Osmanoğlu adalah keluarga yang termasuk dalam wangsa Utsmaniyah, yang merupakan keluarga penguasa Kesultanan Utsmaniyah dari tahun 1299 hingga penghapusan Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1922, dan Kekhalifahan Utsmaniyah dari tahun 1517 hingga pembubaran Kekhalifahan pada tahun 1924. Pada tahun 1924, anggota keluarga Osmanoğlu dipaksa mengasingkan diri.[1] Keturunan mereka kini tinggal di banyak negara di seluruh Eropa, juga di Amerika Serikat, Timur Tengah, dan karena mereka kini telah diizinkan untuk kembali ke tanah air mereka, banyak di antara mereka kini juga tinggal di Turki. Anggota perempuan dari dinasti tersebut diizinkan untuk kembali setelah tahun 1951,[1] dan anggota laki-laki setelah tahun 1973.[2] Keluarga tersebut mengadopsi nama keluarga Osmanoğlu, yang berarti "putra Osman".
Kepala keluarga Osmanoğlu sejak 1922
Berikut ini adalah daftar orang-orang yang akan menjadi pewaris tahta Ottoman setelah penghapusan kesultanan pada tanggal 1 November 1922.[2] Orang-orang ini tidak serta-merta mengklaim tahta; misalnya Ertuğrul Osman berkata, "Demokrasi berjalan baik di Turki."[3]
Mehmed VI, Sultan Utsmaniyah terakhir (1918–1922) kemudian Kepala ke-36 Wangsa Osman di pengasingan (1922–1926).[2]
Abdul Mejid II, sepupu Mehmed VI. Khalifah Utsmaniyah terakhir (1922–1924) dan kemudian Kepala Dinasti Osman ke-37 setelah kematian Mehmed VI Vahideddin (1926–1944).[2]
Sejak pergantian abad ke-21, terdapat peningkatan minat terhadap anggota keluarga Utsmaniyah yang masih hidup, baik di Turki maupun di luar negeri.[6]
Pada tahun 2006, anggota keluarga bertemu di Istana Dolmabahçe untuk pemutaran film dokumenter Osmanoğlu'nun Sürgünü (Pengasingan Ottoman) yang diproduksi oleh TRT (Radyo ve Televizyon Kurumu).[7] Dokumenter ini mengikuti kisah para anggota keluarga Ottoman yang mengasingkan diri pada tahun 1924, setelah berdirinya Republik Turki dan dihapuskannya Kekhalifahan Utsmaniyah. Kemudian, film ini mengikuti kisah para keturunan mereka, yang kini tinggal di Turki, Eropa, India, dan Amerika Utara, serta di seluruh Timur Tengah. Liputan yang luas tentang peristiwa ini, dan keberhasilan serial dokumenter ini telah mengangkat profil Keluarga Kekaisaran secara dramatis.[6][8]
Menurut The New York Times, para sejarawan mengatakan bahwa pertunjukan penghormatan pada pemakaman Pangeran Kekaisaran Ertuğrul Osman pada bulan September 2009 merupakan "momen penting dalam rehabilitasi Kekaisaran Utsmaniyah".[9]
Popularitas serial televisi sejarah Payitaht: Abdülhamid tentang Kekaisaran Ottoman telah tumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir di Turki, dan pemerintah Turki di bawah Erdoğan telah mendorong nostalgia terhadap kebesaran bekas kekaisaran, yang kadang-kadang disebut sebagai 'Neo-Ottomanisme'.[10][11]
Wawancara dengan Pangeran Kekaisaran Mahmud oleh Kantor Berita Anatolia diterbitkan di beberapa publikasi di Turki dan Inggris.[12]