Absenteisme adalah pola kebiasaan ketidakhadiran atau kemangkiran dari tugas atau kewajiban tanpa alasan yang jelas. Secara umum, absenteisme mengacu pada ketidakhadiran atau kemangkiran yang tidak direncanakan.[1] Absenteisme telah dipandang sebagai penunjuk kinerja seseorang yang buruk, serta pelanggaran kontrak tersirat antara pekerja dan pemekerja. Hal ini dipandang sebagai masalah manajemen dan dibingkai dalam istilah ekonomi atau kuasiekonomi. Ilmu pengetahuan yang lebih baru berupaya memahami absenteisme sebagai penunjuk penyesuaian psikologis, medis, atau sosial terhadap pekerjaan.
Absenteisme secara umum didefinisikan sebagai ketidakhadiran seseorang dari lingkungan atau jadwal di mana kehadirannya diharapkan, seperti di tempat kerja atau sekolah.
Dampak
Absenteisme biasanya diukur berdasarkan jumlah hari kerja yang hilang atau tidak masuk. Beberapa studi menggunakan ambang tertentu, seperti ≥8 hari tidak bekerja dalam 12 bulan, untuk mendefinisikan absenteisme signifikan.[2][3] Absenteisme dipandang sebagai bentuk perilaku penarikan diri (withdrawal behavior) bersama keterlambatan (lateness) dan turnover, yang mencerminkan ketidakpuasan dan rendahnya komitmen.[4][5]
Penurunan produktivitas. Absenteisme menyebabkan hilangnya waktu kerja produktif, menurunkan output, dan sering memerlukan lembur atau pekerja pengganti—yang dapat menurunkan motivasi dan meningkatkan kesalahan.[6][4]
Konsekuensi ekonomi. Biaya ditanggung oleh pemberi kerja, organisasi, dan karyawan akibat hilangnya produktivitas dan gangguan operasional.[5]
Dampak sosial dan pendidikan. Di sekolah, absenteisme berkaitan dengan pencapaian akademik rendah, lemahnya penguasaan materi, serta meningkatnya risiko putus sekolah.[7]