Kerajaan Ambawang (1833–1837 M) [1][2] adalah salah satu kerajaan yang pernah didirikan di kawasan Gunung Ambawang.[1] Pendiriannya dilakukan oleh Syarif Alwi bin Syarif Idrus sebagai bagian dari pemisahan kekuasaan atas Kerajaan Kubu yang kedaulatannya diambil alih oleh Belanda pada tahun 1823 M.[1][3] Pusat pemerintahan Kerajaan Ambawang terletak di Kampung Pasir Putih yang letaknya di lereng Gunung Ambawang.[2] Rakyat Kerajaan Ambawang terdiri dari suku Bugis dan suku Melayu dari Negeri Perak.[2]
Masa pemerintahan Kerajaan Ambawang berakhir pada masa kekuasaan Raja Syarif Khalid yang meninggal pada tahun 1837 setelah pembangunan beberapa permukiman penduduk di wilayah kekuasaannya. Setelah kematian Raja Syarif Khalid, pemerintahan dan wilayah kekuasaan Kerajaan Ambawang digabungkan kembali dengan Kerajaan Kubu.[2]
Pendirian
Pendirian Kerajaan Ambawang pertama kali diusulkan oleh Syarif Alwi bin Syarif Idrus Al-Idrus pada tahun 1800 M.[4] Ia merupakan anak kedua dari Syarif Idrus Al-Idrus yang menjadi pendiri Kerajaan Kubu. Ayahnya meninggal pada tahun 1795 M dan posisinya sebagai Raja Kubu digantikan oleh anak pertamanya yaitu Syarif Muhammad bin Syarif Idrus Al-Idrus.[4] Setelah kematian Syarif Idrus Al-Idrus, Syarif Muhammad bin Syarif Idrus Al-Idrus semakin meningkatkan hubungan perdagangan dengan Belanda yang sebelumnya telah dijalin oleh ayahnya.[5] Sehingga usulan pembentukan Kerajaan Ambawang oleh Syarif Alwi bin Syarif Idrus Al-Idrus ditolak oleh Belanda dan tidak diwujudkan.[6]
Pada pada tanggal 7 Juni 1823 M, Belanda menaklukkan Kerajaan Kubu dan mengakhiri kekuasaan mutlak dari Syarif Muhammad sebagai Raja Kubu. Syarif Muhammad kemudian diminta oleh Belanda untuk menandatangani perjanjian pengakuan kedaulatan Belanda atas Kerajaan Kubu.[3] Penandatanganan perjanjian pengakuan kedaulatan Belanda atas Kerajaan Kubu diprotes oleh rakyat Kerajaan Kubu. Syarif Alwi selaku saudara raja akhirnya memimpin perlawanan terhadap Belanda sebagai protes atas penyerahan kekuasaan Kerajaan Kubu ke pihak Belanda. Ia mengumpulkan rakyat yang mendukung perlawanan terhadap Belanda dan membentuk pasukan di sekitar Gunung Ambawang. Pada tahun 1833, Syarif Alwi mendeklarasikan pendirian Kerajaan Ambawang sebagai kerajaan yang terpisah dari Kerajaan Kubu.[1]
Pemerintahan, rakyat dan wilayah kekuasaan
Pusat pemerintahan Kerajaan Ambawang terletak di Kampung Pasir Putih. Lokasinya berada di lereng Gunung Ambawang. Pemerintahan Syarif Idrus Al-Idrus selaku pendiri Kerajaan Ambawang dibantu oleh seorang menteri kerajaan bernama Ahmad Yamani. Rakyat Kerajaan Ambawang sebagian besar berasal dari suku Melayu dan suku Bugis. Setelah kematian Syarif Idrus Al-Idrus pada tahun 1833 M, kedudukannya sebagai Raja Ambawang digantikan oleh anaknya yang bernama Syarif Khalid.[2]
Syarif Khalid memerintah hingga tahun 1837 M. Selama masa pemerintahannya, beberapa kawasan permukiman dibangun dalam wilayah Kerajaan Ambawang didirikan oleh rakyat dari suku Melayu dan suku Bugis. Suku Melayu yang berasal dari Negeri Perak mendirikan permukiman di Telok Penyengat dengan dipimpin oleh Enci' Kedai. Permukiman ini kemudian diberi nama Teluk Pakedai. Sedangkan suku Bugis di Kerajaan Ambawang mendirikan permukiman yang kemudian dinamakan Desa Tanjung Kuala dan Desa Selat Remis. Sebuah permukiman di Desa Selat Remis juga dibangun untuk salah seorang anak dari Syarif Khalid yang bernama Syarif Zain. Ia juga ditetapkan oleh Syarif Khalid sebagai pemimpin permukiman di Desa Selat Remis.[2]
Keruntuhan dan penyatuan kembali
Pada tahun 1837 M, masa pemerintahan Kerajaan Ambawang berakhir setelah meninggalnya Raja Syarif Khalid di Batavia. Ia kemudian dikuburkan di Kampung Parit Makam, Desa Sungai Bemban. Setelah kematiannya, kekuasaan Kerajaan Ambawang berakhir dan wilayah kekuasaannya digabungkan dengan wilayah kekuasaan Kerajaan Kubu.[2]
Bidang Kebudayaan (2025). Data dan Informasi Kebudayaan Tahun 2025(PDF). Kubu Raya: Dinas Pendidikan dan Kebudayan, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)