbagai fungsi, tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai bahan dasar untuk pembuatan mainan dan pakaian. Selain ensete, penduduk setempat menanam berbagai varietas kentang, ubi hitam, serta teff sebagai sumber pangan pokok. Sementara itu, labu diketahui diperkenalkan ke wilayah ini melalui interaksi dengan masyarakat Oromo.[7]